
Langit mengepalkan tangannya ke udara. Menengadahkan wajahnya ke atas lalu berteriak penuh frustasi. "Aaarrrggghhh!!"
Semua anak buah Langit hanya terdiam menunduk, melihat atasan mereka seperti itu. Begitupun Samuel dan Franky, yang hanya membiarkan Langit berlarut dalam emosinya. Mereka percaya, Langit pasti bisa mengambil tindakan yang tepat.
"Kau pintar, Lang! Pasti kau dapat memecahkan semua masalah ini. Berbeda denganku yang harus terikat dengan orang itu." Brian berkata dengan tenang. Mencoba memberi dukungan pada Langit.
"Aku harus bagaimana, Bri?" teriak Langit menatap Brian.
"Kau pasti bisa menemukan jawabannya, Lang. Harap kau ingat, kita ini musuh sekarang. Dan jangan kau lupakan, aku yang telah melukai Devan dan nyaris membuatnya meninggal." Brian sengaja berkata seperti itu, agar Langit membenci dirinya. Dan dengan seperti itulah, agar Langit bisa membunuhnya sekarang.
Langit terdiam cukup lama, memikirkan perkataan yang di lontarkan Brian. Lalu dengan cepat ia mendapatkan jawaban yang cukup tepat untuk mereka bertiga. Dan yang pasti, Langit berharap Devan memahami situasi yang di alami oleh Brian.
"Frank, cepat lepas ikatannya. Bawa dia ke ruang D," perintah Langit pada Franky. Membuat Franky dan Samuel tersenyum tipis.
Mereka tahu sifat Langit yang sebenarnya. Meskipun terkesan kejam dan semenanya, Langit tetap mendahulukan hati nuraninya. Dan mereka bangga pada pemimpin mereka yang lebih muda dari mereka. Walaupun masih muda, Langit selalu mengambil langkah yang bijak untuk setiap permasalahan yang ada.
"Maksudmu, apa Lang? Bunuh saja aku! Biar lebih mudah bagimu dan Devan untuk menghancurkan mereka!" bentak Brian. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran Langit. "Jika aku masih hidup, aku akan selalu menjadi racun dalam minumanmu, Lang!" karena Brian selalu di gunakan untuk menyerang organisasi yang Langit pimpin.
"Kau tenang saja, Bri. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi racun lagi. Aku akan menyelamatkanmu dari orang gila itu. Dan kau ikuti saja rencanaku." Langit berkata dengan tenang setelah sukses mengendalikan emosinya.
"Anda mau kemana, Tuan?" tanya Samuel saat Langit beranjak dari ruangan itu.
"Aku mau pulang dulu. Lalu ke rumah sakit menjenguk Devan. Pastikan dokter Anes mengobati luka sahabatku. Jangan biarkan dia kabur!" perintah Langit pada Samuel, lalu melirik ke arah Brian yang sedang di lepas talinya oleh Franky.
"Ck! Kau kira aku hewan peliharaan mu, Lang!" decak Brian tidak suka.
Kemudian mereka tersenyum setelah melewati detik-detik yang menegangkan tadi. Langit kembali menghampiri Brian, memeluk sebentar sahabat lamanya itu. Melepas rindu yang telah lama mereka rasakan.
Setelah sampai di mobil, Langit mengeluarkan benda pipihnya dari dalam saku celana. Lalu mendial salah satu nomor yang tersimpan di benda pipih tersebut.
Panggilan pertama, kedua, ketiga, masih juga belum di jawab dari seberang sana. Membuat Langit merasa kian gelisah. Takut terjadi sesuatu pada orang yang sedang ia hubungi.
Mengingat musuh lama dari organisasi yang ia pimpin kembali menyerang, dengan munculnya Brian di negara ini lagi. Bahkan mereka sudah memerintahkan Brian untuk membunuh orang terdekat Langit, yaitu Devan.
Langit khawatir, bila keberadaan Ayumna yang sebagai istrinya akan terendus oleh musuhnya. Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Aku harus menyembunyikan status pernikahan kami, agar keberadaan Ayumna aman. Batin Langit.
Langit mencoba menghubungi nomor ponsel Ayumna lagi. Ia tidak patah arang untuk menghubungi istrinya. Dan pada saat panggilan ke delapan, barulah Ayumna menjawab panggilan dari Langit.
"Hallo Assalamu'alaikum, Mas," suara Ayumna terdengar merdu di telinga Langit. Sehingga mampu menerbitkan sebuah senyuman yang menawan di bibir lelaki tampan itu.
"Wa'alaikumsalam, Ay."
"Ada apa Mas?" tanya Ayumna dengan nada lembut.
Di tanya seperti itu, membuat Langit kebingungan mau menjawab seperti apa. Karena tadi dia hanya merasa khawatir dan ingin mengetahui keberadaan istrinya saja.
"Apa kamu sudah pulang, Ay?" tanya Langit sembari menggaruk tengkuk lehernya yang dirasa tidak gatel. Karena sadar, pertanyaannya receh banget.
"Sudah, Mas. Tadi sehabis menangani operasi, aku langsung pulang karena memang aku tidak punya jadwal lagi." terang Ayumna.
"Eemm ... Ay....," Langit menjeda perkataannya. Ia menjadi salah tingkah sendiri di dalam mobil.