
"Ay... Apa kamu mengetahui semuanya?" tanya Bryan perlahan.
Ayumna hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Bryan. Bryan mengerti perasaan Ayumna seperti apa. Lalu ia tarik tubuh seksi adiknya itu ke dalam dekapannya. Menuangkan rasa rindu yang lama tak tersalurkan.
Tangis Ayumna pun pecah dalam pelukan Bryan. Ia sangat merindukan kakaknya yang baru bisa ia sentuh. Meski terpisah lama, namun ikatan batin persaudaraan mereka sangatlah kental.
"Kenapa Kakak baru muncul sekarang?" tanya Ayumna di tengah tangisnya. "Kenapa tidak dari dulu Kakak menemui Yumna? Yumna takut Kak... Takut mengahadapi mereka sendiri selama ini. Mereka sangat baik di depan Yumna, Kak. Namun di belakang mereka selalu mencoba meracuni Yumna." Ayumna menceritakan apa yang telah ia alami selama ini pada Bryan.
"Lalu kenapa kamu tidak keluar saja dari rumah itu?" tanya Bryan sembari mengusap puncuk kepala sang adik. Ia merasa menyesal tidak menjemput Ayumna dari dulu.
"Jika aku keluar dari rumah itu, lalu aku harus menemui siapa? Sementara Kakak dari dulu hanya memperhatikan aku dari jauh, tanpa mau menemuiku." ucap Ayumna mengusap air matanya.
"Kamu tau darimana kalau itu Kakak?" pertanyaan yang selama ini terpendam, akhirnya Bryan ungkapkan juga.
"Apa kau pikir aku bodoh? Aku mengenali tanda keluarga kita. Karena dari kecil Mama selalu memberitahuku apa arti tanda itu. Dan hanya ada empat orang memilikinya. Karena tanda itu khusus Papa buat untuk keluarga kita." Ayumna menatap Bryan dengan kesal. Selama ini dia diam bukan berarti tidak tahu apa-apa. Ayumna hanya ingin mengikuti rencana mereka tanpa mereka ketahui.
Bryan terkikik geli melihat ekspresi Ayumna yang merajuk. Momen-momen seperti inilah yang Bryan inginkan. Bisa bersama sang adik yang dari kecil mereka terpisah karena suatu hal. Ia telah melewatkan momen tumbuh kembang Ayumna dari kecil.
"Kalau begitu, ceritakan dari awal bagaimana kamu mengetahui kebenaran tentang kita?" Bryan meraih pergelangan tangan Ayumna. Menautkan jari jemari mereka. Menatap Ayumna dengan intens, seolah takut jika mereka akan terpisah kembali.
Ayumna menarik nafas panjang, kaku menghembuskannya dengan pelan. Bisa menatap sang kakak dari dekat seperti ini, sedikit mengobati rasa sakit hati Ayumna selama ini terhadap orang yang berada di dekatnya.
Waktu itu di pemakaman orang tua mereka.
Flashback On
Di rumah sakit Aditama, terlihat seorang gadis yang masih menggunakan seragam sekolahnya, menangis sesenggukan di depan ruangan IGD. Dia tidak menghiraukan orang disekitarnya. Yang gadis itu mau, segera masuk ke dalam ruangan itu dan menemui kedua orang tuanya yang mengalami kecelakaan tunggal.
Gadis tersebut terus saja menangis, meremas kain roknya yang sedikit kusut. Beberapa menit berjalan, terbukalah pintu ruangan IGD itu, dan gadis remaja yang menangis tadi langsung berdiri. Menghapus air matanya, lalu menatap nanar pada lelaki paruh baya yang mengenakan seragam putih dengan Stetoskop yang mengalung di leher orang tersebut.
"Bagaimana Dok, orang tua saya? Mereka baik-baik saja kan?" tanya gadis yang bernama Ayumna itu.
Pertanyaan Ayumna sangatlah tidak masuk akal jika dipikir secara logika. Bagaimana orang yang terjun ke jurang dengan keadaan tubuhnya setengah terbakar, bisa di bilang baik-baik saja.
Dokter itu terdiam, dan itu membuta Ayumna meremas kerah jas putih yang sedang dikenakan oleh dokter tersebut.
"Dok...bagaimana dok keadaannya?" air mata Ayumna kembali mengalir dengan deras, saat dokter itu tetap terdiam dan menatapnya sendu. Terpancar rasa kasihan terhadap Ayumna.
"Maaf, Nak. Saya dan tim sudah bertindak secepat mungkin. Namun takdir berkata lain. Orang tuamu...,"
Maaf, baru bisa up🙏