Touch Me, Hubby

Touch Me, Hubby
Kamu Menggodaku



"Bukan begitu maksudku, Ay!" Langit terlihat frustasi menghadapi istrinya.


"Terus?" Ayumna menundukkan kepalanya menatap curiga terhadap lelaku yang telah memilikinya seutuhnya itu.


"Kamu tidak cemburu, gitu?" Langit masih setia menggendong tubuh Ayumna. Bahkan sesekali saat di rasa sepi, ia menelusup kan wajahnya di dua aset milik Ayumna.


"Cemburu?" ulang Ayumna. "Karena apa, Mas? Dan dengan siapa?" Ayumna balik bertanya sembari mengalungkan kedua lengannya di leher Langit.


"Dengan wanita tadi!" kesal Langit.


"Aku tau, kamu tidak akan bisa berpaling sedikit pun dariku, Mas," Ayumna tersenyum miring saat mengatakan itu.


"Yakin?" Langit menaikkan alisnya sebelah. Seolah tidak membenarkan perkataan yang Ayumna lontarkan padanya.


"Emang Mas mau selingkuh?" Ayumna memicingkan matanya. Menatap tajam mata Langit.


Langit terkekeh geli melihat ekspresi yang di perlihatkan Ayumna. Langit menurunkan Ayumna, namun kaki Ayumna belum benar-benar menyentuh lantai. Ia sempatkan untuk menempelkan bibirnya ke bibir Ayumna lalu dengan secepat kilat menghisap kulit leher jenjang milik istrinya tersebut.


"Sudah, ah! Jangan main-main terus. Aku mau kerja dulu, Mas bisa kan ke ruangan Devan sendiri? Karena jadwal operasi ku sebentar lagi," ucap Ayumna setelah turun dari gendongan Langit. Kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sebelah kiri.


Langit mencekal Ayumna, sesaat istrinya itu ingin melangkah meninggalkan dirinya. Sontak, Ayumna menoleh ke belakang seraya bertanya.


"Ada apa lagi, Mas?" Ayumna merasa jengah dengan sikap Langit yang sangat posesif.


"Begitukah cara kamu pamit pada suamimu, Ayumna Natakusuma?" geram Langit karena tidak dapat kecupan perpisahan sebelum dirinya di tinggal kerja oleh Ayumna.


Ayumna memutar bola matanya. Bukannya sedari tadi suaminya itu terus menerus mencuri kecupan di bibirnya? Kenapa sekarang malah bersikap seperti ini? Tidak mau menambah masalah yang akan merugikan dirinya nanti, Ayumna meraih tangan Langit lalu mencium punggung tangan suaminya tersebut.


"Aku kerja dulu ya, Hubby. Assalamu'alaikum," bisik Ayumna dengan nada yang di buat se-sensual mungkin. Membuat tubuh Langit menegang seketika.


Ayumna tersenyum puas bisa menggoda suaminya. Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan kerjanya. Ia letakkan tas jinjingnya di atas meja lalu memakai jas putih kebanggan semua orang yang berprofesi sebagai dokter.


Setelah mendudukkan pinggulnya di kursi empuknya, tangan Ayumna mulai membuka berkas yang ada di atas mejanya. Membacanya dengan teliti kertas putih tersebut, yang berisi tentang semua info pasiennya yang akan ia operasi setelah ini.


Ayumna mempelajari sebentar, lalu memanggil Shinta untuk masuk ke dalam ruangannya melalui sambungan telepon yang terletak di atas mejanya.


"Shin, bisa kamu masuk sebentar ke ruanganku?" tanya Ayumna kemudian menutup sambungan telepon itu setelah mendapat jawaban dari Shinta.


Tidak lama kemudian, Shinta mengetuk pintu ruangan Ayumna, lalu masuk setelah di sahuti oleh Ayumna.


"Ada yang bisa saya bantu, Dok?" tanya Shinta dengan sopan.


"Apa kamu masih menyimpan berkas-berkas tentang pasien yang bernama Devan?" tanya Ayumna langsung. Ia ingin mengetahui sejauh mana kesehatan Devan berkembang.


"Tidak, Dok. Karena semuanya sudah saya serahkan pada Dokter Lucas yang bertanggung jawab atas pasien tersebut," jawab Shinta.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti aku akan tanya sendiri pada Dokter Lucas. Pukul berapa jadwal operasi pasien yang aku tangani setelah ini?" tanya Ayumna.


"Kurang dari tiga puluh menit lagi, Dok. Semua perlengkapan yang Dokter butuhkan sudah saya siapkan," kinerja Shinta memang tidak bisa di ragukan lagi. Ia cepat tanggap apa yang di butuhkan Ayumna.


"Ya sudah, Shin. Terimakasih, kamu boleh keluar dulu."


Setelah Shinta menutup pintu ruangan Ayumna, terdengar nada dering dari ponsel Ayumna. Ayumna tersenyum saat tau siapa yang tengah menghubunginya sekarang.


Jangan lupa like setiap part nya ya!