
"Siapa dia Kak?" tanya Ayumna sembari menatap kearah Bryan dengan tatapan tidak mengerti.
Bryan tersenyum lalu mengusap puncuk kepala sang adik. Menatap kedua wanita yang sangat ia sayangi secara bergantian. Kemudian baru menjawab pertanyaan Ayumna.
"Dia kekasih Kakak, Ay. Namanya Casandra." Bryan memperkenalkan Casandra dengan wajah yang bahagia. Karena kini ketakutan yang selama ini ia rasa, ketakutan akan penolakan dari Ayumna, kini sirna sudah. Di saat Ayumna menerimanya meskipun sedikit merasa kesal padanya.
"Calon Kakak ipar kamu, Ay." bisik Casandra disertai kekehan kecil.
"Aku berdoa untuk itu, Kak." jawab Ayumna juga ikut tertawa.
Marko yang melihat adegan itu, juga ikut merasa bahagia. Kakak beradik yang terpisah lama, kini bisa bersama kembali. Marko kemudian ikut menghambur kearah mereka bertiga dan memeluk mereka secara bersamaan. Dan hasilnya mendapat pukulan dari Bryan.
"Jangan mengambil keuntungan dari sebuah kesempitan yang ada, Mark!" sarkas Bryan sambil memukul kepala Marko.
"Aduh! Sakit, Bry!" pekik Marko sambil memegang kepalanya. Sedangkan Ayumna dan Casandra tertawa bersama.
"Itu biar kamu nggak ngelunjak, jadi temen Mark!" Bryan kembali mengangkat tangannya dan ingin memukul Marko lagi. Namun dengan cepat Marko berdiri dan menghindar.
Dan terjadilah kejar mengejar. Hal yang sudah lama tidak pernah mereka lakukan semenjak hari penculikan itu terjadi. Marko dulu juga tinggal di Surabaya. Menjadi sahabat Bryan dari kecil. Namun setelah Bryan di culik, selang beberapa tahun Marko juga pindah ke Jakarta.
Niatnya mencari keberadaan Bryan, ia sangat merasa kehilangan dan berharap bisa menemukan Bryan kembali. Karena hubungan mereka bisa dibilang lebih dari sekedar sahabat.
Dan takdir pun berpihak pada Marko. Setelah sampai di Jakarta, Marko menyewa rumah dan kebetulan satu komplek dengan Arya, papanya Ayumna dan Bryan. Dari situlah Marko menjalin hubungan baik lagi dengan keluarga Arya, dan juga selalu menemani Ayumna kecil bermain. Mereka pun juga menjadi semakin akrab. Seperti kakak dan adik.
"Iya, Ay. Kenapa? Masih kangen sama Kakak?" goda Bryan dengan menaikkan satu alisnya.
"Apasih!" Ayumna mencebik seraya memukul pelan bahu Bryan. Bryan pun terkekeh melihat Ayumna menampilkan wajah cemberut seperti itu.
"Di mana Mama dan Papa sekarang?" tanya Ayumna to the point.
Semua orang yang mendengar pertanyaan Ayumna, tiba-tiba saja tersedak berjamaah. Termasuk Bryan sendiri. Karena mereka bertiga mengetahui keberadaan orang tua Ayumna, kecuali Ayumna.
"Maaf, Ay. Kakak belum bisa memberitahukan keberadaan mereka padamu untuk sementara ini." ucap Bryan dengan hati-hati. Karena takut jika Ayumna merasa kecewa. Semua ini untuk keselamatanmu, Ay. Batin Bryan.
"Kenapa Kak?" tanya Ayumna tidak mengerti. Kenapa dirinya tidak boleh mengetahui keadaan orang tuanya. Orang tua yang selama ini ia rindukan.
"Kamu sudah tau alasannya, Ay. Kamu bahkan sudah pernah terancam kan, saat mencoba mencari tau lebih lanjut siapa orang yang di makamkan waktu itu?" ingat Bryan agar Ayumna berhenti mencari keberadaan orang tuanya saat ini.
Ayumna kembali mengingat kejadian itu. Ia memang pernah hampir tertabrak truk saat ingin mengejar orang yang dia yakini tau tentang siapa pengganti orang tuanya yang di kubur itu.
"Lalu kenapa kamu kesini malam-malam dengan membawa tas besar itu?" tanya Bryan sambil menunjuk ke arah tas milik Ayumna yang tergelatak di ujung ruangan tersebut. Bryan mencoba mengalihkan topik.
"Ah, itu....," Ayumna gelagapan saat mau menjawab. Ia menggaruk kepalanya seraya berfikir jawaban apa yang pas untuk ia berikan pada Bryan.
Jangan lupa like serta kasih gift😘