
Sementara itu di tempat lain, Dirga menerobos ruangan dokter uang membantu Ayumna bersalin. Dirga melangkahkan kakinya nya masuk ke dalam ruangan tersebut dan menguncinya dari dalam.
Dokter Ayu tersentak kaget, saat melihat Dirga berjalan mendekat ke tempatnya duduk.
"Kenapa Anda masuk ke dalam ruangan ini, Tuan?" tanya dokter Ayu berusaha bersikap tenang. Meskipun hatinya merasa gelisah dan khawatir akan suatu hal yang akan terjadi ke depannya.
Dirga tersenyum miring menatap dokter Ayu yang bersikap tegar dihadapannya. Namun tidak dapat dokter Ayu tutupi dari mata seorang Dirga kalau dia sebenarnya sedang gugup. Dan Dirga tahu itu.
"Kau sembunyikan dimana anakku?" tanya Dirga dengan menatap intens mata dokter Ayu. Membuat dokter Ayu mengalihkan tatapannya.
"Anak siapa? Aku tidak mengerti," jawab dokter Ayu mencoba biasa saja.
"Ck! Kau tidak bisa membohongi ku, Ayu! Aku tahu, karena kesalahan kita pada malam itu, benih yang aku taburkan pada rahimmu itu bertumbuh menjadi janin. Dan pasti dia sekarang menjadi seorang putri yang sangat cantik." ucap Dirga mengingat kejadian suatu malam yang terjadi diantara mereka.
Hati dokter Ayu begitu sesak, mendengar orang yang sangat dia benci itu mengatakan bahwa anak yang selama ini dia kandung dan ia rawat sendiri, diklaim sebagai anak dari lelaki bajingan semacam, Dirga Bagaskara.
"Dia bukan anakmu, Dirga!" sarkas dokter Ayu. Dia begitu geram dengan Dirga yang dulu menodai dirinya.
Dan itu semakin membuat senyum Dirga mengembang. Sebentar lagi, dia bisa menemui putrinya yang selama ini disembunyikan oleh Dokter Ayu.
Bukan hal sulit bagi Dirga untuk menemukan dimana putrinya berada. Namun dia tidak mau membuat putrinya akan semakin benci dengan dirinya. Apalagi dia juga bersalah kepada dokter Ayu. Dirga telah menodai dokter Ayu, yang merupakan teman masa kecilnya juga, namun tidak sebegitu dekat seperti Arya dan Dion.
Dirga mengerti kekhawatiran yang dirasakan oleh dokter Ayu saat ini. Dia akan menebus semua kesalahan yang telah ia lakukan dimasa lalu.
"Kamu jahat, Dirga! Jahat!" pekik dokter Ayu, tangannya memukul-mukul tubuh Dirga.
Dokter Ayu semakin terisak, badannya gemetar merasakan rasa sakit yang selama ini ia menghantui dirinya.
Tidak mudah baginya, mengandung serta melahirkan seorang anak dengan status single. Namun tidak mungkin baginya untuk menggugurkan janin yang ada di dalam kandungannya. Karena janin tersebut dari orang yang dia cintai dalam diam.
Dan bodohnya dokter Ayu, sampai sekarang dia masih menyimpan rasa itu rapat-rapat di dalam hatinya. Pada orang yang kini berada di hadapannya.
Tangan Dirga menarik tubuh dokter Ayu dalam dekapannya. Dia tahu betul sesakit apa perasaan dokter Ayu. Namun dulu, di hati Dirga hanya ada Shakki, meskipun sampai sekarang Shakki masih menempati tempat di dalam hatinya. Namun bukan lagi rasa cinta untuk sebagai pasangan, melainkan untuk sahabat.
"Kita mulai dari awal, Ayu," ucap Dirga sembari mengusap puncak kepala dokter Ayu. "Dan kita hidup bahagia bersama putri kita," tak terasa air mata Dirga jatuh saat membayangkan akan hidup bersama putrinya yang belum pernah dia sentuh. Dirga hanya mengamati putrinya itu dari jauh dulu, sebelum dokter Ayu membawa pergi putri mereka ke suatu tempat terpencil.
Dirga mengusap pipi dokter Ayu yang basah karena air mata, lalu mengecup lembut mata dokter Ayu yang mampu meneduhkan hatinya. Kemudian tersenyum tampan ke dokter Ayu, membuat dokter Ayu tersipu malu, seperti seorang remaja yang tengah ditatap kekasihnya.
"Dimana Tisha sekarang, Yu?" tanya Dirga lembut.
"Darimana kau tau namanya, Tisha?" dokter Ayu kaget karena Dirga mengetahui nama putrinya.
"Aku Ayahnya, Yu. Jangan kau lupakan itu," ucap Dirga kembali mengecup kening dokter Ayu.
Akhirnya, Om Dirga menemukan jodohnya🤧