Touch Me, Hubby

Touch Me, Hubby
Penuh Dengan Pertanyaan



Setelah pulang dari menjenguk Ayumna. Wanita paruh baya yang bernama Eva itu membanting tasnya ke sofa panjang di depannya. Dia terlihat sangat marah.


"Sial! Kenapa bisa anak itu masih hidup!" teriaknya. Sementara suaminya masih belum mengerti arah pembicaraan sang istri.


"Apa yang kamu maksud, Ma?" tanya pria paruh baya yang bernama Adi.


Eva menatap tajam ke arah suaminya. Dia benar-benar geram dengan sifat suaminya yang lambat menyadari sesuatu.


"Apa Papa tidak ingat siapa pemuda tadi? Dia bukan Nathan, Pa! Tapi dia Bryan. Bryan Natakusuma! Anak yang Papa culik waktu masih kecil dan Papa buang ke dasar jurang itu!" teriak Eva marah pada suaminya.


Bagaimana bisa, anak kecil yang telah lama meninggal sekarang ada di hadapan mereka. Padahal dulu Adi sudah melemparnya ke dasar jurang. Dan tidak mungkin untuk anak kecil itu selamat.


Adi terdiam, mencoba mengingat kejadian beberapa tahun silam. Kejadian paling kelam baginya. Menculik keponakannya sendiri. Namun dia tidak tega untuk membunuh anak dari adik kandungnya. Lalu Adi menjualnya pada orang paling kaya di salah satu negara besar. Tentu saja itu tidak diketahui oleh Eva, istrinya.


"Kita harus segera menyusun rencana lain, Pa." ucap Eva. Rencana yang telah tersusun rapi, kini berantakan dengan hadirnya Bryan yang ternyata masih hidup.


Namun, mengingat orang tua Ayumna pasti akan datang, membuat bibir Eva tersenyum merekah. Akhirnya, setelah sekian lama kita akan bertemu, Sayang. Batin Eva. Dia sangat bahagia akan bertemu dengan orang yang paling dia cintai sampai detik ini.


Sementara itu di bandara, Bryan di temani dengan Samuel sedang menunggu kedatangan seseorang. Mereka memakai masker, kacamata hitam dan juga jaket hitam. Tidak lupa pula topi yang melekat di kepala mereka.


Bukan karena apa mereka berpakaian seperti itu. Sebelum mereka berangkat, Franky mengingatkan mereka untuk menutup jati diri mereka. Terutama Bryan. Karena Franky yakin, orang yang ingin Ayumna celaka itu pasti juga menginginkan nyawa Bryan.


Setelah menunggu beberapa menit sambil menikmati kopi, mereka melihat kedatangan orang yang mereka tunggu.


Terlihat orang tua Bryan yang tak lain adalah Arya Natakusuma dan Shakki Gauri, berjalan menuju ke arah mereka.


"Apa kabar anakku? Apa kau masih tetap dengan kesendirian mu?" itulah sapaan pertama kali yang Arya ucapkan pada Bryan. Membuat Bryan mendengus kesal. Lalu dia memeluk sebentar Arya dan kemudian berpindah pada mamanya, Shakki Gauri.


"Apa kabar, Ma?" sapa Bryan dengan nada lembut. Bryan memeluk erat mamanya. Berbanding terbalik saat dia memeluk Arya barusan.


"Kamu sendiri bagaimana, Sayang?" Shakki berbalik bertanya pada Bryan. Mengusap lembut wajah tampan putranya yang juga sempat terpisah lama dengannya.


"Bryan baik-baik saja, Ma." jawab Bryan.


Dirga melihat pemandangan keluarga yang melepas rindu itu dengan senyum merekah. Dia teringat pada Langit yang sudah lama tidak bertemu.


Lalu Bryan menoleh pada Dirga, sosok yang sangat dikenali oleh Samuel. Bryan memeluk Dirga dengan penuh kasih.


"Bagaimana dengan penyakit Ayah? Apa bertambah parah?" tanya Bryan pada Dirga. Membuat mata Arya melotot tidak terima.


"Hei, Boy! Kenapa kau lebih mengkhawatirkan bajingan ini, daripada Papamu sendiri?" protes Arya tidak terima. Bryan tak menghiraukan Arya. Membuat Arya menarik kuping Bryan dengan geram.


Dan mereka pun terkekeh, kecuali Samuel. Dia tidak paham dengan apa yang matanya lihat sekarang. Di kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia tidak tahu jawabannya.


"Apa kau akan tetap diam, Sam? Tidak ingin menyambut kedatangan ku?" tanya Dirga membuat Samuel sadar akan lamunannya.


Berikan dukungan untuk cerita ini. Agar aku lebih gila lagi untuk Up setiap harinya😂