Touch Me, Hubby

Touch Me, Hubby
Bingung



Bibir Langit terangkat ke atas, kala mendengar ucapan Nadia. Lalu mengangkat tangan kanannya, membelai puncak kepala gadis yang berusia kisaran lima belas tahun tersebut.


"Memang kamu tau siapa aku?" tanya Langit menatap gadis yang wajahnya masih terlihat kesal.


Nadia mengangkat wajahnya, menatap sebentar wajah Langit lalu menjawabnya dengan nada yang masih kesal.


"Aku tidak tau Kakak itu siapa, tapi yang aku lihat Kak Yumna menggandeng tangan Kakak. Bahkan dulu saat Kak Gio datang ke sini, Kak Yumna tidak pernah tuh, menggandeng tangannya. Dari situ aku tau, bahwa Kakak orang yang dekat dengan Kak Yumna. Benar, kan?" jawab Nadia enteng. Bahkan ia sempat mengucapkan nama Gio di kalimatnya.


Langit tersenyum tipis, entah ia harus senang apa marah, saat mengetahui bahwa dulu Gio pernah ke sini. Tapi ia juga merasa senang saat mendengar Ayumna tidak pernah menggandeng tangan Gio, saat Gio datang ke rumah sakit ini. Kemudian, Langit mencondongkan wajahnya ke depan, tepat di sebelah telinga gadis itu.


"Bukan hanya dekat, tapi kita sepasang suami istri," bisik Langit membuat Nadia hampir berteriak namun, tertahan karena jari telunjuk Langit langsung ia tempelkan di bibir gadis tersebut.


Nadia yang mengerti isyarat itu, mengangguk pelan tanda mengerti.


"Ya sudah, Kakak pamit dulu ya, Nad? Nanti Kakak ajak kamu jalan-jalan ke taman biar nggak jenuh berada di rumah sakit terus," ucap Ayumna memutuskan percakapan mereka.


Tidak lupa pula Ayumna menoleh ke belakang, menundukkan kepalanya pada wanita yang menggoda Langit tadi. Serta mengatupkan kedua tangannya, mengisyaratkan tanda minta maafnya tanpa mengucap sepatah kata pun.


Dan apa yang di lakukan oleh Langit? Ia tetap tidak peduli dengan wanita itu. Bahkan tidak mau menatap nya. Langit kemudian menautkan jemarinya pada jemari Ayumna, lalu menarik Ayumna untuk segera pergi dari sana dan menuju ke ruangan dimana Devan di rawat.


Di saat mereka melewati koridor yang menuju ruangan VVIP yang di sediakan oleh rumah sakit Prayoga, Langit menarik pinggul Ayumna lalu mencium bibir istrinya itu sekilas, saat Ayumna reflek menoleh ke arahnya.


"Marah untuk apa, Mas?" Ayumna berbalik bertanya pada Langit.


"Jelas-jelas ada wanita yang menawarkan dirinya untuk jadi yang ke dua, yang itu artinya mau menjadi madumu, Ay! Kamu tidak sedikit pun cemburu, gitu?" tanya Langit menatap lekat istrinya, menanti jawaban paa yang akan di ucapkan oleh istri seksinya itu.


"Memang Mas mau sama dia?" bukan jawaban yang di harapkan okeh Langit yang di ucapkan Ayumna. Ia malah mengucapkan pertanyaan polosnya. Membuat Langit menepuk dahinya sendiri.


Langit menundukkan tubuhnya, lalu melingkarkan kedua lengan kekarnya di bawah semangka Ayumna yang membuat Langit terbang melayang beberapa malam terakhir ini. Kemudian Langit mengangkat tubuh seksi istrinya itu di pangkuan tangannya. Hingga kini wajah Langit berada tepat di depan dua aset milik Ayumna yang sudah di stempel kepemilikan oleh Langit.


"Mas! Turunin aku. Malu kalau ada yang liat, ini rumah sakit, Mas!" pekik Ayumna tertahan karena tidak mau mereka menjadi pusat perhatian. Meski ada beberapa pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua.


"Aku terkadang bingung, kenapa aku bisa mendapat istri yang seperti ini?" Langit mengangkat kepalanya menatap Ayumna yang tengah menahan malu.


"Seperti ini gimana maksudnya, Mas? Mas menyesal telah melanjutkan pernikahan yang di awali sebuah kesalahan ini?" tanya Ayumna dengan wajah di tekuk.


"Bukan begitu maksudku, Ay!" Langit terlihat frustasi menghadapi istrinya.


Jangan lupa, like, vote serta kasih bunga😂