Touch Me, Hubby

Touch Me, Hubby
Mengikuti Alur



"Maaf, Nak. Saya dan tim sudah bertindak secepat mungkin. Namun takdir berkata lain. Orang tuamu...," dokter yang bernama Bagas tersebut tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia tak mampu melihat remaja yang tengah menangis di hadapannya.


Dokter Bagas meraih bahu Ayumna, menatapnya dengan tatapan teduh. Berusaha menyalurkan kekuatan pada remaja itu.


Ayumna langsung menangis histeris. Dia sudah bisa menyimpulkan perkataan dan sikap dokter itu, kalau orang tuanya tidak bisa diselamatkan.


Cukup berat baginya, membayangkan menjalani hidupnya tanpa kedua orang tuanya. Sementara orang yang selama ini ia cari, tidak kunjung menemuinya.


"Saya boleh masuk, Dok?" pinta Ayumna dengan tatapan memohon. Meski tidak se-histeris seperti tadi, air mata Ayumna tidak kunjung surut.


Ayumna segera masuk ke dalam ruangan yang terdapat kedua orangtuanya di dalam. Ayumna melangkah pelan, setelah menutup pintu ruangan tersebut.


Ayumna menatap mayat yang terbujur kaku itu dari jauh, sebelum ia sampai di tengah-tengah mayat kedua orang tuanya.


Dengan tangan gemetar, Ayumna mencoba membuka kain berwarna biru muda yang menutupi tubuh kaku kedua orang tuanya.


Ayumna membuka kain itu bersamaan. Ia arahkan ke bawah, hingga tepat di leher bagian bawah mereka.


Begitu terkejutnya Ayumna saat melihat wajah kedua orang tuanya yang menghitam. Nyaris tidak ia kenali sama sekali. Kemudian Ayumna ingat, tanda yang di buat oleh papanya dulu yang menandakan kalau orang yang mempunyai tanda tersebut adalah keluarga Arya Natakusuma. Dan tanda itu hanya di ketahui oleh mereka berempat. Orang yang memiliki tanda itu sendiri.


Dengan tangan yang gemetar, Ayumna menyibakkan kain yang menutupi tubuh jasad itu sampai ke bahu. Ayumna angkat sedikit bahu sebelah kanan jasad tersebut. Lalu memeriksa sesuatu di bahu bagian belakang.


Ayumna merasa lega, karena tanda yang ia cari tidak terdapat pada tubuh jasad tersebut. Kemudian Ayumna beralih pada jasad yang katanya sebagai ibunya. Ayumna melakukan hal yang sama, dan hasil yang sama juga ia dapat.


Meski mengetahui kebenaran bahwa yang meninggal bukanlah kedua orangtuanya, Ayumna tetap melanjutkan proses pemakaman untuk jasad yang entah tidak ia kenali dengan layak.


Saat di pemakaman, Ayumna lebih memilih tinggal lebih lama lagi di antara nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuanya.


"Sayang, ayo kita pulang. Mulai dari sekarang, kamu tinggal sama Bibi dan Paman, ya?" ucap Wulan, kakak dari Lusi, ibu Ayumna.


"Yumna mau di sini dulu, Bi. Nemenin Papa sama Mama sebentar. Nanti Yumna pulang naik taxi saja." Ayumna menolak ajakan Bibinya dengan halus. Entah mengapa, Ayumna merasa kurang nyaman berdekatan dengan mereka.


Akhirnya bibi dan paman Ayumna pergi dari pemakaman tersebut, setelah lelah membujuk Ayumna umagar segera pulang namun tak ditanggapi.


Sedari awal proses pemakan itu berlangsung, Ayumna menyadari jika ada orang yang tengah memperhatikan proses pemakaman itu dari jauh.


Ayumna berpura-pura sangat terpuruk karena kepergian orangtuanya. Ayumna mengeluarkan bakat aktingnya yang selama ini ia pelajari dari mamanya yang selalu mendramatisir keadaan.


Dirasa orang berpakaian hitam yang sedari tadi melihat ke arah makam orang tuanya itu pergi, baru Ayumna beranjak dan melangkah kan kakinya membawa menjauh dari makam tersebut.


Namun saat sampai di pintu keluar makam, Ayumna meraba tubuhnya yang seperti ada sesuatu yang terlepas dari tubuhnya.


Dan benar saja, ponsel yang ada di saku celananya itu tidak ada. Lalu Ayumna membawa kakinya kembali melangkah ke dalam pemakaman tersebut. Saat hendak mendekat, Ayumna melihat ada seorang lelaki yang tengah duduk di samping makam orang tuanya. Lebih tepatnya orang yang dibayar seseorang untuk menggantikan orang tuanya.


Hai, Haiiii..... jangan pada ngumpat ya. Ikuti saja alurnya, simak aja dulu biar tau pokok permasalahannya. oh ya, jika kalian ingin ngobrol santai dengan aku yang manis ini, kalian bisa gabung di Grup Chat aku, okey😉