
Orang yang mencegah Langit, barusan memberi kode bahwa semuanya aman. Langit pun melangkah mendekat, begitu juga dengan para bawahannya yang lain. Mereka segera mengeluarkan Simon dan juga dua orang yang terduga pelaku pelanggaran.
"To-tolong....," lirih seorang lelaki yang duduk di jok belakang bersama dengan seorang perempuan.
Kondisi mereka terluka sangat parah. Bahkan seorang perempuan yang duduk di samping lelaki itu tidak sadarkan diri, dengan kondisi bersimpuh darah di sekujur tubuhnya. Terutama bagian kepalanya.
Langit mencoba menolong seorang lelaki yang berucap minta tolong barusan. Sementara Simon sudah di bawa keluar oleh Franky. Dia tidak terlalu terluka parah, karena Simon selalu memakai baju berlapis baja di balik baju kasualnya. Dan tentunya harga dari baju Simon, tidak sanggup aku bayangkan.
Sedangkan perempuan yang tidak sadarkan diri, segera di beri pertolongan pertama oleh tim medis. Tentu saja, mereka semua adalah bawahan Langit, sekarang. Karena organisasi yang bernama Black Leon sudah menjadi di bawah kuasanya.
"Kamu!" pekik lelaki yang terluka di sekujur tubuhnya itu. Namun tidak separah seorang perempuan tadi. Ia tersentak kaget saat melihat Langit yang ada di hadapannya.
Langit menajamkan tatapannya, menatap lekat wajah lelaki paruh baya tersebut. Apakah dia kenal orang itu atau tidak? Belum sempat ia menemukan jawabannya, lelaki itu meraih pergelangan tangan Langit. Menggenggamnya begitu erat, seakan meminta perlindungan pada Langit.
"Apa Tuan mengenal saya?" tanya Langit. Ada rasa iba di dalam tatapannya.
"Tuan kenal dengan keluarga saya?" Langit terkejut, ada yang mengenali dirinya sebagai keponakan dari Dirga Bagaskara. "Dan apa Tuan juga sadar apa yang telah Tuan perbuat?" lanjut Langit. Lalu membantu lelaki itu merebahkan tubuhnya di atas tandu.
Lelaki itu tidak pernah melepaskan tangan Langit. Bahkan tangannya gemetar saat melihat begitu banyak orang berpakaian serba hitam. Ia teringat kejadian satu bulan lalu yang di culik bersama istri, dan di ancam putrinya akan dibunuh jika tidak menurut. Namun, orang yang menculiknya dulu memakai penutup wajah. Sehingga lelaki itu tidak mengenali siapa yang membawanya. Saat itu, Arya hanya memikirkan keselamatan putrinya.
"Tanyakan saja pada Papa mu, Dion. Dia sangat mengenali siapa aku sebenarnya. Dan aku meminta sesuatu padamu, Nak. Tolong sebar luaskan kematianku pada media. Sembunyikan aku dari publik. Jika kamu masih penasaran dengan kasus yang kamu tangani sekarang, aku akan mengatakan semua kebenarannya. Dan aku minta satu hal lagi padamu, tolong lindungi putriku dari jauh. Perintahkan seseorang untuk menjaganya. Nyawanya dalam bahaya, jika ada yang mengetahui dia sebagai putri dari Arya Natakusuma."
Langit begitu tersentak mendengar nama Arya Natakusuma di ucapkan. Siapa yang tidak mengetahui nama itu di negri ini. Ia juga sering mendengar nama itu dari papanya dan juga pamannya. Pemilik nama itulah yang selalu membantu kedua lelaki yang sangat Langit kagumi.
"Lalu, bagaimana Tuan bisa sampai seperti ini?" Langit belum lepas dari rasa terkejutnya.
Pasalanya, siapa yang berani melakukan hal seperti ini pada seorang Arya Natakusuma. Di tambah lagi, ia menyelidiki kasus pelanggatan yang terjadi di pasar gelap. Lalu kenapa semua petunjuk itu mengarah pada Arya Natakusuma? Apa yang sebenarnya terjadi?