
"Maksud Kakak, menerkamku yang seperti bagaimana?" tanya Tanisha berpura-pura tidak mengerti. Namun hal itu justru merugikan dirinya.
Devan semakin mendekatkan wajahnya pada Tanisha yang sedang menahan tubuhnya. Semakin mengikis jarak diantara mereka, hingga benar-benar tak berjarak.
Tanisha sudah membunyikan alarm peringatan bagi tubuhnya. Ingin ia mendorong tubuh Devan, tapi takut malah memperparah luka yang ada di tubuh pria itu.
"Kak, jangan begini," lirih Tanisha. "Banyak orang yang melihat kearah kita." tegasnya lagi.
Dan perkataan Tanisha itu semakin membuat otak Devan mencernanya dengan cermat. Apa ini sebuah undangan ato tawaran sebagai kode dia bersedia melakukan hal yang lebih daripada ini? Batin Devan. Dengan seenaknya saja dia menyimpulkan perkataan Tanisha seperti itu.
"Aku suka kamu memanggilku dengan sebutan Kakak, daripada Tuan," bisik Devan tepat di depan telinga Tanisha. Dan hal itu sukses membuat wajah Tanisha memerah dan terasa panas. "Dan aku sudah memperingatimu, jangan tampilkan mimik wajah yang seperti itu di hadapan pria asing." Lanjut Devan seraya mencuri kecupan singkat di pipi Tanisha.
Mata Tanisha membola saat Devan mengecup pipinya. Bagaimana mungkin pria itu melakukan hal seperti ini di tempat yang sangat ramai? Tanisha merasa malu sekaligus kesal. Niatnya hanya ingin menolong pria asing ini tapi malah mendapat perlakuan yang menurutnya tidak baik.
"Apaan sih, Kak!" Tanisha melepas rengkuhan tangannya pada lengan Devan. "Menurutku, Kakak tidak memerlukan bantuan. Aku pergi dulu kalau begitu." Tanisha melangkah menjauh meninggalkan Devan sendirian.
Namun belum jauh ia melangkah, Tanisha mendengar teriakan kesakitan dari arah belakang. Dan Tanisha masih ingat siapa pemilik suara itu.
Tanisha menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya dia saat melihat Devan kembali tersungkur di lantai, dan ada beberapa orang yang membatu Devan untuk berdiri. Perasaan bersalah pun kembali melingkup di hatinya.
"Mangkanya, kalau sakit itu jangan kelayapan. Biar nggak bikin orang khawatir!" spontan jiwa cerewet Tanisha keluar. Ia sudah terbiasa bersikap seperti ini saat kakaknya terluka dan susah dibilangin.
Bukannya marah atau kesal, Devan justru merasa senang mendapat perhatian Tanisha dengan cara gadis itu sendiri. Selama ini, wanita yang berani menasihatinya adalah sangat ibu dan Ayumna, istri Langit.
Devan terus menatap Tanisha saat gadis itu membuka kemejanya dan menekan darah yang keluar dari bekas lukanya. Bibirnya naik keatas mengukir sebuah senyuman saat melihat wajah Tanisha yang begitu khawatir terhadap lukanya.
"Mbak juga salah! Kenapa Mbak meninggalkan pacarnya yang sedang terluka seperti ini? Kalau memang kalian punya masalah, itu diselesaikan dengan kepala dingin Mbak. Jangan dengan emosi. Nanti bukannya mereda tapi malah berimbas pada hubungan kalian. Sebaiknya diomongin baik-baik. Dalam sebuah hubungan itu, intinya harus saling percaya dan saling terbuka." tutur seorang perempuan paruh baya berwajah teduh itu pada Tanisha.
Tanisha kembali terdiam mendengar perkataan dari perempuan paruh baya tersebut. Ia lebih baik memilih meng-iyakan perkataan itu, daripada bertambah rumit nantinya.
Sementara Devan tersenyum penuh arti. Rencananya berhasil untuk membuat gadis yang bum ia ketahui namanya itu tetap berada di dekatnya. Aku sudah menjatuhkan targetku. Jangan harap kau bisa lari, gadis cantik. Ucap Devan dalam hati. Kini di otaknya tersusun berbagai cara, agar bisa menjerat gadis itu.
Mas Devan... aku saranin lebih baik jangan macam² sama Tanisha. Kamu belum tau siapa Tanisha sebenarnya😌
Oh, ya. Berhubung ini bulan kelahiran aku. Aku mau ngadain giveaway. Tetapi kalian harus masuk GC aku terlebih dahulu, untuk mengetahui gimana sih syaratnya😊