Touch Me, Hubby

Touch Me, Hubby
Membujuk Pulang



Setelah beberapa hari menetap di bar milik Ayumna, kini hari terakhir Ayumna dan Langit tinggal di sana. Karena Langit tidak bisa terus menerus meninggalkan pekerjaannya pada asisten nya.


Butuh waktu agak lama untuk untuk membujuk Ayumna. Karena Ayumna masih keukeuh ingin tinggal di bar tersebut. Dengan alasan di sana suasananya lebih nyaman. Tidak sepadat di ibu kota.


"Sayang," panggil Langit seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Kini rasa mual karena mencium aroma tubuh Langit, hilang sudah. Setelah metode Langit waktu itu.


"Apa sih, Mas? Minggir... Aku mau beresin barang-barang kita." ucap Ayumna merasa risih jika Langit terus-terusan menempel padanya, disaat dirinya mengemas barang-barang mereka.


"Masih kangen...," kata Langit menggantung. "Kangen dia." lanjutnya sambil mengelus pelan perut rata Ayumna.


Ayumna memutar bola matanya jengah. Dia tau, ini hanya alibi suaminya untuk meminta jatah lagi.


"Aku capek, Mas. Lagian semalam kamu tidak memberiku jeda sama sekali." gerutu Ayumna kesal. Karena memang semalam Langit menggempur Ayumna penuh hasrat.


"Tapi yang sekarang belum," rengek Langit seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada sang ibu.


"Jadi pulang atau menetap di sini?" tanya Ayumna seraya membalikkan badannya. Melotot tajam ke arah Langit. Dan itu berhasil menghentikan Langit.


Langit memeluk istrinya, agar emosinya mereda. Bisa berabe nanti urusannya jika mereka tidak jadi pulang hari ini. Sudah susah payah dibujuk, masa iya nggak jadi lagi. Bisa di semprot Papa, aku kalau tetap nggak masuk kerja. Batin Langit. Karena kemarin papa-nya menghubunginya untuk segera masuk ke kantor.


"Ya sudah, aku bantu beresinnya. Biar cepat selesai." ucap Langit setelah mengecup pelan kening Ayumna. Lalu menampilkan senyuman yang paling menawan. Tapi entah mengapa, sangat menyebalkan bagi Ayumna. Karena bantuan dari Langit tidaklah gratis.


"Beib... Nanti ada yang lihat!" keluh Casandra karena kini tangan Bryan menelusup dibalik baju yang dikenakan oleh Casandra.


"Sebentar saja, Beibeh." mohon Bryan sudah tidak sabar ingin memainkan benda favorit nya. Casandra pun kemudian pasrah. Jika ia tolak pun akan percuma. Bryan selalu mempunyai cara untuk menaklukkan dirinya. Dan bodohnya lagi, tubuhnya sangat menikmati itu.


"Kakak bisa liat tempat nggak, sih!" kesal Ayumna pada Bryan.


Sontak saja membuat Bryan kaget dan langsung menarik tangannya dari Casandra. Sementara Casandra mengalihkan pandangannya karena malu.


"Halalin dulu, Kak Casandra nya. Baru bisa puas!" ketus Ayumna lagi. Karena dirinya masih merasa kesal dengan Langit yang kembali meminta haknya tadi. Dan itu mampu mengulur waktu mereka untuk segera pulang.


Langit menahan tawanya saat melihat kakak iparnya kena amarah sang istri. Sedangkan Bryan menatap bingung pada Langit, meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Langit menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya. Membuat Bryan mengumpat kesal.


"Tidak semudah itu, Dek," ucap Bryan menghampiri Ayumna. "Mau pulang sekarang?" tanya Bryan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Makanya, tahan tuh nafsu Kakak!" dan ternyata emosi seorang ibu hamil muda itu belum mereda. Bryan kembali mendesah.


Repot banget ngadepin ibu hamil. Untung adikku. Kalo bukan... Batin Bryan kemudian menggeleng kepala. Bagaimana bisa dirinya berpikiran untuk mencelupkan Ayumna di sungai.


Setelah makan siang, Ayumna dan Langit berpamitan kepada mereka untuk pulang ke rumah mereka. Di dalam mobil, Langit baru sadar ingin menanyakan asal usul bagaimana istrinya itu bisa memiliki sebuah bar. Padahal dia seorang dokter.


Maaf Telat Up😂