Touch Me, Hubby

Touch Me, Hubby
Ada Rasa Bersalah



Mobil yang dikemudikan oleh Samuel sampai di rumah sakit tepat pukul sembilan malam. Samuel menghentikan langkah mereka yang ingin keluar dari dalam mobil. Dia ingin mengkonfirmasikan dahulu situasi di rumah sakit itu dengan Franky.


Samuel mengubungi Franky lewat ponsel miliknya. Memastikan kalau situasi di rumah sakit saat ini aman. Setelah mendapat kabar dari Franky, Samuel memperbolehkan mereka untuk keluar dan menuju ruangan dimana Ayumna dirawat.


Dengan penjagaan ketat, Arya dan istrinya melangkah lebih dulu. Sementara Dirga berjalan dengan santainya di belakang mereka. Namun agak sedikit berjarak dengan ditemani Samuel di sampingnya.


"Apa yang ingin kau tanyakan padaku, tanyakan saja." ucap Dirga tiba-tiba. Dia tahu apa yang sedang ada didalam pikiran Samuel saat ini.


"Ck! Anda memang patut menyandang gelar sebagai peramal hebat, Tuan." ucap Samuel. Dan Dirga pun terkekeh mendengar ucapan Samuel.


Jika mereka sedang berdua, sikap Samuel dan Dirga akan berubah. Mereka seperti teman yang tidak memandang umur. Namun Samuel tetap bersikap sopan. Tidak keluar dari batasnya.


"Bagaimana bisa Bryan memanggil anda Ayah? Sementara dulu dia pernah menembak Devan karena menghalangi rencananya. Apa itu juga termasuk rencana anda, Tuan?" Samuel sangat tahu persis bagaimana tabiat Tuan besarnya itu.


"Haha...dan kau pantas menyandang predikat dukun terhebat, Sam." Dirga terkekeh menanggapi perkataan Samuel.


Langit tidak salah dalam memilih orang untuk dia percaya. Dirga juga sangat menyukai sifat Samuel yang selalu tepat dalam menganalisis suatu keadaan.


Samuel menoleh ke arah Dirga, dan menatap intens pria paruh baya yang berstatus lajang tersebut.


"Apa maksud dari semua ini, Tuan?" tanya Samuel tidak mengerti jalan pikiran seorang Dirga Bagaskara.


"Dia aku didik dengan sangat keras. Aku mengetahui Bryan adalah anak dari Arya ketika aku melihat tanda khusus yang Arya buat di tubuh keturunannya. Istrinya Langit juga memiliki tanda itu. Lalu aku menghubungi Arya, dia memang membiarkan penculikan itu terjadi, karena Bryan adalah anak yang jenius. Kelebihannya adalah bisa menyusun strategi dengan cepat sehingga nyawanya bisa selamat." Dirga menjeda lagi ceritanya. Dia mencari tempat duduk agar lebih nyaman untuk bercerita.


Sementara itu Samuel terlihat tidak sabar dengan kelanjutan cerita Bryan. Dirga terkekeh melihat wajah Samuel yang menahan kesal terhadapnya.


"Arya menitipkan Bryan padaku dan aku mendidiknya dengan sangat keras. Bahkan aku menjadikan dia seorang pembunuh. Namun ada alasan dibalik semua itu. Aku ingin dia menjadi pribadi yang kuat dan tidak lemah, karena musuh orang tuanya adalah saudara kandung Arya yang begitu kejam. Berkali-kali mencoba membunuh Shakki dan anaknya." untuk kesekian kalinya Dirga menjeda ceritanya. Ada rasa bersalah pada Bryan.


"Aku menyuruh Bryan mengganggu ketentraman Langit, dengan dalih aku akan mengganggu hidup adiknya. Karena aku ingin melihat diantara mereka siapa yang paling keji. Dan ternyata Bryan lah yang paling unggul dari Langit. Dia tega menembak sahabatnya sendiri. Dan Bryan lulus ujian itu. Lalu aku membiarkan dia untuk menemui adiknya secara terang-terangan. Karena Bryan sudah mampu melindungi adiknya sendiri." jelas Dirga. Kemudian tersenyum penuh kebanggan terhadap hasil didikannya pada Bryan.


Pemikiran Dirga benar-benar di luar nalar Samuel. Dia tega membuat orang yang dia sayang menjadi orang yang kejam. Namun dibalik itu semua semata-mata demi melindungi keluarganya.


"Dasar, Gila!" umpat Samuel lirih. Namun masih dapat didengar oleh Dirga.


"Hai, Son! Telingaku belum bermasalah. Aku mendengar dengan jelas umpatanmu," ucap Dirga kemudian terkekeh seraya merangkul Samuel.


Kemudian mereka memutuskan untuk menyusul Arya ke ruangan dimana Ayumna dirawat.


Jangan lupa like dan komen yah😉