
"Mama kenapa, Jes?" tanya Adi lagi. Dia tidak paham dengan kepanikan Jesselyn seraya menunjuk ke arah jalan raya.
"Pa, ikuti Mama, Pa! Mama akan pergi ke rumah sakit lagi." panik Jesselyn menyuruh Adi untuk mengikuti Eva yang ingin mencelakai Ayumna.
"Maksud kamu...?"
"Benar, Pa. Cepat!" dugaan Adi benar. Eva akan mencelakai Ayumna kembali.
Saat insiden kecelakaan Ayumna, Adi sudah memperingatkan Eva untuk menghentikan semua ini. Namun Eva tetap keras kepala. Dia yakin, kalau dengan Ayumna celaka, Arya akan kembali dan Eva bisa bertemu kembali dengannya.
Adi selama ini mencintai Eva dengan tulus, meski tahu hati Eva hanya untuk adiknya, Arya. Bahkan Adi rela memenuhi keinginan Eva untuk menghancurkan keluarga kecil Arya.
Namun kali ini Adi tidak bisa membiarkan Eva bertindak lebih jauh lagi. Sudah cukup selama ini dia menjadi musuh adiknya. Dan sekarang mungkin waktu yang tepat untuk menebus kesalahannya pada Arya. Dia bertekad akan menggagalkan rencana Eva malam ini.
Cinta dan obsesi Eva pada Arya sudah kelewat batas. Adi tidak mau ada korban lagi karena obsesi Eva.
"Kalau begitu, kamu di sini saja. Biar Papa yang menghentikan Mama," ucap Adi. Lalu Adi berbalik menuju mobilnya kembali dan melakukannya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit dimana Ayumna dirawat.
Di sisi lain, Langit terlihat keluar dari ruangan Ayumna. Dia menyuruh Samuel untuk menjaga Ayumna. Serta tidak lupa mengancam Samuel jika terjadi sesuatu pada Ayumna kelak.
Langkah Langit terhenti sejenak kala mendengar nada dering di ponsel nya. Tangannya merogoh saku celana dan mengambil ponsel miliknya.
Langit begitu malas ketika melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Lalu Langit mengabaikan panggilan itu. Namun, lagi dan lagi ponselnya terus berbunyi. Dan orang yang tengah menghubunginya saat ini adalah orang yang sama.
"Ada apa?" dengan malas, Langit menjawab panggilan itu.
"Lang! Jangan tinggalkan Aayumna sendiri!" terdengar suara panik seorang perempuan.
Langit mengernyitkan dahinya ketika mendengar Jesselyn berkata seperti itu. Bagaimana bisa dia tahu tentang permasalahan yang tengah dihadapi oleh istrinya.
"Jangan bingung seperti itu, Lang. Nanti kamu juga bakalan tahu." ucap Jesselyn lagi lalu mematikan sambungan telepon mereka.
Tidak berapa lama, Eva tiba di lorong ruangan tempat Ayumna dirawat. Eva merasa ada yang janggal, semulanya lorong ini begitu ramai di penuhi beberapa penjaga. Namun kenapa sekarang terlihat begitu sepi. Hanya ada satu penjaga saja yang berdiri tidak jauh dari pintu ruangan Ayumna.
Eva tidak mau berpikiran yang macam-macam. Karena dirinya sebelum melangkah ke tempat ini sudah mempersiapkan semuanya.
Tanpa ada rasa curiga, Eva melangkah mendekat ke arah penjaga. Dengan senyum yang ramah, Eva meminta ijin untuk masuk ke dalam ruangan keponakan suaminya tersebut.
Sang penjaga pun mempersilahkan Eva untuk masuk. Karena sebelumnya Langit sudah memberitahu semua penjaga nya.
Sementara itu, Langit yang mengintip dari balik pintu ruangan lain, mengepalkan tangannya. Dia ingin sekali membunuh wanita rubah tersebut.
"Halo Dev! Cepat kesini dalam waktu tiga puluh menit. Bawa berkas-berkas yang sudah aku kirim kepadamu." titah Langit kepada Devan melalui sambungan telepon.
"Apa kau gila! Aku baru saja turun dari pesawat dan masih berada di bandara, Lang!" protes Devan mengumpat kesal.
"Datang ke sini secepatnya, atau tidak melihat gadismu lagi!" ancam Langit membuat Devan tidak berkutik. Lalu Langit mematikan sambungan mereka tanpa mendengar ucapan Devan. Membuat Devan kembali mengumpat kasar pada Langit. Tentu saja hal itu tidak bisa Langit dengar.
Di dalam ruangan Ayumna, Eva melihat ada seorang pemuda yang berpakaian kasual tengah tidur di sofa panjang yang tidak jauh dari tempat Ayumna berbaring.
"Nak, bangun. Biarkan Bibi yang menjaga Ayumna malam ini. Karena Bibi besok harus kembali lagi ke Surabaya." ucap Eva.
Samuel berpura-pura mengerjapkan matanya dengan malas. Seolah-olah dirinya baru bangun tidur. Padahal sedari tadi dia terjaga dan memejamkan matanya saat mendengar suara pintu terbuka.
"Oh, iya Bi, terima kasih. Tapi Saya ingin ke kamar mandi sebentar," kata Samuel lalu beranjak menuju kamar mandi.
Sedangkan Eva tersenyum penuh kemenangan. Karena dia bisa melaksanakan rencananya dengan mudah.
Menuju akhir konflik ya🤧