Touch Me, Hubby

Touch Me, Hubby
Permintaan Konyol



Pernah sekali Langit nekat mendekati Ayumna saat Ayumna sedang tidur. Karena rasa rindu yang tidak bisa di tahan olehnya. Waktu itu, Langit hanya mengusap lembut wajah cantik sang istri yang sedang terlelap. Namun, tidak berselang lama Ayumna terbangun dan langsung muntah-muntah di atas tempat tidur. Dan itu membuat kemarahan Bryan bertambah.


Bryan melarang keras Langit mendekati Ayumna. Meskipun Bryan tahu Langit adalah suami dari adiknya. Akan tetapi itu semua Bryan lakukan demi Ayumna dan calon keponakannya. Langit pun bisa memaklumi itu.


Ayumna nampak menimang permintaan konyolnya ini. Entah mengapa, ia sangat ingin melihat seseorang yang telah lama pergi dari hidupnya. Lebih tepatnya Ayumna yang memilih meninggalkan orang tersebut.


"Apa Sayang?" tanya Langit sekali lagi. Tangannya seraya membelai lembut wajah Ayumna yang begitu ia dambakan.


Ayumna memejamkan mata. Tidak bisa ia pungkiri, sebenarnya ia juga rindu akan sentuhan dari Langit. Namun Ayumna belum bisa memastikan secara betul, apakah sudah ada rasa cinta di hatinya untuk Langit. Yang Ayumna rasakan, ia tidak suka jika ada perempuan lain yang menyentuh suaminya.


Langit melepas masker yang Ayumna kenakan. Mengusap lembut bibir yang menjadi heroin baginya. Dan terlihat mata Ayumna melotot tidak percaya. Takut jika ia akan merasa mual lalu memuntahkan semua isi makanan dari dalam perutnya.


"Mas--" belum sempat Ayumna menyelesaikan ucapannya. Langit terlebih dulu membungkam bibir Ayumna dengan bibir nya.


Dengan usapan lembut, Langit mulia menikmati manisnya rasa bibir sang istri yang sudah lama tidak ia rasakan. Perlahan namun pasti, Langit memasuki area dalam dan mengabsen setiap inci di dalam sana dengan lembut tapi juga penuh tekanan.


Aneh memang. Semulanya mual Ayumna rasakan sesaat maskernya terlepas dari wajahnya. Namun dengan kepiawaian yang Langit miliki, mampu meredam rasa mual tersebut. Dan sekarang dirinya malah menginginkan hal yang lebih dari sekedar ini.


Langit tersenyum, menyadari jika Ayumna menginginkan dirinya saat tangan istrinya itu mulai meraba dada bidang miliknya.


"Kamu ingin apa Sayang?" tanya Langit di sela ciumannya. Mencoba menggoda Ayumna meskipun ia sudah tahu apa yang diinginkan istrinya. Namun itu hanya presepsi Langit.


"Mmhhh," Ayumna mendorong dada Langit. Mencoba melepas diri dari suaminya. Namun yang ia dapat Langit malah semakin mengeratkan dekapannya dan tidak melepas pagutan mereka.


Ayumna teringat dengan keinginannya tadi. Ia sekali lagi mencoba melepas diri dari Langit dengan menggigit bibir suaminya. Sehingga mau tak mau Langit melepas pagutan mereka dengan paksa.


"Kamu membentakku, Mas? Kamu sudah nggak sayang lagi sama aku?" ucap Ayumna dengan mata berkaca-kaca. Ia berpikiran kalau Langit sudah tidak menginginkannya. Padahal barusan mereka bercumbu mesra.


Langit merasa bingung dengan perubahan emosi Ayumna. Ia serba salah sekarang. Padahal dirinya tidak membentak Ayumna. Tadi itu hanya reflek dari efek rasa sakit yang Ayumna perbuat.


"Sayang... Bukan begitu. Tadi itu Mas hanya reflek saja," Langit menjelaskan dengan nada yang sangat lembut. Takut-takut jika Ayumna akan salah presepsi dengan apa yang dikatakannya. "Oh, ya. Tadi kamu mau minta apa?" langit mencoba mengalihkan topik seraya memeluk tubuh istrinya itu agar lebih tenang.


Setelah merasa tenang di dalam dekapan sang suami, Ayumna mendongakkan kepalanya. Mencoba menghirup aroma tubuh suaminya. Dan ajaibnya, rasa mual itu tidak ia rasa lagi.


Ayumna semakin menyerukan wajahnya di leher Langit. Agar dengan bebas menghirup aroma yang kini menjadi kesukaannya. Kemudian tangannya bergerak di dada Langit. Membentuk gerakan memutar. Membuat sesuatu di bawah sana on.


Langit memejamkan matanya. Menahan semua sensasi yang Ayumna timbulkan. Ia tidak ingin gegabah. Karena emosi Ayumna kerap kali berubah setelah dinyatakan hamil.


"Mas...," panggil Ayumna dengan tatapan begitu menggemaskan menurut Langit.


"Apa Sayang? Katakan saja." jawab Langit tangannya sambil mencubit pelan hidung Ayumna.


"Boleh aku bertemu dengan Gio?" tanpa ada rasa bersalah atau apalah. Ayumna mengutarakan keinginannya dengan santai. Tidak memperdulikan ekspresi Langit yang sudah bisa diartikan.


"TIDAK BOLEH!" sarkas Langit spontan. Ia lupa akan sesuatu.


Mas Lang... sudah aku katakan, jangan membentak Ayumna🙄. Ntah apa nanti yang akan terjadi padamu🤦‍♀️