
"Eemm ... Ay....," Langit menjeda perkataannya. Ia menjadi salah tingkah sendiri di dalam mobil.
"Iya Mas, ada apa?" terdengar suara Ayumna sedikit gelisah dari seberang sana.
Langit terdiam cukup lama. Memikirkan apa yang akan ia sampaikan. Jujur, saat ini pertama kali Langit merasa dilema karena keselamatan seorang perempuan dan juga perasaannya. Ia bingung mau mengucapkan kata apa. Yang terpenting saat ini, ia merasa ingin memeluk dan membelai wajah istrinya yang cantik nanti rupawan tersebut.
"Aku kangen sama kamu, Ay. Tunggu aku di rumah," kata itulah yang akhirnya terucap dari mulut Langit
Perkataan Langit sukses membuat wajah Ayumna bersemu merah. Ia senyum-senyum sendiri menatap pantulan dirinya dari cermin. Karena Ayumna baru selesai mandi setelah berkutat dengan alat-alat serta bau menyengat dari obat yang terdapat di ruangan operasi.
"Ya sudah, buruan pulang Mas kalau begitu," Ayumna membekap mulutnya sendiri setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Di tempat lain, Langit begitu gembira mendengar ucapan Ayumna. Seketika hatinya merasa senang dan tenang, setelah berkalut dengan rasa khawatir yang terlalu berlebihan.
"Baiklah! Tunggu aku di apartemen, jangan ke mana-mana. Kunci pintu apartemen, jangan di buka walaupun ada orang yang berkunjung," Langit memberondong perintah pada Ayumna.
Mendengar instruksi dari Langit, membuat Ayumna menggeleng kepala. Lalu menutup sambungan telpon mereka. Ayumna mematut dirinya di depan cermin, sembari memikirkan apa yang di ucapkan oleh Langit barusan. Ada apa dengan Mas Langit malam ini? Tidak seperti biasanya. Aneh banget! Gumam Ayumna.
Tidak mau berpusing ria memikirkan perkataan Langit, Ayumna mulai mengoleskan krim malam di seluruh wajah dan juga tubuhnya. Tidak heran jika kulit Ayumna putih bersih dan mulus. Karena ia selalu rajin merawat tubuh nya.
Tidak berselang lama, Langit pun datang. Ia langsung menuju lantai dua dan melangkah menuju kamar Ayumna, bukan kamarnya yang berada di sebelah kamar Ayumna.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Langit langsung memutar kenop pintu. Langit melihat suasana kamar Ayumna hanya di terangi oleh sinar lampu yang temaram. Apa dia sudah tidur? Tanya Langit dalam hati.
Lalu Langit melangkah masuk dengan pelan, menuju tempat tidur Ayumna yang memiliki ukuran besar jika hanya untuk di tempati satu orang. Langit mendekat ke sisi ranjang, lalu duduk di sisi ranjang tersebut.
Terlihat jelas oleh Langit, wajah istrinya yang tertidur pulas semakin terlihat lebih cantik. Meski tanpa make up yang menempel pada kulit wajah Ayumna.
Langit tersenyum melihat wajah Ayumna yang tertidur dan tanpa merasa terganggu meski ia membelai wajah istrinya itu. Apa kamu terlalu capek? Langit membelai hidung mancung milik Ayumna. Lalu berpindah ke bibir ranum yang membuatnya merasa candu akan rasa manis dari bibir itu.
Tatapan Langit kemudian turun ke bawah, membenarkan selimut Ayumna yang hanya menutupi separuh bagian tubuh Ayumna.
Saat hendak mengangkat ke atas, mata Langit tidak sengaja menemukan sebuah pemandangan yang indah, di bawah sinar yang tidak terlalu terang.
Namun dapat Langit lihat dengan jelas, belahan baju tidur Ayumna bagian atas terbuka hampir memperlihatkan benda yang selama ini ia bayangkan di saat dirinya mandi.
Tidak mau membuang waktu terlalu lama, kemudian Langit bangkit dan tanpa permisi masuk ke dalam kamar mandi Ayumna. Langit membersihkan diri secepat kilat. Tidak mau nanti keburu Ayumna terbangun terlebih dulu.
Hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya, Langit melangkah keluar kamar mandi dan langsung menuju ranjang dimana Ayumna tertidur dengan begitu pulasnya. Tanpa mengganti handuknya terlebih dulu dengan jubah tidurnya.
Awas! habis ini ada adegan uhuk uhuk😂