
"Lang, kamu tahu siapa yang menembakku tempo hari?" tanya Devan pada Langit. Kini mereka sedang berada di sebuah cafe.
"Aku sudah tahu saat kau di ruang operasi. Aku pun juga tidak menyangka, Bryan melakukan itu padamu." ucap Langit seraya menyesap Capucinno yang ia pesan tadi.
Seminggu telah berlalu dari kejadian itu. Dan Devan juga sudah mulai membaik, bahkan sudah bisa diajak nongkrong oleh Langit. Meski masih merasakan rasa nyeri di bagian dadanya.
"Dia melakukan itu atas suruhan orang, Lang. Kamu jangan gegabah dalam mengambil sebuah tindakan." ucap Devan tak merasa marah sedikitpun pada teman lamanya itu. Dan itu membuat Langit mengernyitkan dahinya.
"Apa kau tidak merasa marah sedikitpun? Atas apa yang dilakukan Bryan? Ini masalah nyawa, Dev!" Langit tak habis pikir dengan jalan pikiran Devan yang menganggap masalah ini sepele. Padahal dirinya saja masih merasa kesal, meskipun sudah mengetahui apa motif dari bosnya Bryan.
Devan menggeleng kepala lalu dengan santainya ia mengambil jus jambu merah yang ada di atas meja, lalu meminumnya dengan perlahan.
"Kalau begitu, kamu cari tahu titik lemah orang picik itu. Dan kamu bisa menyerangnya balik, Lang." saran Devan.
Langit mengangguk kepala sebagai jawaban dari ucapan Devan. Tidak berselang lama, bunyi notif di ponsel Langit berbunyi. Langit tersenyum saat melihat siapa yang mengirimi pesan.
"Kau benar-benar sudah gila, Lang." cibir Devan pada Langit.
"Kau akan menjadi lebih gila jika wanitamu bersikap dingin padamu, Dev. Dan aku berdoa semoga kau mendapat wanita yang super cuek." ejek Langit lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Kau mau kemana? Dan bagaimana dengan diriku?" tanya Devan saat melihat Langit mulai melangkah menjauh.
"Tenang saja, akan ada orang yang memungutmu nanti!" teriak Langit. Karena kini Langit sudah berdiri jauh dari meja mereka tadi.
"Bastard lo, Lang!" teriak Devan kesal dengan sikap seenaknya sahabat sekaligus atasannya.
"Kalo bukan temen, aku tolak ajakannya tadi." gerutu Devan.
Devan mencoba berdiri dengan tegap, meski dadanya terasa masih nyeri. Wajar saja jika rasa nyeri itu masih kerasa di tubuh Devan. Karena sekarang ini waktunya ia meminum obat. Dan Devan melupakan hal penting seperti itu.
Devan terbilang cepat keluar dari rumah sakit. Karena di sela waktu senggang, Ayumna datang dan merawat sahabat suaminya itu. Tentu saja dengan persetujuan Langit yang super posesif terhadap Ayumna sekarang.
Devan masih dianjurkan mengkonsumsi obat secara rutin selama satu bulan. Tidak boleh sampai melupakan meskipun hanya satu kali. Dan sekarang Devan melupakan hal itu.
"Argh...!" Devan hampir saja terjatuh karena menahan rasa nyeri di dadanya saat mencoba melangkah. Untung saja ada seorang gadis yang menahan tubuhnya meskipun tidak terlalu kuat. Alhasil mereka terjatuh bersama, dengan tubuh Devan yang menindih tubuh gadis penolongnya itu.
"Apa Tuan tidak apa-apa?" tanya gadis yang mempunyai paras cantik paripurna. Bahkan kecantikan itu melebihi kecantikan istri sahabatnya.
Devan terdiam memperhatikan kecantikan gadis yang berada di bawah tubuhnya itu. Tatapannya tak dapat ia kendalikan. Entah kenapa, gadis itu mampu menghipnotis nya sesaat lalu Devan tersadar dari lamunannya.
"Ah! Iya, makasih," ucap Devan. "Apa tubuhku berat?" entah apa yang dipikirkan oleh Devan sehingga dirinya berani melayangkan pertanyaan semacam itu.
Wajah gadis itu berubah memerah saat Devan mempertanyakan berat tubuhnya. Ia mencoba memalingkan wajahnya dari Devan, kemudian mendorong dada Devan dengan pelan agar segera menjauh dari tubuhnya.
"Aakhh...!" pekik Devan semakin keras saat tangan gadis cantik yang menolong dirinya itu menekan tepat di bagian luka Devan.
Akhirnya, setelah sekian lama aku berpaling dari Mas Langit😭, aku bisa bertemu denganmu lagi Mas Devan😘