
Langit membuka pintu ruangan dimana Ayumna dirawat. Dengan langkah tergesa Langit menghampiri istrinya yang tengah mengobrol dengan Franky.
Ayumna sedikit terkejut dengan kedatangan Langit. Apalagi wajah suaminya itu nampak menahan amarah.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Ayumna lembut.
Langit berhenti tepat di samping Ayumna. Lalu Franky melangkah mundur dan pamit undur diri dari sana. Franky lebih baik menghindar dari sana sebelum tuannya itu kembali melampiaskan kekesalannya pada dirinya.
"Apa maksud kamu melarang aku untuk menemanimu malam ini, Ayumna Natakusuma!" pekik Langit membuat dada Ayumna tersentak.
Dada Ayumna terasa sesak ketika mendengar suara Langit yang menyentaknya. Tidak menunggu lama, air matanya lun jatuh. Ayumna berusaha menghentikan air matanya yang jatuh dan menyekanya dengan jemarinya.
Dengan suara terisak, Ayumna mencoba menjawab pertanyaan Langit. "Aku ingin ini semua segera terselesaikan, Mas," jawab Ayumna dengan suara terisak. "Aku sudah capek menjadi incaran mereka." lanjut Ayumna kembali menyeka air matanya yang tetap mengalir membasahi pipi mulusnya.
Deg!
Langit baru sadar dengan apa yang barusan ia ucapkan. Kemudian Langit segera memeluk tubuh istrinya dengan penuh sesal.
Langit menyesal, karena emosi membuatnya tidak sengaja berkata dengan suara keras kepada Ayumna. Langit lupa jika perasaan Ayumna semenjak hamil menjadi sangat rapuh.
"Maafkan Mas, Sayang." kata Langit menyesal. Ayumna terdiam dalam tangisnya.
Karena tidak mendapat jawaban dari Ayumna, Langit mengurai pelukan mereka. Menatap lekat wajah Ayumna lalu mengusap buliran air mata yang tetap mengalir di pipi sang istri.
Sementara Ayumna tetap diam. Hatinya terasa sakit saat Langit membentaknya. Ayumna hanya mau ini semua cepat selesai. Dan dia ingin hidup dengan tenang bersama keluarga kecilnya kelak. Tanpa ada sesuatu yang mengancam kebahagiannya.
"Sayang," panggil Langit dengan lembut. Tangannya beralih memegang tangan Ayumna, lalu mengecup mesra punggung tangan Ayumna.
Langit memeluk tubuh Ayumna kembali. Ternyata istrinya itu memikirkan tentang kebaikan dirinya. Memang benar, jika Langit sangat ingin membunuh pelaku yang membuat nyawa istri dan calon anaknya itu hampir melayang. Siapapun itu, Langit tidak akan mengampuninya.
"Tapi Mas tidak mau kehilanganmu, Sayang." Langit mengecup kening Ayumna. Dia terlalu takut membayangkan hal itu terjadi.
"Mas tenang saja, ada Samuel di ruangan ini, kan?" ucap Ayumna membuat Langit mengernyit tidak paha. Kenapa Ayumna harus memilih Samuel untuk menemaninya kali ini.
"Kenapa kamu memilih Samuel, Sayang? Kenapa bukan Franky saja. Dia yang sudah biasa menemanimu." kata Langit seraya menatap intens Ayumna.
"Mama yang memilih Samuel untuk berada di sampingku malam ini Mas. Semenjak kelalaian Franky tempo hari, Mama tidak mau hal itu terjadi lagi padaku." jelas Ayumna. Langit mengangguk paham, setuju dengan pemikiran ibu mertuanya yang sangat luar biasa.
"Baiklah. Aku akan percayakan kamu dengan Samuel. Tapi ingat, jika terjadi sesuatu kamu harus tekan tombol ini, Sayang. Mas ada di ruang sebelah." kata Langit dan Ayumna mengangguk mengerti.
Langit memberikan sebuah benda kecil berwarna hitam. Jika tombolnya di tekan, maka alarm yang ada di ponsel Langit akan berbunyi.
Jesselyn mengikuti Eva, namun tidak terkejar. Mobil Eva terlalu cepat berlalu meninggalkan perkarangan rumah mereka. Rumah yang baru mereka tinggali dua tahun terakhir ini.
Adi yang baru sampai, melihat Jesselyn yang terlihat panik pun datang mendekat.
"Ada apa, Jes?" tanya Adi pada anak tirinya tersebut. Namun, meskipun anak tiri, Adi sangat menyayangi Jesselyn seperti putri kandungnya sendiri. Apapun yang diinginkan oleh Jesselyn, Adi selalu memberikan nya.
"Mama, Pa!" jawab Jesselyn dengan panik.
"Mama kenapa, Jes?" tanya Adi lagi. Dia tidak paham dengan kepanikan Jesselyn seraya menunjuk ke arah jalan raya.
Jangan lupa, beri dukungan cerita ini dengan cara berikan like, gift, dan komen. Kalo ada Vote, juga aku terima🤭