
Istana kekaisaran Utara.
"Yang mulia, ada hal penting yang ingin hamba sampaikan" ucap seorang pria bertopeng.
"Katakan!" ujar pria paruh baya yang duduk di singgasana.
"Saat menjalankan tugas di perbatasan, hamba bertemu dengan beberapa orang dari kekaisaran barat."
"Hanya beberapa orang saja, apa pentingnya?"
Pria bertopeng itu kemudian menyampaikan bahwa beberapa orang yang ia temui bukanlah orang biasa, melainkan kultivator hebat yang merupakan pasukan elit kekaisaran.
Lalu, ia juga menunjukkan bukti yang membenarkan perkataannya, yaitu sebuah lencana yang hanya dimiliki oleh pasukan elit kekaisaran, dan lencana itu hanya dimiliki prajurit kekaisaran barat.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan lencana itu?"
"Hamba dan pasukan hamba tidak hanya bertemu dengan mereka, tapi juga sempat bertarung dengan mereka, dan kami berhasil membunuh salah seorang dari mereka."
"Apa kau sempat menginterogasinya?"
Pria bertopeng itu menggeleng pelan, "sayangnya tidak, yang mulia. Karena dia lebih memilih untuk bunuh diri dengan racun."
"Baiklah, kau boleh pergi sekarang."
"Baik, yang mulia!"
Suasana di aula menjadi hening selama beberapa saat, kemudian suasananya menjadi sangat ramai saat para petinggi memberikan pendapat mereka mengenai informasi tersebut.
"Yang mulia, meski kita tidak tahu apa tujuan mereka yang sebenarnya, tapi tidak ada salahnya jika kita berhati-hati."
"Itu benar! Dan bukan tidak mungkin jika tujuan mereka datang ke sini adalah untuk memata-matai kekaisaran kita."
"Yang mulia! Kita harus segera mengambil tindakan, jika tidak, kita semua bisa saja dibunuh saat sedang tidur."
Bei Zhong mengangguk pelan, lalu berdiri dari singgasananya, "baiklah! Perketat penjagaan dan tangkap siapa saja yang terlihat mencurigakan!"
"Baik, yang mulia!"
***
Hutan perbatasan.
Bukannya segera menyampaikan pesan Yun Fei kepada para pemimpin sekte besar, Huo Wen malah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyiapkan rencana jahatnya.
Saat ini, ia sedang berada di kedalaman hutan yang berbatasan dengan kota kekaisaran, dan tujuannya saat ini adalah mengumpulkan pasukan sebanyak mungkin.
Tidak hanya mengumpulkan pasukan saja, ia juga berencana untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang kuat, dan salah satu dukungan yang ia harapkan adalah kekaisaran.
"Siapa itu!?" ujar Huo Wen saat merasakan keberadaan seseorang disekitarnya.
"Jika aku tidak salah, bukankah kau adalah tetua di klan api suci?"
Huo Wen memfokuskan pandangannya ke arah pohon besar yang tidak terlalu jauh darinya, tidak lama berselang, seorang pemuda seusia Yun Fei keluar dari balik pohon tersebut.
"Siapa kau? Kenapa kau mengetahui identitas-ku?" tanya Huo Wen.
Pemuda itu tersenyum licik, lalu menghampiri Huo Wen yang nampak waspada, "kau mungkin lupa padaku, tapi aku masih mengingat dengan jelas siapa dirimu."
Perkataan pemuda itu semakin membuat Huo Wen kebingungan, karena ia merasa tidak pernah mengenal pemuda itu sebelumnya, juga tidak pernah bertemu dengan pemuda tersebut.
Namun, setelah jarak antara mereka cukup dekat, barulah Huo Wen menyadari jika pemuda di depannya itu pernah berdampingan dengan musuhnya dahulu, dia adalah Xue Ming.
"Kau?!"
"Benar! Ini aku, Xue Ming. Tangan kanan Huo An."
"Mau apa kau?!"
"Jangan salah paham, aku tidak berniat untuk bertarung denganmu."
"Lalu, kenapa kau menghadang ku?"
"Cihh, untuk apa aku menghampiri seorang musuh."
"Hahahaha!" Xue Ming tertawa lantang mendengar perkataan Huo Wen, "bukankah itu sudah berlalu? Dan, bukankah kita memiliki musuh yang sama?"
Huo Wen mengerutkan dahi, "apa maksudmu?"
Xue Ming kembali menunjukkan senyuman liciknya, lalu ia menjelaskan jika dirinya sudah mengetahui bahwa Huo Wen sangat membenci Yun Fei dan memiliki dendam dengannya.
Selain itu, Xue Ming juga mengatakan jika dirinya sudah mengetahui apa tujuan Huo Wen yang sebenarnya, yaitu ingin menyingkirkan Yun Fei dan mengambil alih kekuasaan klan.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Semuanya bisa terlihat dengan jelas dari sorot matamu itu" jawab Xue Ming.
"Sudahlah, kau tidak perlu waspada padaku, dan bukankah sebaiknya kita menjalankan rencana ini bersama?"
"Aku akui kau sangat hebat karena mengetahui rencana-ku, tapi maaf, aku tidak tertarik untuk bekerjasama dengan orang sepertimu!"
"Jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, pikirkanlah lagi dan temui aku setelah kau menetapkan pilihanmu" sahut Xue Ming, kemudian pergi dari sana.
Huo Wen terpaku setelah mendengar perkataan Xue Ming, walaupun mereka dulunya adalah musuh, namun tidak bisa dipungkiri jika mereka berdua juga memiliki satu musuh yang sama.
"Untuk saat ini, sebaiknya aku pergi ke kota kekaisaran" ucap Huo Wen dalam hati, lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke ibukota kekaisaran Utara.
Selain berusaha mencari bantuan sebanyak mungkin, Huo Wen juga menjalankan tugas yang diberikan oleh Yun Fei, hal itu ia lakukan agar dirinya tidak dicurigai.
Tapi sayangnya, tidak peduli seberapa hebat sandiwara yang ia mainkan, Yun Fei tetap saja berhasil mengetahuinya, bahkan ia mendapatkan bukti yang tidak akan bisa disangkal oleh Huo Wen.
"Ayah, paman, aku melakukan ini hanya untuk menunjukkan kebenaran padamu" ucap Yun Fei.
"Keparat! Aku benar-benar tidak menyangka jika adikku akan menjadi musuh dalam selimut!" ujar Huo Qian.
"Aku benar-benar malu pada diriku sendiri!" sahut Huo Ming.
"Patriark, izinkan aku memberi pelajaran padanya!"
Yun Fei menggeleng pelan, "sekarang bukan saat yang tepat untuk melakukan hal itu."
"Apa maksud Anda, patriark?" Tanya Huo Qian yang nampak bingung dengan keputusan Yun Fei.
"Sama halnya dengan klan dewa angin, kalian semua juga merupakan keluarga-ku, termasuk dia. Oleh karena itu, aku ingin memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki dirinya."
"Bagaimana kalau dia tidak bisa memperbaiki dirinya?"
"Aku serahkan urusan ini pada kalian" jawab Yun Fei.
Meski dirinya adalah pemimpin klan, namun Yun Fei tidak ingin mengambil keputusan secara sepihak, dan menurutnya, akan lebih baik jika hal itu ditangani oleh Huo Ming atau Huo Qian.
Alasannya sederhana, ia hanya tidak ingin dirinya dianggap sebagai pemimpin yang kejam, dan pastinya, anggota klan api suci akan berpikiran buruk tentang dirinya.
Oleh karena itu, ia lebih memilih untuk menyerahkan hal itu pada Huo Ming, karena bagaimanapun juga, Huo Wen adalah adiknya dan dia lebih pantas memberi hukuman pada adiknya itu.
"Lalu, apa yang akan anda lakukan sekarang?"
"Aku akan menunggu kedatangan para pemimpin sekte, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah yang akan datang."
"Aku minta maaf atas tindakan bodoh yang dilakukan oleh adikku" ucap Huo Qian.
"Paman, tidak ada yang tahu isi hati seseorang, jadi jangan minta maaf atas tindakan yang tidak kau lakukan."
"Tapi..."
"Bukankah kita adalah keluarga?"
Huo Qian tersenyum, "Anda benar, kita adalah keluarga."
Pada awalnya, Huo Qian juga tidak menyukai Yun Fei, namun seiring dengan berjalannya waktu, rasa tidak suka itu malah berubah menjadi rasa hormat dan kagum.
Dan sampai saat ini, Huo Qian masih belum bisa percaya jika pemuda seusia Yun Fei memiliki pemikiran yang jauh melampaui usianya, yang bahkan tidak dimiliki oleh orang tua sepertinya.