
"Memangnya seberapa kuat kekuatan petir merah ini?" tanya Yun Fei.
Pria itu diam sejenak seraya memikirkan sesuatu, "kau lihat dua batu besar yang ada di sana?" Tanya pria itu setelah diam cukup lama.
"Iya, aku melihatnya."
"Mari kita hancurkan batu itu dengan kekuatan petir milik kita."
Meski tidak paham dengan maksud pria itu, namun ia akan tetap melakukannya, karena dirinya ingin mengetahui seberapa besar kekuatan petir merah yang ada dalam dirinya itu.
Dhuaaar!
Ledakan terjadi saat Yun Fei dan pria itu mengerahkan kekuatan mereka dan hanya dalam sekejap mata, kedua bongkahan batu yang cukup besar itu langsung hancur.
"Ikut aku" ucap pria itu, lalu menghampiri batu yang telah hancur tersebut.
"Kau lihat perbedaannya?"
Yun Fei memfokuskan pandangannya pada dua batu yang telah hancur itu. Keduanya memang sama-sama hancur, namun ada perbedaan yang cukup besar antara keduanya.
Batu yang diserang oleh pria itu hancur dan menjadi puluhan hingga ratusan kepingan kecil, sementara batu yang diserang Yun Fei, berubah menjadi debu yang sangat halus.
Sebelum melakukan serangan, keduanya telah menyesuaikan tingkat kekuatan yang akan dikerahkan, hal itu mereka lakukan agar tidak ada perbedaan dalam dampak serangannya nanti.
Akan tetapi, walaupun kekuatan mereka sudah disesuaikan ditingkatkan yang sama, namun dampak dari serangan yang mereka lakukan tetap ada perbedaan yang sangat besar.
"Apa kau sudah mengerti?"
Yun Fei mengangguk, "sekarang aku mengerti, kekuatan petir merah ini memiliki daya hancur yang sangat dahsyat."
"Itulah kenapa aku menyarankan untuk menemukan pedang yang sesuai dengan kekuatanmu itu."
"Sudahlah, sebaiknya kau lanjutkan latihan-mu, karena gerakan-mu saat memperagakan teknik itu masih sangat kasar."
"Baik!"
(Flashback end)
***
"Cukup, kau bisa menghentikannya sekarang."
"Hah" Yun Fei menghela napas panjang untuk mengatur napasnya, lalu setelah itu, ia menghampiri pria misterius yang telah membimbing dirinya selama beberapa bulan ini.
"Apakah sudah selesai?"
Pria itu mengangguk, "untuk saat ini, gerakan-mu sudah cukup bagus, jika dilatih lagi, aku yakin gerakan-mu akan benar-benar sempurna."
"Oleh karena itu, kau harus menjalani latihan tahap selanjutnya, yaitu latihan mengendalikan diri."
Tiga hal yang dijelaskan oleh pria itu sebelumnya, adalah dasar yang harus dimiliki untuk menguasai tekniknya itu, namun untuk mencapai kesempurnaan, haruslah memiliki hal lain.
Hal lain yang dimaksud itu adalah ketenangan, satu-satunya kunci yang harus dimiliki oleh Yun Fei untuk mencapai kesempurnaan dalam menguasai teknik itu.
"Baiklah, mohon bimbingannya, senior!"
Pria itu mengangguk, "latihannya bukan di sini."
"Lalu dimana?"
"Kau akan tahu setelah tiba di sana."
Setelahnya, pria itu mengajak Yun Fei menuju ke suatu tempat yang jaraknya cukup jauh dari sana, dan disepanjang perjalanan, ia menjelaskan hal-hal penting mengenai tekniknya itu.
Tidak hanya itu saja, pria itu juga menjelaskan mengenai sejarah terciptanya teknik tersebut, seolah dia sangat mengenal dan mengetahui siapa pencipta teknik itu.
"Maaf jika aku lancang, tapi kenapa kau bisa mengetahui teknik khusus klan langit cerah?"
Pria itu tiba-tiba saja berhenti, kemudian mengarahkan pandangannya ke langit, "karena aku pernah menjadi bagian dari klan itu."
"Hmm... aneh."
"Apanya yang aneh?" tanya Yun Fei bingung.
"Kenapa kau tidak kaget setelah mengetahui asal-ku?"
Pada awalnya, Yun Fei tidak mengetahui apapun mengenai teknik yang ia pelajari itu, tapi berkat Yun Bing, ia akhirnya mengetahui jika pria yang mengajarinya itu berasal dari klan awan.
Namun, yang masih tidak bisa ia mengerti adalah, apa alasan pria itu mengajarkan teknik khusus milik klan awan padanya, padahal dia bukanlah bagian dari klan itu.
"Tidak perlu memikirkan alasannya, yang jelas, aku mengajarimu teknik ini dengan suka rela."
"Anggap saja ini sebagai penebus kesalahanku, padamu."
Yun Fei tersenyum, "terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih."
***
Setelah menempuh perjalanan selama hampir setengah hari, mereka akhirnya sampai di tempat yang dimaksud, yaitu sebuah sungai yang cukup besar dengan aliran air yang sangat deras.
"Di sini tempatnya?"
Pria itu mengangguk, lalu menebang sebatang pohon hanya dengan sekali ayunan pedang, lalu menyingkirkan dahan-dahan pohon tersebut hingga menyisakan batangnya saja.
Kemudian, pria itu menendang batang pohon tersebut ke sungai dengan mudahnya, seolah-olah batang pohon itu adalah kapas yang sangat mudah untuk ditendang.
Ketika batang pohon itu hanyut terbawa arus yang begitu deras, pria itu kemudian menggunakan energi spiritualnya untuk menahannya, sehingga batang pohon itu tidak terbawa arus.
"Itu akan menjadi tempatmu untuk bermeditasi."
"Apa?! Bagaimana mungkin aku bermeditasi ditempat seperti itu?!"
"Tidak ada yang tidak mungkin selama kau mau berusaha!"
"Tapi..."
"Jangan membantah dan turuti saja perkataan-ku!"
Yun Fei tersentak dan lagi-lagi, ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa membantah. Selama ini ia selalu bertanya-tanya mengenai hal itu, namun tidak pernah menemukan jawabannya.
"Baiklah" ucapnya, lalu melompat keatas batang pohon tersebut.
Ketika Yun Fei menginjakkan kakinya di sana, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam air, namun pria itu langsung membantunya agar tidak hanyut terbawa arus.
"Sebelum kau bermeditasi, kau harus melatih keseimbangan lebih dulu, jika tidak, kau tidak akan pernah bisa bermeditasi di sana."
Berkali-kali Yun Fei mencoba untuk naik ke batang pohon itu, namun setiap kali ia berhasil naik ke sana, ia hanya bisa bertahan selama beberapa detik dan akhirnya kembali jatuh ke sungai.
"Sial! Menjaga keseimbangan di sana jauh lebih sulit dari dugaan-ku!"
"Yang membuat sulit itu dirimu sendiri, makanya, gunakan otakmu itu!"
"Perhatikan ini!" ujar pria tersebut, kemudian melompat naik ke atas batang pohon itu.
Berbeda dengan Yun Fei yang selalu jatuh setelah bertahan selama beberapa detik, pria itu justru tidak terjatuh sejak menginjakkan kakinya di sana, bahkan ia tidak bergerak sama sekali.
"Jika kau bisa menjaga keseimbangan-mu, maka kau bisa melakukan apapun yang kau mau."
Di tengah derasnya arus air sungai yang tentunya mengguncang batang pohon itu, pria misterius itu malah dengan mudahnya memperagakan teknik yang ia ajarkan pada Yun Fei.
Guncangan yang terjadi karena arus, tidak hanya tidak mengacaukan keseimbangannya, tapi juga tidak berhasil mengacaukan konsentrasinya dalam memperagakan teknik itu.
"Dia benar-benar luar biasa, andai saja dia mau menerimaku sebagai murid..."
"Tidak, aku tidak perlu memikirkan itu lagi, bisa diajari olehnya saja sudah merupakan keberuntungan untukku."
"Hei, kenapa kau malah melamun? Cepat lakukan seperti yang aku jelaskan tadi!"
"Ba-baik!"
Selama ini, Yun Fei berpikir jika tidak ada orang yang pantas untuk menjadi gurunya, tapi sejak bertemu dan belajar banyak hal dengan pria itu, pikiran itu sudah menghilang entah kemana.
Dan sekarang, malah dia yang dianggap tidak pantas untuk menjadi seorang murid. Meski begitu, ia tidak merasa kecewa sedikitpun, karena ia sadar jika dirinya-lah yang menyebabkan hal itu.
"Selama ini aku sudah sombong dan sekarang, aku menerima akibat dari kesombongan itu."