
Tubuh Lin Xia bergetar saat menatap sosok berjubah hitam yang tengah berdiri menatapnya, namun getaran itu bukan berasal dari rasa takut, melainkan kebahagiaan yang tidak tertahankan.
Sudah beberapa puluh tahun berlalu sejak dirinya meninggalkan rumah, dan selama itu pula-lah dia tidak bertemu dengan sosok yang paling ia kagumi di alam semesta ini.
"Kakek!"
Lin Xia berteriak dan langsung berlari menghampiri sosok berjubah hitam itu, kemudian ia memeluknya dengan erat, seperti anak kecil yang baru bertemu dengan kakeknya setelah sekian lama.
"Apakah sudah selesai?!"
Lin Xia tersentak kaget dan langsung melepaskan pelukannya, "ma-maaf" ucapnya pelan.
"Kau pergi dari rumah tanpa pamit dan sekarang hanya kata itu saja yang keluar dari mulutmu?!"
"Dasar bocah nakal! Apa kau tahu bagaimana khawatirnya ibu dan nenekmu?!"
Lin Xia hanya tertunduk tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Situasi yang ia alami saat ini tidak ubahnya seperti seorang anak yang sedang dimarahi karena melakukan kesalahan.
Disisi lain.
Yun Aotian hanya bisa tercengang saat menyaksikan peristiwa langka didepannya itu, karena Lin Xia yang tak terkalahkan, nyatanya tidak bisa berkutik didepan kakeknya sendiri.
"Aku baru tahu kalau Tuan Muda memiliki sisi lain seperti ini."
Selama dua puluh tahun terakhir, Yun Aotian hanya mengenal sisi tegas yang dimiliki oleh Lin Xia, ia bahkan jarang melihat tuannya itu tertawa lepas seperti sekarang ini.
"Siapa itu?" tanya pria berjubah hitam yang tidak lain adalah Lin Feng.
"Dia bawaan-ku, namanya Yun Aotian" jawab Lin Xia.
Yun Aotian bergegas menghampiri Lin Feng, kemudian memperkenalkan diri seraya memberi hormat padanya.
"Yun Aotian memberi hormat pada Tuan."
Meski usianya wajahnya terlihat lebih muda, namun Yun Aotian menyadari jika pria didepannya itu jauh lebih tua darinya, dan ia yakin jika kekuatan pria itu melebihi kekuatan Lin Xia.
Lin Feng mengangguk, "terima kasih karena sudah menjaga cucuku."
"Tidak perlu berterima kasih, Tuan. Sudah merupakan kewajiban hamba untuk menjaga Tuan Muda" sahut Yun Aotian.
"Meski begitu, aku tetap harus mengucapkan terima kasih padamu, karena kalau tidak, bocah nakal ini pasti sudah menimbulkan kekacauan."
"Hmm... benar juga, apa selama disini dia melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan kekacauan?" tanya Lin Feng.
Lin Xia tersentak kaget mendengar pertanyaan itu, ia kemudian mengarahkan pandangannya pada Yun Aotian, lalu memberi isyarat agar tidak mengatakan apapun.
Karena sudah mengikuti Lin Xia selama dua puluh tahun, Yun Aotian tentu saja paham apa maksud dari isyarat mata itu, tapi masalahnya adalah, ia tidak yakin apakah bisa menipu Lin Feng atau tidak.
"I-itu..."
"Tidak usah dilanjutkan, aku sudah paham situasinya!" ujar Lin Feng, lalu mengarahkan tatapan tajam pada cucunya itu.
Lin Xia tersenyum kecut, ia tentunya mengetahui arti dari tatapan tajam kakeknya itu, "ka-kakek, de-dengarkan penjelasan-ku."
"Tidak usah dijelaskan, aku sudah mengetahui semuanya!"
"Habis sudah, sekarang tidak ada lagi yang bisa menghentikan kakek."
"Kakek, a-aku hanya..."
"Hanya apa?!"
"Maafkan aku!" ujar Lin Xia yang telah melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan kakeknya itu.
"Kemari kau, bocah nakal!"
"Nenek, tolong aku!"
"Nenekmu tidak ada di sini, dan tidak ada yang bisa menghentikan-ku untuk menghukum-mu!"
Sementara itu.
Huo Ling yang sedang latihan seperti biasa, tiba-tiba saja dikejutkan oleh kemunculan gurunya, namun yang lebih mengejutkan lagi adalah ekspresi takut yang ada di wajah gurunya itu.
"Guru, apa yang terjadi?"
"Xiao Ling, kau harus membantuku, jika tidak, aku akan mati hari ini juga!"
"Apa?!"
Perkataan Lin Xia benar-benar membuat Huo Ling kaget juga penasaran, penasaran pada apa yang membuat sosok sekuat gurunya itu sangat ketakutan.
Deg!
Tidak hanya perkataannya saja, tapi detak jantungnya juga seakan terhenti ketika Lin Feng melihat Huo Ling, meski baru pertama kali bertemu, namun ia bisa merasakan segalanya.
"Siapa kau?!" tanya Huo Ling.
Perasaan sedih yang begitu besar muncul dalam dadanya saat Lin Feng mendengar pertanyaan itu, dan hanya mampu ia ekspresikan melalui raut wajah serta air mata yang berlinang.
"Kakek, aku akan menjelaskan semuanya" ucap Lin Xia.
"Hah" Lin Feng menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, kemudian menghampiri Huo Ling, "nak, siapa namamu?"
"Huo Ling."
"Nama yang bagus" ucap Lin Feng.
Saat ini, ingin rasanya Lin Feng memeluk tubuh itu dengan erat, namun ia hanya bisa menahan keinginannya itu, karena ia sadar jika gadis didepannya itu tidak mengenali dirinya.
"Guru, siapa orang ini?" tanya Huo Ling.
"Ah, maafkan aku, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Lin Feng dan bocah nakal yang kau panggil 'guru' ini adalah cucuku."
"Lin Feng?"
Perasaan aneh muncul dalam diri Huo Ling saat mendengar nama itu, nama yang selama ini hadir dalam mimpi dan muncul dalam ingatannya, nama yang terasa sangat tidak asing baginya.
"Ada apa, Huo Ling?"
Huo Ling menggeleng pelan, "aku hanya..." perkataannya terhenti, ia bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjelaskan apa yang dirinya rasakan saat ini.
"Xiao Ling, kau boleh beristirahat, aku ingin bicara dengan kakekku sebentar" ucap Lin Xia.
"Baik, guru!"
Kemudian, Lin Xia mengajak Lin Feng untuk kembali ke istana klan, lalu setelah itu, barulah ia menjelaskan semua hal yang terjadi, dan alasan kenapa Huo Ling tidak mengenalnya.
Lin Feng terdiam, karena untuk pertama kalinya, ia merasa jika dirinya sangat tidak berdaya, sangat tidak berdaya sampai dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk membantu anaknya.
"Bagaimana dengan Jia Zhen?"
"Reinkarnasi paman adalah seorang pemuda yang hebat, namun dia memiliki masa kecil yang sedikit suram" jawab Lin Xia.
"Lalu, dimana dia sekarang?"
Lin Xia kemudian menceritakan tentang kehidupan Yun Fei, ia juga menceritakan tentang tujuan Yun Fei yang ingin membalaskan dendam ayah dan juga ibunya yang telah meninggal.
"Dan masalah itu?"
"Untuk saat ini, aku masih belum berhasil menyatukan mereka, karena ada masalah yang menimpa mereka."
"Kakek tidak usah khawatir, karena selama ada aku di sini, tidak akan ada yang bisa menyakiti mereka berdua."
"Kakek bangga padamu" sahut Lin Feng, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Kakek mau kemana?"
"Mencari reinkarnasi pamanmu."
"Tunggu, bagaimana dengan Yin Lang? Bukankah dia yang membantu kakek untuk sampai ke sini?"
"Membantu apanya? Aku bisa ke sini dengan usahaku sendiri!"
"Maksud kakek?"
Sejak kedua anaknya meninggal, Lin Feng selalu berusaha mencari keberadaan reinkarnasi mereka, namun usahanya tidak pernah membuahkan hasil.
Hingga pada suatu hari, ia merasakan keberadaan aura yang sangat kecil dari dimensi yang sangat jauh, dan aura itu adalah aura milik Yin Lang yang sedang berusaha menghubungi dirinya.
Berkat kemunculan aura kekuatan itu, Lin Feng akhirnya mengetahui dimana mereka berada, dan karena kemunculan aura itu jugalah, dirinya bisa membuka gerbang dimensi ke tempat tersebut.
"Ini benar-benar aneh, bukankah kakek memiliki kemampuan untuk memantau setiap dimensi?"
"Kau benar, tapi tidak dengan dimensi ini."
"Aku masih tidak paham" sahut Lin Xia.
Lin Feng menjelaskan jika kemampuan khususnya itu sama sekali tidak bisa menembus dimensi tempat mereka berada sekarang, bahkan ia tidak bisa membuka gerbang ke dimensi itu.
Karena itulah, ia tidak mengetahui dimana reinkarnasi kedua anaknya berada, namun berkat usaha Yin Lang, ia akhirnya berhasil mencapai dimensi misterius tersebut.