
"Guru!" sapa Yun Fei dan Huo Ling serempak.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua" sahut Lin Feng.
"Murid siap mendengarkan, guru!"
Lin Feng mengangguk, lalu menjelaskan bahwa dirinya akan menurunkan satu teknik pedang pada mereka berdua, yang tidak lain adalah gabungan dari teknik yang telah mereka kuasai.
"Maksud guru?"
"Mendekat-lah."
Yun Fei dan Huo Ling mengangguk, lalu mereka menghampiri Lin Feng dan kemudian berlutut di hadapannya.
Setelah itu, Lin Feng menyentuh dahi Yun Fei dengan ujung telunjuknya, lalu dengan kekuatan yang ia miliki, Lin Feng memberikan ingatan mengenai teknik pedang yang ia maksud sebelumnya.
Ingatan mengenai teknik yang dimaksud oleh Lin Feng tergambar jelas dalam benak Yun Fei, mulai dari cara menggunakan teknik itu hingga kekuatan yang dimiliki teknik tersebut.
Selesai menurunkannya pada Yun Fei, Lin Feng kemudian melakukan hal yang sama pada Huo Ling, dan sama seperti kekasihnya, Huo Ling juga bisa melihat semuanya dengan jelas.
"Latihlah teknik ini hingga sempurna dan jika kalian berhasil, aku yakin kalian akan menjadi kultivator yang hebat" ucap Lin Feng.
"Baik guru!"
Lin Feng mengangguk, kemudian mengeluarkan sebilah pedang hitam dari cincin penyimpanannya, lalu menyerahkan pedang kebanggaannya itu pada Yun Fei.
Disaat yang bersamaan, Lin Feng berharap saat Yun Fei menyentuh pedang itu, ingatan mengenai masa lalunya akan kembali, namun sayangnya harapan itu tidak menjadi kenyataan.
Jangankan mengingat siapa dirinya yang sebenarnya, Yun Fei bahkan terlihat sedikit kesulitan mengangkat pedang hitam tersebut, padahal dirinya sudah diakui oleh pedang dewa Asura itu.
"Apa ini karena kekuatannya?"
"Gunakan kekuatan petir-mu."
"Baik, guru!" ujar Yun Fei, lalu mengalirkan kekuatan petir merah kedalam pedang hitam itu.
Seketika itu juga, pedang yang awalnya terasa sangat berat langsung menjadi ringan, bahkan pedang berwarna hitam itu jauh lebih ringan daripada pedang biasanya.
"Guru, pedang apa ini?" tanya Yun Fei.
"Kau akan mengetahuinya nanti" jawab Lin Feng, lalu menghampiri Huo Ling, "ini untukmu" ucapnya seraya menyerahkan sebuah mutiara berwarna merah keemasan.
"Terima kasih, guru!"
"Baiklah, ini yang terakhir. Aku ingin menyampaikan pada kalian berdua jika hari ini, aku dan Lin Xia akan meninggalkan tempat ini."
"Apa?! Tapi, kenapa guru?"
"Karena sejak awal, kami bukan berasal dari tempat ini" jawab Lin Feng.
"Tapi..."
"Jika sudah tiba masanya, aku yakin kita akan bertemu lagi dan saat itu, aku harap kalian sudah mengingat siapa kalian sebenarnya."
"Yun Fei, Huo Ling, aku harap kalian selalu bersama untuk selamanya" sahut Lin Xia.
"Guru, tidak bisakah guru menunda kepergian sampai pernikahan kami?"
Lin Feng tersenyum seraya menggeleng pelan, "aku akan menyaksikan pernikahan kalian dari jauh" ucapnya.
"Selamat tinggal! Jaga diri kalian baik-baik!"
Setelah mengucapkan selamat tinggal, Lin Feng dan Lin Xia menghilang dari hadapan mereka berdua, kemudian muncul lagi di ruang bawah tanah istana klan Asura.
"Kakek."
"Tidak perlu sedih, kau sudah terlalu tua untuk meneteskan air mata" ujar Lin Feng.
Lin Xia hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun lagi, karena ia tahu jika perkataan kakeknya itu hanya ia ucapkan untuk menutupi kesedihannya sendiri.
"Mari kita pulang!"
***
Sudah tiga bulan berlalu sejak kepergian Lin Feng dan Lin Xia, dan selama itu pula, Yun Fei dan Huo Ling sudah melakukan beberapa perubahan dalam kehidupan mereka.
Perubahan pertama yang mereka lakukan adalah, dengan menyatukan dua klan kuno. Tentunya hal ini dilakukan setelah pernikahan mereka dilangsungkan.
Dengan kata lain, di benua Huangwu saat ini sudah tidak ada lagi klan Api suci ataupun klan dewa angin, yang ada hanyalah klan Asura yang dipimpin langsung oleh Yun Fei.
Perubahan kedua adalah, Yun Fei telah merubah nama klan mereka menjadi klan Asura. Perubahan ini ia lakukan untuk mengingat dan mengenang guru mereka yang berasal dari klan Asura.
Meski sempat menuai kritik dari kedua belah pihak, namun pada akhirnya keputusan itu disetujui, karena mengingat jasa klan Asura sudah sangat besar untuk kedua klan itu.
Setelah klan Asura terbentuk, Yun Fei kemudian memindahkan anggota klan ke wilayah klan Asura sebelumnya, lalu ia menyegel kedua wilayah klan agar tidak dirusak oleh orang lain.
Lalu yang terakhir, Yun Fei juga mendirikan sebuah sekte yang bernama sekte Huoshan, dan murid-murid sekte itu sendiri berasal dari para generasi muda dari kedua klan.
"Xiao Ling, apa pendapatmu tentang hal ini?"
"Aku setuju dengan keputusanmu itu, tapi membesarkan nama sekte bukanlah hal yang mudah."
Yun Fei mengangguk, "aku mengerti hal itu, karena itulah aku ingin menemui para pemimpin sekte besar secara langsung."
"Itu terlalu berbahaya!"
"Kau tenang saja, aku tidak akan pergi jika hal ini mengancam nyawaku" sahut Yun Fei.
"Apa aku boleh memberikan saran?"
Yun Fei dan Huo Ling menoleh, kemudian tersenyum ramah pada Huo Wen yang baru saja memasuki aula pertemuan.
"Silahkan, paman."
"Bagaimana kalau kita mengundang mereka datang ke sini? Bukankah itu jauh lebih baik daripada mendatangi mereka satu-persatu?"
"Hmm... ide paman cukup menarik, tapi siapa yang akan menyampaikan undangan itu?"
"Kau tenang saja, karena aku sendiri yang akan mengundang mereka."
"Apa paman yakin?"
Huo Wen mengangguk, "tentu saja, lagipula tidak ada yang bisa aku lakukan di sini. Dan jujur saja, aku sudah lama tidak jalan-jalan."
"Baiklah, kalau begitu tugas ini aku serahkan pada paman."
"Dengan senang hati, patriark!" ujar Huo Wen, kemudian pergi meninggalkan aula setelah berpamitan pada mereka berdua.
"Bagus, dengan begini, aku bisa menjalankan rencana-ku dengan lebih mudah."
Klan api suci dan klan dewa angin memang sudah menyatu, bahkan tidak ada seorangpun lagi yang mempermasalahkan keputusan Yun Fei tersebut.
Akan tetapi, bukan berarti tidak ada yang tidak menyukai keputusan itu dan salah satunya adalah Huo Wen. Walaupun ia terlihat biasa saja, namun dalam hatinya masih menyimpan dendam pada Yun Fei.
"Kenapa kau menyerahkan tugas itu padanya?!" tanya Huo Ling yang nampak kesal.
"Memangnya kenapa?"
"Hah" Huo Ling menghela napas panjang seraya menggeleng pelan, "kau sendiri sudah tahu kalau paman..."
"Aku hanya menghargainya karena dia adalah pamanmu" sahut Yun Fei.
Perkataan suaminya itu membuat senyuman indah muncul di bibir Huo Ling, "terima kasih, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Itu tidak akan terjadi, karena aku akan mengawasi pergerakannya setiap saat."
Sebagai seorang pemimpin klan, Yun Fei tentu mengetahui apa-apa saja yang dilakukan oleh anggota klan-nya, termasuk rencana Huo Wen yang ingin melakukan kudeta.
Selain itu, Yun Fei sudah mengetahuinya sejak lama, tapi ia lebih memilih untuk diam karena masih menghargai Huo Ling dan bagaimanapun juga, Huo Wen adalah paman istrinya itu.
Meski begitu, Yun Fei tentunya tidak akan diam saja, ia bahkan sudah menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi jika Huo Wen benar-benar akan melakukan kudeta.