The God Of Void

The God Of Void
Chapter 19. Kembali ke kota Hufeng



Meski umurnya masih terbilang muda, namun kekuatan yang ia miliki sudah jauh melebihi pemuda seusianya, dan itulah alasan kenapa pemimpin klan kuno sangat menghormatinya.


Selain kekuatan, ia juga memiliki status yang tidak bisa dipandang rendah, karena dia adalah anggota inti klan Asura dan memiliki hubungan darah dengan pemimpin klan Asura.


Oleh karena itu, di benua Huangwu ini tidak ada yang berani mengusiknya, termasuk kedua klan kuno sekalipun, karena kekuatan yang ia miliki, sangat jauh dari jangkauan mereka.


Halaman belakang istana.


"Kabar ini harus segera disampaikan pada kakek. Tapi sebelum itu, aku harus memastikannya terlebih dahulu."


Setelah mendengar informasi dari Yun Hao, pemuda itu tidak pernah tenang dan selalu memikirkannya, karena keberadaannya di sana, berkaitan erat dengan Huo Ling.


Akan tetapi, ia tidak mungkin percaya begitu saja pada Yun Hao, karena bisa saja pria itu berbohong padanya, apalagi ia sudah mengetahui bagaimana sifat Yun Hao yang sebenarnya.


Oleh karenanya, pemuda itu memutuskan untuk menyelidikinya secara langsung, agar ia bisa mengetahui apakah Huo Ling adalah orang yang selama ini ia cari atau bukan.


"Yun Hao, sebaiknya kau tidak menipuku!"


***


Wushh.


Boom!


Setelah melakukan penyerapan selama hampir tiga Minggu, dari dalam tubuh Yun Fei akhirnya terdengar suara ledakan teredam, yang menandakan jika kultivasi-nya telah meningkat lagi.


Dengan bantuan kekuatan roh laba-laba raksasa, kultivasi Yun Fei kini telah berhasil meningkat ke ranah selanjutnya, yaitu ranah spirit langit level satu.


"Hah" Yun Fei menghela napas panjang seraya membuka matanya, "akhirnya meningkat ke ranah selanjutnya."


"Sekarang, aku harus menemukan tempat untuk makan" gumamnya, lalu beranjak meninggalkan gua tersebut.


Selama tiga bulan lebih melakukan perjalanan, Yun Fei telah mengunjungi banyak tempat di benua Huangwu ini, khususnya tempat yang ada di wilayah Utara benua Huangwu.


Namun, ia tidak menyadari jika langkah kakinya terus membawanya mendekati kota pertama yang ia kunjungi, yaitu kota Hufeng yang ada di wilayah timur benua Huangwu.


"Siapa sangka kalau akhirnya aku akan kembali ke kota ini lagi" gumam Yun Fei menatap ke-arah kota Hufeng yang berada cukup jauh di depannya.


Yun Fei menghela napasnya, "apapun yang akan terjadi, cukup hadapi dengan segenap kekuatan yang ada!"


Setelah menyemangati dirinya sendiri, Yun Fei kemudian melangkahkan kakinya mendekati kota Hufeng, namun langkahnya terhenti saat merasakan aura keberadaan orang lain di sekitarnya.


"Wah, apa ini? Bukankah ini adalah sampah yang mengganggu kita waktu itu?"


Yun Fei mengerutkan dahi seraya menatap tajam pada beberapa pria di depannya itu, ia berpikir dengan keras untuk mengingat mereka, namun hasilnya malah sia-sia.


"Siapa kalian? Apa kita pernah saling bertemu sebelumnya?"


"Jangan pura-pura lupa, kami adalah murid sekte pilar suci yang waktu itu kau hajar habis-habisan!"


"Sekte pilar suci? Aku tidak merasa telah..." Yun Fei menghentikan ucapannya saat mengingat sesuatu dalam benaknya.


"Ah, sepertinya aku sudah ingat, apa kalian orang-orang yang waktu itu?"


"Benar! Kami adalah orang yang waktu itu dan sekarang, kami akan menuntut balas atas perbuatan-mu waktu itu!"


"Apa kalian tidak salah? Bukankah kalian sendiri yang datang dan menggangguku!?"


"Aku tidak peduli! Yang jelas, kau harus menerima balasannya!" ujar salah seorang dari kultivator tersebut.


Kemudian, mereka mencabut pedang dari sarungnya, lalu melesat maju dan menyerang Yun Fei bersama-sama.


"Jika dulu aku bisa mengalahkan kalian, maka sekarang aku akan membunuh kalian!"


Meski belum lama menyusuri dunia kultivator yang luas ini, namun Yun Fei sudah mempelajari beberapa hal penting, salah satunya adalah hukum yang berlaku di dunia ini.


Dalam dunia yang kejam ini, hanya ada dua pilihan yang berlaku yaitu, jika tidak ingin diinjak maka harus menginjak dan jika tidak ingin dibunuh maka harus siap untuk membunuh.


Hidup di dunia kultivasi yang kejam ini, tidak ubahnya seperti hidup di dalam hutan belantara, yang mana penghuninya hanya ada dua macam, yaitu mangsa dan pemangsa.


Hal itulah yang sekarang Yun Fei alami, padahal ia sudah memaafkan mereka, tapi mereka malah datang lagi dan ingin menuntut balas atas perbuatan yang sama sekali tidak ia lakukan.


Namun, berkat hal itu. Yun Fei akhirnya sadar jika keputusannya waktu itu sangatlah naif, karena di dunia ini tidak ada yang namanya kata maaf untuk seorang musuh.


Slash.


Slash.


Teriakan mengiris hati menggema di tempat itu, pemuda yang sebelumnya nampak tenang dan santai, sekarang malah berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan.


Dengan mudahnya, ia membantai para kultivator itu satu-persatu, bahkan cara ia membunuh mereka sangatlah kejam, bahkan terlalu kejam untuk seorang pemuda sepertinya.


"Ja-jangan bunuh aku, a-aku mohon..."


"Bukankah tujuan kalian adalah untuk balas dendam?"


"Maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengusik-mu lagi."


"Maaf? Aku tidak tahu apa arti dari kata maaf itu" sahut Yun Fei, lalu memenggal kepala pria di depannya itu.


"Seharusnya, aku melakukan hal ini sejak lama, memusnahkan siapapun yang berani mengganggu ketenangan-ku!"


Setelah mengumpulkan cincin penyimpanan mereka, Yun Fei kemudian melanjutkan perjalanan menuju kota Hufeng, karena ia harus segera mengisi perutnya.


Setibanya di kota Hufeng, tempat pertama yang Yun Fei kunjungi bukanlah kedai yang menjual makanan, melainkan rumah lelang Phoenix.


"Kak Mei" sapa Yun Fei pada gadis muda yang tengah duduk termenung.


"Fei, kapan kau kembali?" tanya Mei Lien, lalu menoleh ke arah pintu masuk, "dimana Huo An? Apa dia juga kembali bersamamu?"


Yun Fei menggeleng pelan, "kak Huo masih ada urusan di klan-nya, jadi belum bisa kembali."


Raut wajah Mei Lien nampak berubah, ada kekecewaan yang tergambar jelas di sana. Namun, ia segera mengendalikan dirinya, agar Yun Fei tidak menyadari apa yang ia rasakan.


"Apa kau lapar?"


"Sayangnya iya dan itulah tujuanku datang ke sini" jawab Yun Fei.


"Baiklah, mari ikut aku" sahut Mei Lien, lalu mengajak Yun Fei menuju ke ruangannya.


***


Sekte Pilar Suci.


"Tetua, lima orang murid kita sudah tewas" ucap seorang pemuda berumur 25 tahun.


"Murid aliran luar atau murid aliran dalam?"


"Mereka adalah murid aliran dalam, salah satunya adalah murid yang masuk dalam peringkat 100 terkuat" jawab pemuda itu.


Pria tua itu langsung berdiri dari tempat duduknya, kemarahan nampak tergambar jelas di raut wajahnya.


"Selidiki dimana dan siapa yang membunuh mereka!"


"Baik, tetua!" ujar pemuda tersebut, kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah pemuda itu pergi, tetua sekte pilar suci itu juga pergi meninggalkan tempatnya, lalu menuju ke sebuah bangunan megah yang berada di puncak bukit yang cukup tinggi.


"Selamat datang, tetua keempat" sapa pria yang duduk di singgasana.


Pria tua itu membungkuk untuk memberi hormat, "patriark, aku membawa berita buruk" ucapnya.


"Katakan!"


"Salah seorang murid aliran dalam yang masuk peringkat 100 murid terbaik telah dibunuh."


"Apa!?"


"Saat ini, aku sedang menyelidiki siapa pembunuhnya."


"Bagus! Tangkap pembunuh itu dan bawa ke hadapanku!"


"Baik, patriark!"