
Satu Minggu kemudian.
Pemuda berusia sembilan belas tahun, nampak tengah berdiri ditepi jurang, tatapan matanya tertuju pada dasar jurang yang bahkan tidak terlihat sama sekali.
"Setelah tiga tahun, akhirnya aku berhasil meninggalkan jurang ini."
Kemudian, pemuda itu mengeluarkan sebuah topeng dan jubah hitam dari cincin penyimpanannya.
"Iblis bertopeng, aku rasa ini adalah akhir dari dirimu" ucapnya pelan, lalu membuang topeng dan jubah tersebut.
Setelah jubah dan topeng itu tidak terlihat lagi, pemuda yang tidak lain adalah Yun Fei itupun mengarahkan pandangannya ke langit, lalu menghela napas panjang.
Bersamaan dengan helaan napasnya itu, Yun Fei membuang semua beban yang selama ini membebani pikirnya, kecuali satu hal, yaitu rasa sakit yang ditinggalkan oleh Huo Ling.
Yun Fei sendiri tidak mengerti kenapa rasa sakit itu tidak bisa hilang. Padahal, waktu yang ia habiskan untuk melupakannya tidaklah sebentar, tapi tetap saja tidak hilang sedikitpun.
"Hah" Yun Fei menghela napas panjang, "sebaiknya aku pergi ke tempat yang lebih jauh dari sini."
Deg!
Baru saja hendak melangkahkan kaki, luka tebasan di dada Yun Fei tiba-tiba saja terasa sangat sakit, bahkan rasa sakit itu sampai membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Huo Ling, apa terjadi sesuatu padanya?!"
"Cihh! Aku tidak bisa tidak kalau tidak memastikannya secara langsung!" ujarnya, lalu melesat kearah klan api suci.
Walau sudah tiga tahun berlalu, namun ia masih mengingat dengan jelas dimana klan api suci berada. Lebih tepatnya, ia tidak bisa melupakan hal-hal yang berhubungan dengan Huo Ling.
Selain itu, jarak antara jurang itu dan wilayah klan api suci juga tidak terlalu jauh, sehingga semakin sulit baginya untuk melupakan segala sesuatu tentang Huo Ling.
***
Sementara itu, di klan api suci.
Seluruh anggota klan api suci nampak tengah berjuang mempertahankan klan mereka, karena para hewan spiritual yang sangat banyak jumlahnya tiba-tiba saja menyerang.
Tidak ada yang mengetahui apa yang menyebabkan para hewan itu menyerang klan api suci, yang jelas, mereka tiba-tiba saja datang dan menghancurkan apapun yang dilihatnya.
Dengan jumlah yang sangat banyak serta kekuatan yang luar biasa, para hewan spiritual itu-pun berhasil menghancurkan hampir setengah wilayah klan.
Selain itu, tidak adanya persiapan dari pihak klan api suci juga memudahkan para mereka untuk menyerang, bahkan jumlah korban dari serangan itu sampai tidak terhitung jumlahnya.
"Huo An! Bagaimana dengan para wanita dan anak-anak?!"
"Mereka semua sudah berada ditempat yang aman!" jawab Huo An yang baru saja datang ke medan pertempuran.
"Sial! Darimana datangnya para hewan sialan ini?!"
"Groaarrr!"
"Hati-hati! Itu adalah hewan spiritual tingkat tinggi!"
Dhuaaar!
Sebuah ledakan dahsyat berhasil mengejutkan semua orang, mereka yang tengah bertarung sontak mengalihkan pandangannya kearah sumber ledakan tersebut.
"Tunggu! Bukankah itu dari tempat evakuasi?!"
"Sial! Ternyata mereka sudah sampai di sana."
"Aku akan mengurusnya!" ujar Huo Ling, lalu melesat terbang kearah tempat evakuasi.
Namun anehnya, ketika ia sampai di sana, Huo Ling justru tidak menemukan apapun selain mayat para hewan spiritual, dan anehnya lagi, tidak ada siapapun ditempat itu.
"Apa kalian baik-baik saja?"
Mereka semua mengangguk, "kami beruntung karena ada petir yang menyambar mereka."
"Petir?"
"Meski tidak melihatnya dengan jelas, tapi kami yakin kalau itu adalah petir. Petir yang sangat dahsyat dan berwarna merah."
"Petir merah? Apa itu Yun Fei?"
Huo Ling menggeleng pelan dan membuang pikirannya itu, karena untuk saat ini, ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain selain keselamatan anggota klan-nya.
Setelah itu, ia membentuk segel tangan dan menciptakan formasi pelindung untuk melindungi mereka, setelah selesai, ia meninggalkan mereka dan kembali ke pertempuran.
Ketika ia sampai di gerbang klan, hal yang sama kembali terjadi, namun kali ini, ia bisa melihat dengan jelas cahaya berwarna merah melesat ditengah-tengah lautan hewan spiritual.
Hanya dalam sekejap mata, puluhan hewan spiritual kehilangan nyawa dengan kondisi mengenaskan, karena mereka mati dengan tubuh terpotong menjadi beberapa bagian.
"Siapa yang membantu kita?"
"Tidak salah lagi, itu pasti Yun Fei!"
"Jangan diam saja! Habisi hewan-hewan sialan itu!" ujar Huo Qian.
Dengan bantuan cahaya merah itu, klan api suci berhasil membalikkan keadaan, mereka yang awalnya tidak yakin bisa menang, malah meraih kemenangan dengan mudah.
Selain itu, kemenangan tersebut berhasil mereka raih dengan sangat cepat, karena hanya butuh waktu kurang dari setengah jam bagi mereka untuk membantai semua hewan spiritual itu.
"Apa kau merasakan keberadaan seseorang di sekitar sini?"
Huo Wen menggeleng pelan, "aku benar-benar tidak merasakan keberadaan orang lain selain anggota klan kita."
"Siapa sebenarnya orang itu?"
"Yun Fei, aku yakin dia adalah Yun Fei!" ujar Huo Ling.
"Itu tidak mungkin! Jelas-jelas dia sudah mati, jadi bagaimana mungkin dia muncul di sini untuk membantu kita?!"
"Kalaupun memang benar, kita semua pasti merasakan keberadaannya!"
Memang benar, tidak seorangpun dari mereka yang merasakan aura keberadaan orang lain, bahkan Huo Ling sendiri juga tidak merasakan apapun seperti yang lainnya.
Meski demikian, dirinya sangat yakin jika kilatan cahaya merah itu adalah Yun Fei, apalagi ia sempat merasakan keberadaan kekuatan petir yang begitu dahsyat sebelumnya.
Jika itu kekuatan petir biasa, mungkin ia akan mengabaikan hal tersebut, tapi yang ia rasakan itu bukanlah kekuatan petir biasa, melainkan kekuatan petir yang hanya dimiliki oleh Yun Fei.
"Fei, apa kau benar-benar masih hidup?"
"Sudahlah! Siapapun orangnya, yang jelas dia sudah membantu kita dan jika bertemu di kemudian hari, kita harus berterima kasih padanya."
"Yang ayah katakan memang benar! Dan sebagai ketua klan, aku akan berterima kasih secara langsung padanya" sahut Huo Ling.
Disisi lain.
"Syukurlah, aku senang dia baik-baik saja" gumam Yun Fei yang tengah mengamati Huo Ling dari kejauhan.
"Tapi aku benar-benar ceroboh, hampir saja aku membuat keberadaan-ku diketahui oleh mereka semua."
Setelah puas mengamati Huo Ling dari kejauhan, serta memastikan tidak adanya bahaya lain, Yun Fei kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanannya.
Tujuannya kali ini adalah wilayah selatan, karena untuk menjauh dari Huo Ling, ia harus pergi ke tempat yang jauh pula dan menurutnya, wilayah selatan adalah pilihan yang tepat.
Selain jaraknya yang memang sangat jauh, di sana ia bisa menjalani kehidupan yang baru dengan suasana yang baru pula, dengan begitu, mungkin dirinya bisa melupakan Huo Ling.
"Selamat tinggal Huo Ling, aku pasti menepati janjiku untuk tidak muncul di hadapanmu lagi."
***
Kemunculan petir merah yang membantu anggota klan masih terlintas di benak Huo Ling, dan sampai saat ini, ia masih yakin jika orang yang membantu mereka adalah Yun Fei.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Huo Ming.
"Aku tengah memikirkan serangan itu."
"Tidak usah bohong, ayah tahu kau sedang tidak memikirkan hal itu" sahut Huo Ming.
"Bagaimana ayah bisa tahu? Memangnya ayah bisa membaca isi pikiranku?"
Huo Ming tersenyum lembut, "tentu tidak bisa, tapi sebagai orang tua, ayah tentu bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan."
"Benarkah?"
"Yun Fei, bukankah kau sedang memikirkannya?"
"Untuk apa memikirkan seseorang yang sudah mati?"
Huo Ming menghela napas panjang, lalu menceritakan tentang serangan yang terjadi tiga tahun lalu, serangan yang membuatnya terluka parah hingga hampir kehilangan nyawa.
Dalam ceritanya itu, Huo Ming menyampaikan keanehan yang ia rasakan saat berhadapan dengan iblis bertopeng, salah satunya adalah aura kekuatan yang berbeda.
Meski dirinya belum pernah merasakan aura kultivasi iblis bertopeng secara langsung, namun ia sangat yakin jika orang yang menyerangnya waktu itu bukanlah iblis bertopeng.
"Kenapa ayah sangat yakin?" tanya Huo Ling.
"Bukankah kau juga pernah mendengar kabar yang beredar?"
"Maksud ayah?"
"Tidak ada seorangpun yang bisa merasakan aura kultivasi iblis bertopeng" jawab Huo Ming.
"Tapi anehnya, saat itu ayah justru merasakan aura kultivasi-nya, bahkan ayah mengetahui tingkat kekuatannya juga."