
Setelah melakukan perjalanan panjang, Yun Fei akhirnya tiba di salah satu kota di wilayah selatan, sebuah kota yang sangat besar dan indah dengan segala kemegahannya.
"Wah, kota ini jauh lebih megah dari yang aku bayangkan" gumam Yun Fei seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Semoga saja suasana baru ini bisa meringankan rasa sakit dari luka ini."
Setelah puas memandangi kota itu, Yun Fei akhirnya melangkah memasuki kota, namun sebelum langkahnya lebih jauh, seorang pria tiba-tiba saja mendatangi dirinya.
"Tu-tunggu! Jangan pergi dulu."
Yun Fei menoleh dan mengerutkan dahinya, "kau... bukankah kau pria yang waktu itu?"
"Benar, ini aku!" ujar pemuda tersebut.
Saat dalam perjalanan menuju ke kota tempat ia berada sekarang, Yun Fei bertemu dengan seorang pria yang sedang menghadapi sekelompok hewan spiritual.
Pada saat itu, Yun Fei sempat berpikir untuk mengabaikannya, namun karena keadaan pria itu sedang tidak baik-baik saja, iapun memutuskan untuk memberikan bantuan padanya.
"Ada apa? Kenapa kau mencari-ku?" tanya Yun Fei.
"Aku mohon, ikut aku ke klan, ketua klan-ku ingin bertemu denganmu" jawab pria tersebut.
"Bertemu denganku? Kenapa?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, jadi sebaiknya kau ikut saja denganku."
Yun Fei diam sejenak seraya memikirkan sesuatu, "bagaimana jika aku menolak?"
Karena belum mengetahui tujuan orang itu, Yun Fei sengaja mengajukan pertanyaan padanya, karena jawaban yang akan pria itu berikan akan menentukan segalanya.
"Aku mohon, saudaraku. Kalau tidak, aku akan dalam masalah besar" jawab pria itu memohon.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu" sahut Yun Fei.
***
"Selamat datang di klan Dewa Angin! Siapa namamu, anak muda?"
Dahi Yun Fei berkerut saat melihat pemandangan di hadapannya, ia benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan disambut dengan tatapan dan senyuman ramah oleh mereka.
Awalnya, ia sempat berpikir jika dirinya akan mendapatkan masalah atau hal buruk lainnya, tapi setelah ia tiba di sana, yang ia dapatkan justru hal yang berbeda dengan bayangannya.
"Yun Fei memberi hormat pada ketua dan para petinggi klan!"
"Hahaha! Bagus, bagus, aku suka anak muda yang sopan" ucap ketua klan.
"Terima kasih, ketua."
"Yun Fei, boleh aku melihat kemampuan pedangmu?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh ketua klan membuat Yun Fei mengerutkan dahi, ia juga nampak bingung karena tidak mengerti kenapa mereka ingin melihat kemampuannya.
"Maaf ketua, aku tidak bermaksud lancang, tapi... apakah aku boleh mengetahui alasannya?"
Ketua klan mengangguk, "tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin melihat kemampuan anak muda yang sudah menyelamatkan anggota klan-ku" ucapnya.
Yun Fei diam sejenak sembari memikirkan perkataan ketua klan, "baiklah, kalau begitu aku akan menunjukkannya."
"Terima kasih, kalau begitu, mari kita ke arena."
Setelah itu, ketua klan dewa angin membawa Yun Fei ke arena pertarungan klan, diikuti oleh para petinggi klan dan yang lainnya, karena mereka juga penasaran dengan kemampuan Yun Fei.
Setibanya di arena pertarungan, ketua klan meminta salah seorang petinggi yang tidak lain adalah adiknya, untuk berhadapan dan menguji kemampuan Yun Fei secara langsung.
"Ingatlah, ini hanya latih tanding, jadi jangan sampai ada niat membunuh" ucap ketua klan.
"Baik!" ujar keduanya serempak.
***
"Sebelum bertarung, izinkan aku memperkenalkan diri, namaku adalah Fang Chao."
Yun Fei mengangguk, "mohon bimbingannya, senior!"
Fang Chao tersenyum, lalu mengeluarkan sebilah pedang dari cincin penyimpanannya. Kemudian, ia melesat maju dan langsung melancarkan serangan kearah Yun Fei.
Berbeda dengan Fang Chao yang langsung menyerang, Yun Fei justru lebih memilih untuk bertahan. Selain itu, ia masih ingin mengamati cara bertarung lawannya itu.
Disisi lain, Fang Chao juga nampak kaget melihat pergerakan Yun Fei yang sangat gesit, bahkan setiap serangan yang ia lancarkan selalu berhasil dihindari oleh Yun Fei dengan sangat mudah.
"Yun Fei, ketua klan ingin melihat kemampuanmu, jadi aku sarankan untuk tidak menghindar saja" ucap Fang Chao.
Yun Fei tentunya sudah paham apa yang diinginkan oleh ketua klan, namun ia bukan orang yang suka menyerang sembarangan, apalagi belum mengetahui tentang musuhnya.
Perkataan Yun Fei membuat Fang Chao menghentikan serangannya, "ternyata begitu. Baiklah, aku akan membuatmu mengeluarkan kemampuanmu itu!"
"Hah" Fang Chao menghela napas panjang, kemudian memasang kuda-kuda.
Dahi Yun Fei berkerut saat melihat posisi kuda-kuda milik Fang Chao, karena posisi itu benar-benar mirip dengan posisi pertama saat menggunakan salah satu teknik yang ia kuasai.
"Tarian pedang angin!"
"Tarian pedang angin!" ujar Fang Chao, lalu melesat maju dan melanjutkan serangannya.
Karena sudah menguasai teknik tersebut, Yun Fei tentunya mengerti betapa berbahayanya teknik itu, dan jika dirinya tidak bersungguh-sungguh, serangan itu pasti bisa melukainya.
Pada saat-saat genting, Yun Fei mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya, kemudian ia menggunakan teknik yang sama dengan teknik milik Fang Chao.
Namun, ada sedikit perbedaan antara kedua teknik tersebut, perbedaan pertama terletak pada gerakan saat mengayunkan pedang, lalu perbedaan yang kedua ada pada kecepatan.
Selain dua perbedaan itu, gerakan Yun Fei saat menggunakan teknik itu terlihat lebih halus dan lancar, sementara gerakan Fang Chao nampak sedikit kasar dan juga kaku.
"Teknik ini..."
"Tidak salah lagi, ini adalah teknik kuno klan kita!" ujar ketua klan.
Wushh.
Dhuaaar!
Suara ledakan terjadi ketika tubuh Fang Chao terlempar dan menghantam dinding pembatas, bahkan dinding itu sampai hancur akibat kerasnya hantaman dari tubuh Fang Chao.
"Senior! Anda baik-baik saja?" tanya Yun Fei yang nampak khawatir.
Fang Chao tersenyum, "jika kau tidak memutar pedangmu, mungkin nyawaku sudah melayang" ucapnya.
"Maafkan aku, senior! Aku tidak bermaksud melukaimu."
Fang Chao menggeleng pelan, "jangan minta maaf, cucuku."
"Bagaimanapun juga, aku tetap... tunggu! Tadi, senior memanggilku, apa?!"
Kemudian, ketua serta para petinggi klan lainnya naik ke atas arena pertarungan, lalu ketua klan menghampiri Yun Fei dengan mata berkaca-kaca.
"Yun Fei, kami adalah kakek-mu."
"Kakek? Tu-tunggu, aku masih tidak paham, apa maksudnya ini?"
"Ikut aku ke aula, aku akan menceritakan semuanya padamu" jawab ketua klan.
Karena masih bingung, Yun Fei tidak punya pilihan lain selain mengikuti mereka ke aula pertemuan. Selain itu, ia juga ingin mengetahui siapa mereka sebenarnya.
Setelah mereka tiba di aula pertemuan, Fang Yuan yang tidak lain adalah ketua klan, kemudian menceritakan semuanya pada Yun Fei, termasuk identitas ayah dan ibu Yun Fei.
"Ja-jadi..."
"Benar, cucuku! Ibumu adalah putriku, putri klan dewa angin. Dan ayahmu adalah pemimpin klan langit cerah yang sebelumnya."
Yun Fei terdiam, perasaannya bercampur aduk antara bahagia dan juga sedih.
Di satu sisi, ia bahagia setelah mengetahui jika dirinya masih memiliki keluarga dan tapi disisi lain, ia juga sedih setelah mengetahui betapa sulitnya kehidupan orang tuanya.
"Kakek sudah menyelidiki semuanya, penyebab kematian ayahmu bukan karena bunuh diri, tapi karena ketua klan langit cerah yang sekarang."
"Bagaimana dengan ibu?" tanya Yun Fei.
"Ibumu memang meninggal setelah melahirkan-mu, tapi mereka juga ikut andil didalamnya."
Yun Fei mengepalkan tangannya karena menahan amarah, bahkan tanpa ia sadari, aura membunuh yang sangat besar terpancar dari tubuhnya.
"Tidak akan aku ampuni! Siapapun mereka, aku pasti akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"
"Tenangkan dirimu, cucuku."
"Kakek! Kau memintaku untuk tenang setelah menceritakan semua ini?"
"Selain itu, bukankah kalian sudah mengetahui penyebabnya? Lalu kenapa kalian diam saja?!"
"Sama dengan dirimu, kami juga ingin balas dendam, tapi mustahil untuk menyerang mereka, karena Lin Xia melindungi klan langit cerah" jawab Fang Yuan.
"Hah" Yun Fei menghela napas untuk menenangkan dirinya, "biar aku saja yang melenyapkan mereka."
"Tidak! Kakek tidak setuju! Lin Xia bukanlah orang sembarangan. Kau tidak mungkin bisa melawannya!"
"Siapapun dia, jika dia menghalangiku, aku pasti akan membunuhnya!"