
Waktu kian berlalu, persiapan untuk melakukan serangan-pun telah selesai sepenuhnya, dan kini, Xue Jing hanya perlu menunggu hari yang tepat untuk menjalankan rencananya itu.
Selain keluarga Xue Jing dan keluarganya, Fan Chou tentunya juga telah mempersiapkan semuanya. Begitupun dengan Yun Fei yang akan ikut andil dalam peperangan itu nanti.
Istana kerajaan.
"Bagaimana?" tanya Fan Chou pada iblis bertopeng yang baru saja muncul di depannya.
"Serangan akan dilakukan malam ini." jawab Yun Fei yang tengah menggunakan identitas iblis bertopeng.
"Apa?!"
Fan Chou benar-benar kaget mendengar jawaban Yun Fei, ia tidak menyangka jika Xue Jing akan mempercepat rencananya. Padahal, penyerangan seharusnya dilakukan dua hari lagi.
Berkat bantuan Yun Fei yang selalu memberikan informasi, Fan Chou jadi mengetahui semua rencana Xue Jing. Dan karena itu juga, ia mengetahui kapan Xue Jing akan menyerang.
Akan tetapi, apa yang disampaikan oleh Yun Fei barusan benar-benar mengejutkan, karena seharusnya, penyerangan itu dilakukan saat dirinya pergi ke kekaisaran dua hari lagi.
"Apa maksudnya ini? Kenapa Xue Jing tiba-tiba saja mengubah rencananya?"
Yun Fei menggeleng pelan, "aku juga tidak mengetahui alasannya, tapi sebaiknya kau segera bersiap-siap."
"Satu hal lagi, sebaiknya kau jangan jauh-jauh dari Huang Liao."
"Memangnya kenapa?"
"Karena..." Yun Fei tiba-tiba menghentikan ucapannya, ia merasakan keberadaan seseorang yang tengah mengawasi mereka.
"Ada tikus yang sedang menguntit" ucap Yun Fei pelan, kemudian menghilang dari pandangan.
Disisi lain.
Sosok yang tengah mengawasi Fan Chou dan Yun Fei, nampak kaget saat melihat Yun Fei menghilang, dan karena merasa keberadaannya telah diketahui, iapun pergi dari sana.
Namun sialnya, ia yang sudah berhasil keluar dari kota Hufeng, nyatanya masih tidak bisa lepas dari Yun Fei, bahkan sekarang, Yun Fei sudah berada tepat di depannya.
"Si-siapa kau?" tanya pria itu.
"Tidak usah berlagak bodoh, aku rasa tidak ada yang tidak mengetahui siapa diriku" jawab Yun Fei seraya memainkan pedangnya.
"Selain itu, akulah yang seharusnya bertanya padamu, kenapa kau mengkhianati Fan Chou?"
"A-apa maksudmu?"
"Maksudku adalah, kenapa kau sangat suka mendekati kematian?!"
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Yun Fei kemudian melesat dengan kecepatan tinggi mendekati pria tersebut, lalu ia melancarkan serangan dengan gerakan yang sangat cepat.
Tapi sayangnya, serangan yang sangat cepat itu masih berhasil dihindari oleh pria tersebut, padahal pedang Yun Fei sudah sangat dekat dan hampir saja memenggal lehernya.
"Jangan terlalu gegabah, anak muda. Meski kekuatanmu luar biasa, tapi bukan berarti kau bisa meremehkan musuh begitu saja."
Wushh.
Pria itu kemudian melepaskan aura kekuatan ditubuhnya, dan karena tingkat kultivasi-nya yang sudah cukup tinggi, aura itu berhasil memberikan tekanan yang lumayan besar untuk Yun Fei.
"Kekuatannya lebih tinggi satu level dariku."
"Bagaimana, apa mau merasakan tekanannya?"
"Lumayan, tapi ini masih belum seberapa!" jawab Yun Fei, lalu kembali melancarkan serangan.
Pertarungan antara kultivator tingkat menengah-pun terjadi, walaupun sama-sama berada di ranah Spirit Langit, namun karena perbedaan level, Yun Fei nampak sedikit kesulitan dibuatnya.
Meski demikian, menghadapi Yun Fei juga bukan perkara mudah bagi pria itu, karena kecepatan yang dimiliki oleh Yun Fei, bukanlah kecepatan yang mampu ditandingi oleh dirinya.
Selain itu, serangan yang Yun Fei lakukan juga sangat mematikan, jika tidak berhati-hati saat bertarung dengannya, sudah pasti hanya akan berakhir dengan kematian.
Dalam sebuah pertarungan, selain kemampuan dan kekuatan, juga ada hal lain yang bisa menjadi faktor utama kemenangan, yaitu memiliki banyak pengalaman.
Sedangkan untuk Yun Fei, ia tidak hanya memiliki kemampuan dan kekuatan saja, tapi juga banyak pengalaman, meskipun pertarungannya itu hanya ia dapatkan di dalam ruang jiwanya sendiri.
Jika itu orang lain, mungkin mereka tidak akan mendapatkan pengalaman apapun, namun Yun Fei, pertarungan yang ia lakukan di ruang jiwanya, tidak ubahnya seperti pertarungan sungguhan.
Meski yang ia hadapi adalah bayangan dirinya sendiri, namun sosok itu selalu menghadapinya dengan teknik yang berbeda, dan itulah alasan yang membuatnya tidak ingin memiliki guru.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat seperti orang yang sedang panik?"
"Diam kau, sialan!"
"Kau memintaku untuk diam, tapi kenapa kau juga ikut mengoceh?"
"Bocah tengik! Kau benar-benar membuatku muak!"
Pria itu nampak sangat marah pada Yun Fei, bahkan tatapan matanya menyiratkan kebencian yang begitu besar. Dan, kebencian itu berhasil membuat kekuatannya meningkat.
"Kena kau!"
Dengan amarah yang sedang membakar dirinya, pria itu menyerang Yun Fei secara membabi-buta, ia bahkan tidak peduli lagi dengan pertahanan ataupun teknik bertarungnya.
Akan tetapi, dia tidak menyadari jika hal itulah yang diinginkan oleh Yun Fei, karena ada satu hal penting lainnya yang harus dimiliki untuk bisa menang dalam pertarungan, yaitu ketenangan.
Dalam keadaan tenang, seseorang mampu memikirkan banyak cara untuk menghadapi lawannya, namun dalam keadaan marah, ia tidak akan bisa memikirkan apapun lagi.
"Cakar penghancur gunung!" ujar pria tersebut.
Gumpalan energi spiritual berbentuk seperti cakar seekor naga melesat kearah Yun Fei, namun pemuda itu malah tersenyum dibalik topeng hitam yang menutupi wajahnya.
"Ini saat yang tepat untuk menguji teknik itu."
"Teknik pedang hampa!"
Wushh.
Energi pedang berbentuk bulan sabit tercipta saat Yun Fei menebaskan pedangnya, kemudian energi pedang itu melesat maju dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
Slash!
Cakar raksasa itu langsung hancur ketika beradu dengan energi pedang dan terus melesat hingga mengenai pria tersebut, sesaat setelahnya, tubuh pria itu terbelah menjadi dua bagian.
"Sungguh teknik yang luar biasa" gumam Yun Fei, kemudian pergi dari sana setelah mengambil cincin penyimpanan lawannya.
Istana kerajaan.
"Darimana saja kau?" tanya Fan Chou.
"Membinasakan tikus penguntit" jawab Yun Fei.
"Siapa orangnya?"
"Salah seorang prajurit-mu." Yun Fei kemudian mengeluarkan sebuah lencana dari cincin penyimpanan milik pria yang ia bunuh sebelumnya.
Fan Chou melebarkan pandangannya ketika melihat lencana tersebut, karena lencana yang ditunjukkan oleh Yun Fei adalah lencana khusus milik pasukan elit kerajaan Hufeng.
"Ada apa?"
"Lencana ini milik pasukan khusus kerajaan Hufeng" jawab Fan Chou seraya mengepalkan tinjunya.
"Sial!"
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Yun Fei setelah menghancurkan lencana itu.
Fan Chou diam sejenak, kemudian menghela napas panjang, "iblis bertopeng, aku butuh bantuan-mu."
"Kau yakin?" tanya Yun Fei, namun hanya dijawab dengan anggukan oleh Fan Chou.
"Baiklah, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk melindungi kota ini."
"Terima kasih."
"Tidak perlu, lagipula aku melakukan semua ini atas keinginanku sendiri" sahut Yun Fei, kemudian menghilang dari pandangan Fan Chou.
Tidak lama setelah Yun Fei pergi, Huang Liao datang menghampiri Fan Chou, lalu Fan Chou menceritakan apa yang baru saja dilakukan oleh Yun Fei, juga meminta bantuan pada Huang Liao.
Peristiwa yang baru saja terjadi membuat Fan Chou tidak bisa mempercayai siapapun kecuali Huang Liao dan iblis bertopeng, karena itulah, ia hanya bisa meminta bantuan dari keduanya.
Berbeda dengan iblis bertopeng, Fan Chou hanya meminta Huang Liao untuk melindungi dirinya, karena ia tidak yakin apakah mampu menghadapi semua musuhnya atau tidak.
"Kau tenang saja, aku pasti akan membantumu."