The God Of Void

The God Of Void
Chapter 50. Mimpi yang aneh



"Ayah, ibu, semuanya, kami berangkat."


Semua orang yang ada di halaman istana mengangguk pelan, lalu setelah itu, kedua muda-mudi itu melesat terbang meninggalkan halaman istana nan megah tersebut.


"Apa yang kakak pikirkan?"


Pemuda itu menggeleng pelan, "bukan apa-apa, aku hanya takut tidak berhasil menyelesaikan misi dari ayah."


"Kakak tenang saja, karena aku yakin, kita bisa menyelesaikan misi ini dengan mudah."


"Semoga saja."


Setelah melewati portal dimensi, mereka berdua kini berada dalam lorong dimensi ruang dan waktu. Pada awalnya, semua berjalan baik-baik saja, tapi sesuatu yang tidak mereka harapkan terjadi.


Lorong dimensi ruang dan waktu yang mereka lalui tiba-tiba saja bergetar, aura aneh dan tidak biasa menyebar ke segala arah, sehingga menimbulkan tekanan intimidasi yang sangat besar.


Tidak lama berselang, di hadapan mereka muncul pusaran angin berwarna hitam, pusaran angin itu sangatlah besar, juga mengandung kekuatan petir yang amat dahsyat.


"A-apa itu?"


"Entahlah, tapi apapun itu, kita harus berhati-hati!"


"Awas!"


Dhuaaar!


Petir yang sangat besar menyambar kearah mereka berdua, beruntung keduanya berhasil menghindar, sehingga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka berdua.


Namun, situasinya masih jauh dari kata aman, karena setelah itu, puluhan hingga ratusan petir kembali menyambar kearah mereka, sehingga mereka harus mengerahkan kekuatan.


Karena memiliki kekuatan yang sama, pemuda itu mencoba untuk melawan petir itu dengan kekuatan petir merah yang ia miliki, tapi sayangnya, kekuatan petir miliknya terlihat sangat lemah.


Tidak hanya itu saja, kekuatan petir merah yang ia miliki seolah ditarik oleh pusaran angin tersebut, sehingga saat ia melepaskan kekuatannya, pusaran angin itu malah semakin besar.


"Biar kucoba!"


Gadis itu melepaskan kekuatan api berwarna emas, tapi hal yang sama kembali terjadi, tidak peduli sebesar apapun kekuatan yang ia kerahkan, semuanya diserap oleh angin itu.


"Sial! Sepertinya kita harus ke..."


Perkataan pemuda itu terpotong, karena sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh mereka berdua telah lebih dulu ditarik dengan paksa oleh pusaran angin tersebut.


Pada saat yang bersamaan, petir-petir yang berasal dari pusaran angin itu juga menyambar tubuh mereka, meski sudah menciptakan perisai, namun itu hanya cukup menahan beberapa sambaran saja.


"Arkhhh!"


Keduanya berteriak kencang karena sambaran petir yang menghantam tubuh mereka, kekuatan petir itu jauh lebih besar dari sebelumnya, bahkan berkali-kali lipat lebih besar dari sebelumnya.


"Ka-kakak, a-aku tidak kuat lagi."


"Be-bertahanlah."


Dhuaaar!


Kekuatan petir yang jauh lebih besar kembali menghantam tubuh mereka berdua, selain menimbulkan rasa sakit yang begitu menyiksa, kekuatan itu juga menyerap habis energi keduanya.


"Kakak, aku..."


Pemuda itu tersenyum seraya menggeleng pelan, lalu ia meraih jemari adiknya itu dan menggenggamnya dengan erat, ia juga membelai lembut pipi adiknya itu.


"Jangan katakan apapun, karena aku sudah mengetahui semuanya."


Setetes cairan bening mengalir dari sudut mata gadis itu, walaupun situasi mereka sedang diujung tanduk, namun ia benar-benar bahagia karena perkataan kakaknya itu.


"Boleh aku mendengarnya?"


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."


Gadis itu menunjukkan senyuman terbaiknya, "aku juga!"


Keduanya mendekat dan saling berpelukan, setelah cukup lama, mereka melonggarkan pelukannya, namun dengan dahi yang bertautan.


"Maaf, seharusnya aku mengatakan semua ini sejak lama."


Keduanya tersenyum, kemudian mereka berciuman untuk waktu yang cukup lama, namun tanpa mereka sadari, kekuatan petir yang jauh lebih dahsyat juga sudah siap menghantam mereka.


DHUAAAR!


***


Yun Fei tersentak dan langsung membuka mata dengan napas terengah-engah, dadanya terasa sangat sesak hingga ia kesulitan bernapas, bahkan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Apa-apaan itu? Kenapa mimpiku sangat aneh?"


"Hah" Yun Fei menghela napas berulang-ulang untuk menenangkan dirinya.


"Eh? Apa aku menangis lagi?"


Yun Fei kebingungan, ia sungguh tidak mengerti kenapa dirinya selalu mengalami mimpi yang sama secara terus-menerus, dan anehnya lagi, ia selalu saja menangis dalam tidurnya.


Selain itu, perasaan sedih yang dirasakan oleh kedua orang dalam mimpinya itu, entah kenapa juga bisa ia rasakan, bahkan ia merasa jika dirinya juga mengalami hal sama seperti mereka.


"Padahal hanya mimpi, tapi kenapa rasa sedih ini sangat sulit untuk dihilangkan?"


"Siapa sebenarnya mereka? Apa mereka ada hubungannya dengan diriku?"


"Hah" Yun Fei kembali menghela napas panjang, "sebaiknya aku mencaritahu siapa mereka sebenarnya."


***


Istana klan Asura.


"Xiao Ling, kenapa kau menangis?" tanya Lin Xia yang kebetulan melintas di halaman istana.


Huo Ling hanya diam, ia ragu untuk menjelaskan apa yang ia alami pada gurunya itu, karena ia sendiri tidak mengetahui apa yang membuatnya menangis.


"Ceritakan padaku, meski tidak bisa membantu, setidaknya dengan bercerita kau bisa meringankan beban pikiranmu."


Huo Ling menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, lalu setelah itu, ia akhirnya menceritakan tentang mimpi yang selalu ia alami selama beberapa hari terakhir kepada gurunya itu.


Kesedihan nampak terukir jelas di wajah Lin Xia, meski Huo Ling tidak mengetahui siapa kedua orang itu, namun tidak dengan Lin Xia, karena ia sangat mengenal kedua orang itu.


Namun yang membuatnya sedih adalah, ia dan semua keluarganya tidak bisa melakukan apapun saat peristiwa itu terjadi, dan itu jugalah alasan kenapa dirinya bisa berada di benua Huangwu.


"Guru, apa maksud dari mimpi itu?" tanya Huo Ling.


Lin Xia tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya, "mimpi itu bisa saja menjadi sebuah petunjuk untuk dirimu."


"Petunjuk?"


Pemimpin klan Asura itu mengangguk, "mungkin saja mimpi itu bisa menuntun-mu untuk menemukan jati dirimu yang sebenarnya."


"Aku masih tidak mengerti."


"Sedikit sulit bagiku untuk menjelaskannya, tapi intinya, mimpimu itu bukan hanya sekedar mimpi biasa" ucap Lin Xia.


"Sudahlah, sebaiknya kau kembali ke kamar dan istirahat, karena besok aku akan melatih-mu lagi."


"Baik, guru" sahut Huo Ling, lalu kembali ke kamarnya.


Raut wajah Lin Xia langsung berubah setelah Huo Ling pergi, rasa bersalah dan penyesalan yang sangat mendalam, membuat air mata mengalir keluar dari sudut matanya.


Meski bukan dirinya yang menyebabkan semua itu, namun ia sangat menyesal dan merasa bersalah, karena pada saat peristiwa itu terjadi, dirinya tidak bisa melakukan apapun.


"Kalian tenang saja, karena selama aku hidup, aku akan memastikan kalian untuk hidup bersama selamanya."


"Tidak akan aku biarkan takdir sialan itu memisahkan kalian lagi!"


Setelah dirinya tenang, Lin Xia kemudian meninggalkan halaman istana dan pergi ke ruang bawah tanah, namun ia mengurungkan niatnya saat mengingat perkataan Yin Lang sebelumnya.


"Yin Lang, hanya kau satu-satunya harapan yang aku miliki" ucapnya seraya menyentuh pintu ruangan bawah tanah dengan telapak tangannya.


"Jika kau gagal, entah apa lagi yang harus aku lakukan untuk kedepannya."


Karena tidak ingin mengganggu Yin Lang, Lin Xia akhirnya kembali ke kamarnya untuk bermeditasi, karena hanya itu satu-satunya cara agar dirinya bisa kembali tenang seperti biasanya.