The God Of Void

The God Of Void
Chapter 70. Jangan membuatnya murka



Istana klan Asura.


"Kakek darimana saja?"


"Menemui reinkarnasi pamanmu" jawab Lin Feng dengan raut wajah sedih.


Lin Xia hanya bisa menghela napas panjang, ia tentunya mengerti bagaimana perasaan kakeknya saat ini, karena sebelumnya, ia juga merasakan hal yang sama.


Tidak hanya Lin Feng, siapapun yang berada di posisinya pasti akan merasakan hal yang sama, lagipula siapa yang tidak sedih saat dirinya dilupakan oleh anak-anak yang disayangi.


Namun, itu bukanlah kesalahan mereka, karena bukan mereka yang ingin melupakan orang tuanya, melainkan jalan takdir-lah yang telah membuat mereka melupakan segalanya.


"Kakek, bagaimana kabar ayah dan ibu?"


"Mereka baik-baik saja, nenekmu juga sama, hanya saja, mereka sangat mengkhawatirkan dirimu" jawab Lin Feng.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Dimana Huo Ling? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?"


"Dia sudah kembali ke rumah keluarganya, maksudku keluarganya yang sekarang."


"Bawa aku ke sana, aku harus memastikan anak-anakku bersama dengan orang baik!" ujar Lin Feng.


"Aku rasa itu tidak..."


"Jangan membantah!"


"Baiklah."


Setelah itu, Lin Xia mengajak Lin Feng menuju ke klan api suci, namun mereka tidak langsung menghampiri klan tersebut, tapi hanya mengawasi dari kejauhan saja.


Walaupun hanya mengawasi semuanya dari kejauhan, namun Lin Feng dapat melihat semua hal yang terjadi di klan itu, hanya saja, ia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan.


"Sial! Aku lupa kalau di dimensi ini tidak ada energi Dewa."


"Memangnya kakek mau apa?"


"Tentu saja mendengar pembicaraan mereka" jawab Lin Feng.


"Kenapa tidak langsung ke sana saja?"


"Untuk saat ini, aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahui tentang keberadaan-ku."


Kemudian, Lin Feng menggunakan kekuatan jiwa silat bayangan untuk menciptakan tiruan dirinya, lalu setelah itu, ia memerintahkan tiruannya itu untuk menyusup ke klan api suci.


Dengan bantuan dari bayangannya, Lin Feng akhirnya bisa mendengar obrolan mereka, namun raut wajahnya langsung berubah ketika mendengar pembicaraan mengenai Yun Fei.


"Ini tidak baik, sebenarnya apa yang mereka bicarakan, kenapa kakek sampai marah seperti ini?"


"Lin Xia!"


"I-iya."


"Apa kau tahu dimana klan langit cerah berada?" tanya Lin Feng.


"Te-tentu saja aku tahu, ta-tapi kenapa kakek menanyakan keberadaan mereka?"


"Aku ingin melenyapkan mereka semua!"


"Habis sudah! Dunia ini pasti akan kacau jika kakek murka."


"Kakek, dengarkan aku, ini hanya masalah sepele, jadi kita tidak perlu ikut campur."


Sebenarnya, Lin Xia tidak ingin menghentikan kakeknya itu, karena ia sendiri juga tidak menyukai klan langit cerah yang suka bertindak semena-mena.


Akan tetapi, jika dia tidak meredakan amarah kakeknya itu, maka sudah bisa dipastikan jika seluruh benua Huangwu akan berada dalam kekacauan yang tidak bisa dibayangkan.


"Apa maksudmu? Apa kau ingin aku diam saja saat ada yang mengancam nyawa anak-anakku?!"


"Kakek, dengarkan aku dulu!"


"Apa?!"


"Aku paham bagaimana perasaan kakek, tapi cobalah untuk mengerti, biarkan saja mereka melaluinya sendiri dan kita tidak perlu ikut campur."


"Bagaimana kalau aku menolak?!"


"Baiklah, tapi kalau terjadi sesuatu pada mereka, maka aku akan menghukum-mu."


Meski berakhir dengan sedikit ancaman, namun pada akhirnya, Lin Xia tetap berhasil meyakinkan kakeknya itu untuk tidak ikut campur, jika tidak, benua Huangwu pasti akan kacau.


Setelah puas mengawasi keluarga baru putrinya, Lin Feng kemudian mengajak cucunya untuk kembali ke istana klan, meskipun begitu, ia tetap meninggalkan bayangannya di sana.


***


Beberapa hari kemudian.


Setelah bermeditasi selama beberapa hari, Yun Fei akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan meditasi-nya itu, karena ia yang sekarang sudah mendapatkan ketenangan.


Namun sayangnya, ketenangan yang baru ia dapatkan itu tidak berlangsung lama, karena tidak lama setelah ia selesai bermediasi, sekelompok orang tiba-tiba saja mengepungnya.


"Apa kalian dari klan langit cerah?" tanya Yun Fei dengan nada suara yang santai.


"Benar! Kami datang ke sini untuk merenggut nyawamu!" jawab salah seorang dari mereka.


"Sejak pertama kali bertemu dengan kalian, ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan" ucap Yun Fei, kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Apa kalian bekerja untuk dewa kematian?"


"Apa maksudmu, sialan?!"


"Bukan apa-apa, aku hanya merasa bingung saja, karena setiap kali bertemu, kalian selalu saja ingin merenggut nyawa-ku" jawab Yun Fei.


"Hahahaha! Kau benar, kami memang bekerja untuk dewa kematian!" ujar salah seorang dari mereka, kemudian melesat maju dan menyerang Yun Fei.


Namun sayangnya, serangan itu malah dihindari dengan sangat mudah oleh Yun Fei, bahkan ekspresi yang ia tunjukkan seolah mengatakan bahwa serangan itu tidaklah berbahaya.


"Jadi itu benar? Kalau begitu, sepertinya aku akan membuat dewa kematian murka, karena aku telah membunuh para pesuruhnya."


Kemudian, Yun Fei mengalirkan energi spiritual ke arah telunjuknya dan seketika itu juga, telunjuknya diselimuti oleh aura berwarna merah yang membentuk bilah pedang.


Dengan aura pedang yang menyelimuti telunjuknya, Yun Fei kemudian melesat maju dan membantai mereka semua, dan hanya dalam hitungan detik, mereka semua sudah terkapar tak bernyawa.


"Jika aku belum memiliki guru, mungkin aku sudah mendatangi kalian dan menghancurkan kalian semua."


Sebelum Lin Feng muncul dalam hidupnya, tujuan Yun Fei hanyalah untuk membalaskan dendam orang tuanya, tapi sekarang, ia sudah memiliki tujuan lain selain balas dendam.


Tujuan lain itu adalah menjadi kultivator terkuat, karena hanya dengan menjadi yang terkuat, barulah ia bisa menciptakan kedamaian untuk semua orang di benua Huangwu.


Dan demi untuk mencapai tujuan barunya itu, ia harus menahan dendamnya untuk sementara waktu, setidaknya sampai ia menyelesaikan latihan bersama Lin Feng.


"Wah, apa ini? Aku baru pergi sebentar dan kau sudah merenggut nyawa orang lain?"


Yun Fei bergegas menghampiri Lin Feng dan langsung memberi hormat pada gurunya itu, "maafkan aku guru, tapi merekalah yang telah mencari masalah denganku."


"Memangnya siapa mereka?"


"Anggota klan langit cerah" jawab Yun Fei.


Amarah yang sudah menghilang langsung muncul lagi ketika Lin Feng mendengar nama klan itu, tapi berkat perkataan Lin Xia sebelumnya, amarah itupun berhasil ia tahan.


"Apa mereka memang suka mengganggumu?"


Yun Fei mengangguk, kemudian menceritakan penyebab dari permusuhan itu, ia juga menceritakan tentang kematian ibunya yang disebabkan oleh klan langit cerah.


Lagi-lagi, api amarah yang sangat besar muncul dalam diri Lin Feng, namun pada saat yang sama, kesedihan juga ikut menyelimuti dirinya saat mendengar betapa sulitnya kehidupan putranya itu.


"Inilah alasannya kenapa aku selalu berusaha melawan kehendak takdir!" ucap Lin Feng dalam hatinya.


Sejak jiwanya datang ke dunia kultivasi, Lin Feng sudah berusaha untuk melawan takdir, namun seberapa keras-pun ia mencoba, takdir selalu saja berhasil mengalahkan dirinya.


"Fei, jika kau ingin melakukan balas dendam, pastikan kau memiliki kekuatan yang cukup."


"Maksud guru?"


"Pohon tidak akan langsung mati jika kau hanya menebang batangnya saja, karena ia masih bisa tumbuh selama akarnya belum dicabut."


"Begitupula dengan dendam yang tidak akan berakhir selama akarnya tidak kau musnahkan, apa kau mengerti?"


"Aku mengerti, guru!"