
Wilayah klan api suci.
"Ling'er, dimana gurumu?" tanya Huo Ming.
"Guru sudah pergi" jawab Huo Ling.
"Kenapa kau tidak menahannya?"
Huo Ling menggeleng pelan, "ada urusan penting yang harus diselesaikan oleh guru, karena itulah, guru langsung pergi setelah mengantarku."
"Sayang sekali, padahal ayah ingin sekali mengajaknya mengobrol."
"Jadi, bagaimana hasil latihan-mu?"
Wushh.
Huo Ling tidak menjawab pertanyaan ayahnya dengan kata-kata, tapi langsung menunjukkan hasil latihan yang ia jalani, dan hal itu berhasil membuat ayahnya tercengang.
Bagaimana tidak? Kultivasi Huo Ling yang sebelumnya masih di ranah Spirit Surga level sembilan, sekarang telah meningkat ke ranah Saint level satu.
Hua Ming bukannya tidak senang, justru ia sangat bahagia karena peningkatan itu, hanya saja, peningkatan tersebut hampir mustahil dicapai oleh kultivator paling jenius sekalipun.
"Selamat, ayah benar-benar bangga padamu" ucap Huo Ming.
"Terima kasih, ayah."
"Mari masuk, mereka pasti sangat senang melihat kekuatanmu yang sekarang ini."
Huo Ling hanya mengangguk pelan, kemudian mengikuti ayahnya. Setelah mereka tiba di aula pertemuan, Huo Ming meminta putrinya itu untuk menunjukkan aura kultivasi-nya.
Sama halnya dengan Huo Ming, para petinggi klan juga sama kagetnya saat merasakan aura kultivasi Huo Ling, karena tidak menyangka jika kultivasi Huo Ling bisa meningkat secepat itu.
"Ini adalah anugerah untuk klan kita!" ucap Huo Fang, tetua ketujuh klan api suci.
"Itu benar! Dan aku yakin, klan kita akan semakin berjaya!" sahut Huo Zhang, tetua kelima.
"Tapi sayangnya, kekasih nona masih ketinggalan sangat jauh. Aku jadi ragu, apakah dia lantas bersanding dengan nona atau tidak?"
Aula pertemuan mendadak hening, ketika Huo Liang, tetua keenam klan api suci angkat bicara dan saat ini, di benak mereka semua muncul satu pertanyaan yang sama.
Jika dibandingkan, tentunya Yun Fei tidak sebanding dengan Huo Ling, dan bila diibaratkan, Huo Ling sama dengan burung yang terbang tinggi, sedangkan Yun Fei hanya semut di dasar jurang.
"Apa maksudmu, tetua keenam?!" Huo Ling nampak kesal karena kekasihnya diremehkan.
"Ma-maaf, nona. Aku tidak bermaksud apa-apa, karena yang aku pikirkan hanyalah masa depan klan kita!"
"Itu adalah tugasmu sebagai tetua, tapi bukan berarti kau dan kalian semua bisa mengatur hidupku!"
"Huo Ling, jaga ucapan-mu!" ujar Huo Qian dengan suara tegas.
"Kenapa? Apa paman juga ingin mengatur hidupku?"
Wushh.
Hua Qian berdiri dari tempat duduknya, lalu melepaskan aura kekuatannya untuk menindas Huo Ling, dan pada saat yang bersamaan, Huo An juga melepaskan auranya untuk melindungi Huo Ling.
"Kakak kedua, tarik aura kekuatan-mu!"
"Cihh! Inilah alasannya kenapa aku tidak suka padamu!" ujar Huo Qian.
"Tidak masalah, tapi aku tidak akan membiarkan kakak menindas Ling'er."
"Sudah cukup, hentikan perdebatan ini!"
Huo Ming yang sudah tidak tahan-pun akhirnya angkat bicara, karena kalau dirinya tetap diam saja, maka perdebatan itu akan berubah menjadi ajang pertarungan.
"Ling'er, kembalilah ke kamarmu!"
Huo Ling tidak mengatakan apapun lagi dan menuruti perintah ayahnya, meski begitu, ia masih sangat kesal pada perkataan tetua keenam yang telah merendahkan Yun Fei.
Setelah itu, para tetua klan membahas masalah hubungan Yun Fei dan Huo Ling, namun dari pembahasan itu, dapat disimpulkan jika mereka tidak setuju dengan hubungan tersebut.
Alasannya hanya ada satu, yaitu karena kekuatan Yun Fei yang masih sangat lemah dan menurut mereka, Yun Fei tidak sebanding dengan Huo Ling yang merupakan jenius tiada dua.
"Aku tidak sependapat dengan kalian" ucap Huo An.
"Tidak ada yang peduli dengan pendapatmu!" ujar Huo Qian.
"Sudahlah, jangan berdebat lagi! Dan mengenal hubungan mereka, akan aku pikirkan lagi."
"Kakak, apa maksudnya ini? Apa kakak tidak peduli pada perasaan Ling'er?"
"Apa maksudmu?"
"Kakak sendiri tentu sudah mengetahui jika Ling'er sangat mencintai Yun Fei, dan jika..."
"Cinta tidak akan berguna jika berhadapan dengan musuh!" ujar Huo Wen, kakak ketiga Huo An.
Huo An hanya bisa menghela napas panjang, dan karena merasa dirinya tidak dibutuhkan lagi, ia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan aula pertemuan.
"Abaikan saja dia, suatu saat nanti, dia akan mengerti betapa pentingnya memiliki kekuatan!"
Huo Wen sengaja mengeraskan suaranya agar perkataannya didengar oleh adiknya itu, karena ia ingin adiknya itu mengerti betapa pentingnya memiliki kekuatan untuk bisa bertahan di dunia ini.
Kekuatan memanglah sesuatu yang sangat penting, apalagi di dunia kultivasi yang kejam. Namun, tidak segala hal bisa didapatkan dengan kekuatan, dan salah satunya adalah kebahagiaan.
Memang ada yang mendapatkan kebahagiaannya dengan kekuatan, tapi justru lebih banyak yang hidup dalam kehampaan, karena kekuatan tidak selamanya memberi kebahagiaan.
***
"Paman, kenapa paman ada di sini?"
Huo An menoleh sesaat, kemudian menggeleng pelan, "paman hanya ingin mencari udara segar" ucapnya.
"Maafkan aku."
"Untuk apa?"
"Semua ini terjadi karena aku, kalau saja paman tidak membela aku dan Yun Fei, mungkin paman tidak akan seperti ini."
Seulas senyum terukir di bibir Huo An, kemudian berkata, "jangan dihiraukan, yang penting kau bisa memperjuangkan apa yang pantas kau perjuangkan."
Huo Ling mengangguk, "sesulit apapun, aku pasti akan bertahan."
"Bagus! Dan paman yakin, Yun Fei juga akan melakukan hal yang sama."
"Benarkah?"
"Paman sudah mengenal Yun Fei cukup lama, dia itu pemuda yang baik dan tidak kenal putus asa."
Setelah itu, Huo An menceritakan tentang kebersamaannya dengan Yun Fei saat di kota Hufeng, ia juga menceritakan bagaimana kehebatan Yun Fei saat bertarung.
"Ling'er, jika kau benar-benar mencintainya, maka pertahankan hubungan kalian, karena di dunia ini, sulit untuk menemukan pemuda sepertinya."
"Baik, paman!"
***
Malam semakin larut, suasana di kota Hufeng sudah benar-benar sepi, karena para penduduknya telah tenggelam dalam mimpi, dan hanya menyisakan para prajurit yang berjaga.
Diantara sekian banyaknya penduduk, ada sekelompok orang yang masih terjaga, mereka itu adalah anggota klan Xue yang tengah bersiap-siap untuk menyerang istana kerajaan.
"Patriark, kenapa dia belum datang juga?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
"Apa jangan-jangan dia mengkhianati kita?"
"Aku suka kata itu!" ujar Yun Fei yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka semua, tentunya dengan menggunakan identitas iblis bertopeng.
"Ma-maaf, senior!"
"Baiklah, karena kau sudah datang, kita akan bergerak sekarang" ucap Xue Jing.
Yun Fei hanya mengangguk, kemudian ia mengikuti mereka bergerak secara diam-diam menuju ke istana kerajaan.
"Biar aku tangani mereka."
Yun Fei menghilang dari pandangan, sesaat kemudian ia telah muncul di gerbang istana kerajaan. Disaat yang bersamaan, dua prajurit yang berjaga di sana langsung tumbang dengan kepala terpenggal.
"Serang!" ujar Xue Jing.