The God Of Void

The God Of Void
Chapter 66. Menjelaskan semuanya



Di suatu tempat.


"Awalnya aku sedikit bingung harus memulai darimana, tapi sepertinya sekarang tidak lagi."


Saat ini, Yun Fei sedang mengawasi beberapa orang pemuda yang berasal dari klan ternama, yang juga merupakan salah satu klan kuno di benua Huangwu, yaitu klan langit cerah.


Jika dibandingkan dengan klan lainnya, klan langit cerah adalah klan yang paling ingin dibasmi oleh Yun Fei, karena sudah terlalu banyak rasa sakit yang ditinggalkan oleh klan itu untuknya.


Mulai dari permusuhannya dengan Yun Bing, lalu perbuatan mereka yang membuat hubungannya dengan klan api suci merenggang, hingga masalah lain yang mereka ciptakan untuknya.


Namun, dari sekian banyaknya masalah yang ada, hanya satu masalah yang membuat Yun Fei sangat membenci klan langit cerah, yaitu masalah yang menimpa orang tuanya dahulu.


"Yun Hao, ini adalah awal dari kehancuran-mu!"


Setelah itu, Yun Fei menghilang dari pandangan, kemudian ia muncul lagi di hadapan para pemuda yang berasal dari klan api suci tersebut.


"Siapa kau?!" tanya salah seorang dari mereka.


"Siapa aku tidaklah penting, yang jelas aku harus menagih hutang dengan kalian semua."


"Apa maksudmu, kep***t?!"


"Maksudku adalah, aku menginginkan nyawa kalian!" jawab Yun Fei, kemudian mengeluarkan sebilah pedang dari cincin penyimpanannya.


Para pemuda itu tidak tinggal diam, mereka juga ikut mengeluarkan senjatanya setelah melihat Yun Fei mengeluarkan senjata dari cincin penyimpanannya.


"Kami tidak merasa telah menyinggung-mu, tapi kau sudah salah besar karena telah mengganggu kami!"


"Hahahaha!" Yun Fei mengeluarkan tawa menyeramkan, "aku justru merasa jika diriku sudah melakukan hal yang benar!"


Dengan gerakan secepat kilat, Yun Fei melesat maju dan langsung menyerang para pemuda itu, dan hanya dalam sekejap mata, tiga orang dari mereka sudah terkapar tidak bernyawa.


"Cihh! Kau pasti akan menyesal karena sudah mengganggu kami!"


Mereka yang tersisa kemudian menyerang Yun Fei bersama-sama, namun serangan yang mereka lancarkan tidak berhasil menyentuh Yun Fei sedikitpun.


Sebaliknya, justru merekalah yang selalu saja terkena serangan yang dilancarkan oleh Yun Fei, bahkan sudah ada satu lagi pemuda yang meregang nyawa di tangannya.


Tidak butuh waktu lama, mereka yang semula berjumlah lebih dari sepuluh orang, kini hanya tersisa satu orang saja, sedangkan yang lainnya sudah terkapar tak bernyawa.


"Si-siapa kau sebenarnya? Ke-kenapa kau menyerang kami?"


"Sudah aku katakan, siapa aku itu tidaklah penting untuk kau ketahui!"


Slash!


"Arkhhh!" Pemuda itu berteriak kencang saat Yun Fei menebas tangan kanannya.


"A-ampuni aku, a-aku akan memberikan apapun asalkan kau mengampuni diriku."


"Apapun?"


Pemuda itu mengangguk dengan cepat, "a-apapun pasti akan aku berikan, asalkan jangan membunuhku."


"Hmm... baiklah, kalau begitu penggal kepala Yun Hao untukku."


Pemuda itu tersentak kaget saat mendengar permintaan Yun Fei, karena apa yang ia inginkan adalah hal yang sangat mustahil bisa dilakukan oleh pemuda tersebut.


Kalaupun dia mampu memenuhi keinginan itu, tidak akan mungkin ia mau membunuh pemimpin klan-nya sendiri, karena dirinya pasti akan diburu oleh seluruh anggota klan.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak ingin hidup?"


"Tu-tuan, a-apa tidak ada permintaan lain selain itu?"


Yun Fei diam sejenak, kemudian menebas tangan kiri pemuda itu, ia juga menusuk dadanya. Namun, Yun Fei tidak menusuk jantungnya, karena ia tidak ingin pemuda itu mati terlalu cepat.


"Apa kau pikir kau bisa melakukan tawar-menawar dengan-ku?"


"Tu-tuan, to-tolong ampuni..."


Perkataan pemuda itu langsung terpotong, karena sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, Yun Fei telah lebih dulu menarik pedangnya dan memenggal kepalanya.


"Ibuku meninggal karena ulah kalian, jadi jangan harap untuk mendapatkan pengampunan dariku."


***


"Tuan muda!"


"Yun Aotian, apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Hamba tidak akan melakukan apapun, Tuan Muda."


"Apa maksudmu? Apa kau akan membiarkan anakmu begitu saja?"


"Dia sudah dewasa dan hamba yakin, dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri" jawab Yun Aotian.


Lin Xia tersenyum puas mendengar jawaban Yun Aotian, karena bagaimanapun juga, ia sempat merasa khawatir jika Yun Aotian akan mencegah anaknya untuk balas dendam.


"Kalau diingat-ingat, sudah hampir dua puluh tahun sejak kau mengikuti-ku" ucap Lin Xia.


"Apa kau benar-benar tidak ingin bebas?"


Yun Aotian menggeleng pelan, "hamba sudah berjanji akan mengikuti Tuan Muda sampai nyawa ini lenyap."


Saat pertama kali bertemu, keadaan Yun Aotian saat itu benar-benar menyedihkan, bahkan dirinya saat itu jauh lebih menyedihkan dari seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup.


Bagaimana tidak? Ia yang awalnya adalah kultivator ternama, malah kehilangan segalanya karena saudaranya sendiri, baik itu kekuatan maupun istri yang sangat ia cintai.


Jika saja saat itu ia tidak bertemu dengan Lin Xia, mungkin Yun Aotian benar-benar sudah mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara bunuh diri.


Berkat nasehat dan bantuan dari Lin Xia, Yun Aotian tidak hanya mendapatkan kembali kekuatannya, tapi juga mendapatkan tujuan hidup yang baru, yaitu melindungi anaknya.


Dan sejak saat itulah, Yun Aotian berjanji untuk selalu mengikuti dan menjadi bawahan Lin Xia, bahkan ia bersumpah akan selalu setia pada Lin Xia hingga ajal datang menjemputnya.


"Yun Aotian, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, ini mengenai Yun Fei" ucap Lin Xia.


"Silahkan, Tuan Muda."


Lin Xia menghela napas panjang, kemudian menjelaskan semuanya pada Yun Aotian, mulai dari tempat dirinya berasal, hingga identitas Yun Fei yang sebenarnya.


Yun Aotian tersentak kaget mendengar penjelasan Lin Xia, bahkan ia terlihat tidak percaya dengan penjelasan Lin Xia mengenai identitas putranya itu.


"Tuan Muda, apakah Anda serius?"


"Kapan aku pernah bercanda denganmu?"


"Di dimensi ini, Yun Fei mungkin adalah anakmu, tapi seratus tahun yang lalu dan di dimensi yang berbeda, dia adalah seorang dewa!"


"Ja-jadi..."


Lin Xia mengangguk, "di tempat asal-ku, ia dikenal sebagai dewa kehampaan, putra dewa kematian Asura!"


Meski semuanya sudah dijelaskan oleh Lin Xia, namun masih sulit bagi Yun Aotian untuk percaya bahwa anaknya adalah reinkarnasi seorang dewa, karena ia merasa jika hal itu sangatlah mustahil.


Akan tetapi, Yun Aotian juga tidak memiliki alasan untuk tidak percaya, karena sejak awal, keberadaan Lin Xia sudah bisa dijadikan bukti jika semua itu memang benar adanya.


"Tuan Muda, apakah hamba boleh menanyakan sesuatu?" tanya Yun Hao.


"Silahkan."


"Jika Yun Fei adalah reinkarnasi seorang dewa, lalu siapa Anda sebenarnya?"


Meski sudah mengikuti Lin Xia selama dua puluh tahun, namun sampai saat ini, Yun Aotian masih belum mengetahui siapa Lin Xia yang sebenarnya.


"Nama yang aku gunakan sekarang adalah nama asliku, dan aku bukanlah seorang reinkarnasi seperti Yun Fei."


"Nama ayahku Lin Xie Long, dia juga merupakan seorang dewa dan putra pertama dewa kematian Asura."


"Dan kakekku, dia adalah sosok terhebat yang pernah aku temui selama hidupku, namanya Lin Feng."


"Siapa yang berani menyebut namaku dengan begitu santainya?!"


Wushh!


Aura mencekam tiba-tiba saja menerpa tubuh mereka berdua, bahkan tubuh Yun Aotian sampai gemetar hebat karena belum pernah merasakan kengerian seperti itu sebelumnya.


"Gila! A-aura macam apa ini?" ucap Yun Aotian dalam hatinya.