The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
90. Tiga Bulan Kemudian



Aula yang dua hari dua malam ini selalu ramai, kini mulai lengang. Para tamu berpamitan pulang meninggalkan pasang pengantin yang duduk di pelaminan berduaan.


"Aku sedih, Velingga dan keluarga kecilnya tidak datang," keluh pengantin perempun bak ratu yang sangat cantik jelita. Tak lain adalah Cut Kemalasari Hanah.


"Mereka tengah mudik ke Blitar, sudah hampir lima bulan. Rumah tangga mereka sedang prahara," bisik penganti lelaki bak raja yang luar biasa tampan. Tak bukan adalah Terraputra Khaisan.


"Prahara? Masalah apa?" tanya Cut Ha terkejut.


"Errushqi memang tampan, ada pihak ketiga," sahut Khaisan.


"Pelakor?! Tapi kamu lebih tampan dari Errushqi!" pekik Cut Ha lebih terkejut. Sang suami pun mengangguk sambil menahan senyum. Merasa melayang dan bahagia disanjung istrinya.


"Hah, jadi betul Errushqi selingkuh?" tanya Cut Ha lagi serasa tak percaya. Khaisan tersenyum, disentilnya ujung hidung Cut Ha yang mungil.


"Bukan. Rekan kerja ada yang suka dengan Errushqi, Velingga ingin dia keluar saja dari perusahaan. Tetapi Errushqi keberatan, jadi Velingga tidak tahan merasa jealous berterusan. Capek. Velingga pun nekat membawa anak-anaknya yang kembar itu pulang ke Blitar," jelas Khaisan masih tersenyum.


"Kasihan, aku sedih. Kapan kamu ajak aku ke Blitat? Abang Kha masih punya jejak tilas di sana?" tanya Cut Ha sedih yang dalam, matanya telah berkaca-kaca.


"Ada, rumah waris nenek dan kakek untukku. Ada juga abangnya momi, aku panggilnya pakdhe, sama keluarga juga di sana. Kangen jika ingat mereka, Cut. Kapan-kapan kuajak ke Blitar," jelas Khaisan sambil berjanji.


"Jangan tipu," ucap Cut Ha dengan wajah berbinar. Khaisan mengangguk-angguk dengan pandangan cinta pada sang istri.


Mendadak terdengar langkah cepat yang mendekat. Cut Ha dan Khaisan sama-sama menolehnya. Rupanya Theo yang datang menghampiri.


"Bos," sapa Theo pada Khaisan.


"Ada apa Theo?" tanya Khaisan. Theo tampak terengah.


"Masih ada satu lagi tamu datang. Tercecer," ucap Theo sambil menoleh ke belakang.


Khaisan dan Cut Ha memandang ke pintu aula, sedang berjalan masuk seorang lelaki dengan baju santai, diiringi satu lelaki berbadan sama besar dan berbaju kemeja sangat rapi. Lelaki berbaju rapi berjalan di belakangnya sambil membawa sebuah kotak sedang. Sepertinya lelaki itu adalah asisten dari lelaki berbaju santai.


"Bang Kha, itu siapa? Kamu kenal?" tanya Cut Ha memandang sang suami. Dibalas gelengan bimbang oleh suaminya.


"Entahlah, Cut." Sebenarnya, Khaisan merasa tidak asing dengan postur tubuh tamu itu. Tetapi tidak dengan wajahnya. Lelaki yang tidak dikenalnya itu sudah datang mengahampiri.


"Selamat, akhirnya kau menikahi wanita yang kaucinta. Terus berbahagialah," lelaki tak dikenal itu menyalami Khaisan sambil berbicara.


Hanya sebentar, tetapi kemudian pergi tanpa menyalami sang pengantin wanita. Cut Ha termangu-mangu merasa hal tidak wajar seperti itu. Perasaan Khaisan pun demikian.


"Ini hadiah untuk Anda berdua, terimalah." lelaki asisten itu meletak kotak sedang di pangkuan Cut Ha. Hanya seperti itu, kemudian pergi keluar aula dengan cepat dan menyusul lelaki berbaju santai.


Khaisan dan Cut Ha saling berpandang heran penuh tanya, keduanya kemudian menggeleng bersamaan.


πŸ•Έ


Khaisan keluar dari kamar mandi hanya berhanduk kecil dan dililit di pinggang. Cut Ha yang sudah terlebih dulu mandi memandangnya tersipu. Meski hampir tengah malam, mereka nekat mandi sebab rasanya sangat gerah. Tidak ingin menunda mengguyur badan hingga esok.


"Sedang apa?" tanya Khaisan basa-basi dan duduk merapat pada Cut Ha.


"Sebenarnya ingin sekali membuka semua ini," ucap Cut Ha. Menunjuk gunung hadiah yang menumpuk di sebuah trolley jumbo.


"Besok saja, biar dibantu Mariah," bujuk Khaisan.


"Tidak sabar," keluh Cut Ha.


"Jika kamu sibuk membuka hadiah sekarang, aku bagaimana? Aku pun sudah ditak sabar unyuk membukamu dan mencabik-cabikmu," ucap Khaisan berbisik di tengkuk Cut Ha. Membuat pengantin wanita merasa geli dan merinding.


"Kedua adikmu pun pasti ikut koyak-koyak," ucap Cut Ha tersenyum. Gunungan kado itu membawa bahagia tersendiri untuknya. Merasa senang untuk membuka kado sebanyak itu berjamaah.


"Mereka semua sudah tidur sekarang. Tinggal kita yang wajib lembur malam ini," ucap Khaisan memeluk dari belakang. Cut Ha hanya mengenakan baju handuk tanpa pengaman apapun di baliknya.


"Sebentar, Bang Kha. Kubuka dulu kado ini. Kado terakhir dari lelaki asing tadi," Cut Ha menahan tangan Khaisan yang sudah aktif merambati segala tempat di tubuhnya.


"Bukalah," ucap Khaisan ikut memperhatikan.


Cut Ha membuka kotak yang tersegel, tetapi cukup mudah dibukanya. Sebuah benda tampak berkilau tersembul. Gelang tangan sangat cantik dan indah.


"Gelang berlian?!" pekik Cut Ha terkejut. Khaisan segera mengulur tangan dan meraihnya. Ada sertifikat penyertanya. Dibeli dua hari lalu di pusat mode dunia, yakni kota Paris.


"Kunci apa ini?" tanya Cut Ha dengan sangat heran. Yang menurutnya adalah kunci mobil, ada dua kunci sama persis yang bergandeng.


"Kunci mobil?" tanya Cut Ha menebak dan Khaisan pun mengangguk.


"Mobil mewah, ini untuk kamu, Bang Kha," ucap Cut Ha menunjuk beberapa dokumen mobil atas nama Khaisan.


Khaisan termangu dan saling pandang dengan Cut Ha. Berfikir keras akan kemungkinan siapa lelaki yang telah sangat royal menghadiahi barang kewah untuk sang istri dan dirinya.


"Cut, mungkinkah dia Philips?" tanya Khaisan terkejut. Yang selama ini tidak pernah lagi bisa menjumpai, kini tiba-tiba datang di depan mata dan menghilang begitu saja. Khaisan sangat menyesal kenapa baru sekarang menduganya. Wajahnya memang sama sekali bukan Philis.


"Siapa, Bang Kha? Apa bang Theo kenal?" tanya Cut Ha yang juga merasa tidak mengenali lalaki tadi. Sang suami baru saja menghubungi asistennya.


"Theo bahkan juga tidak kenal wajahnya. Tetapi andai lelaki tadi adalah Philips, rasanya masuk akal. Mobil hadiah untukku adalah mobis sport yang mewah, Cut," ucap Khaisan tanpa nada. Merasa terpukul andai benar-benar Philps yang datang sedang dirinya terlihat tidak memiliki kenangan selembar pun tentangnya. Khaisan sangatlah menyesal.


Merasa bersyukur, bahwasanya Philips sangatlah baik. Mengerti arti sebuah saudara. Khaisan berjanji akan terus berusaha menjumpai Philis, meski tidak total sembuhnya, ingin sekali menyadarkan sepupunya yang sempat hilang itu untuk kembali ka jalan yang lurus.


"Cut, kamu tahu tidak, kenapa Andres tidak datang?" tanya Khaisan perlahan.


"Tentu saja, dia pasti terus marah dan menghindari apapun skandal tentangku, dia juga pasti merasa enggan dengan rumah tangganya yang gagal bersamaku." Cut Ha berbicara dan tampak menerawang sangat jauh.


Khaisan kembali memeluk sang istri dengan mesra dari belakang.


"Cut, kita hempas sebentar sejuta tanya dan problem kita malam ini. Aku sudah menunggu sangat lama. Sejak kamu menjanda, sembilan puluh hari sabarku menunggu. Itu sangat berat, Cut." Khaisan berbicara dengan kian memeluk.


"Ayolah, kita tidak muda lagi. Kita start rilis anak dalam rahimmu mulai nalam ini sebaik mungkin. Kita panjat doa, ikuti aku membacanya dengan gembira, Cut," bisik Khaisan.


Cut Ha segera berbalik memandang redup Khaisan. Pandangan mereka beradu dengan penuh kemesraan. Sambil berdoa demi harapan untuk bahagia dan hidup bersama selamanya hingga kelak. Mendapat keturunan yang cukup dan sehat sempurna sebagai pelengkap bahagia pernikahan mereka berdua! Berharap kelak juga akan membangun pernikahan kekal yang tidak kalah indah di surgaNya!


End


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


Assalamu'alaikum..


Alhamdulillah, tega saja ku endkan, maafkan..


Jangan kecewa ya... Percayalah, author lebih merasa kecewa berlipat darimu! Hanya meminta 5 bintang, tetapi berat sekali kauberikan.. Oh duhai readers,, di mana kasihmu padaku??! βœŒπŸ˜˜πŸ™πŸ™


Maaf jika ada kilaf salahku.. Love you..😍😘


Wassalam.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ