The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
62. Cemburu



Cut Ha bersama Andres terlihat menyalami tamu di beberapa meja. Meski wajah cantik itu sedikit mendung, tetapi ditutup dengan senyum palsu yang siap terbit di setiap meja para tamu.


Cut Ha dan Andres adalah pasangan calon pengantin yang terlihat sangat serasi. Cantik, tampan dengan tinggi mereka yang seimbang. Sangat menyenangkan sekali dipandang.


Errushqi kian gundah gulana rasanya, Velingga belum muncul juga setelah sekian lama Cut Ha kembali ke tengah acara. Was-was di mana Velingga. Kelebat prasangka buruk menggoda kepala dan hatinya. Adakah hubungan tidak adanya Velingga dengan adanya Putra di penginapan? Darah Errushqi bergolak kencang tidak tenang.


Pak Latif dan istrinya telah meninggalkan meja dan pergi ke kamar demi istirahat lebih cepat. Cut Ha masih berada di meja ujung dan sangat jauh dari meja Errushqi. Terlihat sibuk beramah tamah, keinginan untuk menghampiri dan menanyakan di mana Velingga terpaksa ditahannya.


"Pa, itu mama! Itu mama! Mamaaaa,,,!" seru Erlika tiba-tiba. Gadis kecil cantik dan menggemaskan itu menunjuk ke satu arah dengan raut cerah dan senyum yang gembira.


Velingga telah berjalan cepat menuju meja mereka sebab lambaian Erlika yang memudahkannya mencari. Duduk pelan dengan sorot mata yang bingung.


"Kamu dari mana saja, Ling?" tanya Errushqi dengan nada tidak suka. Pandangannya tajam pada Velingga.


"Maaf, apa aku sangat lama? Maaf ya, Mas," sahut Velingga merasa bersalah. Tapi bicaranya seperti mengambang tidak fokus. Semakin membuat Errushqi curiga dalam praduga buruk yang sesat.


"Kamu makan di rumah apa di sini, Ling? Anak-anak sudah kubuat kenyang keduanya," ucap Errushqi dengan memandang Velingga tajam.


"Maksudmu? Kita jadi menginap, kan? Aku sudah janji pada Keke untuk menemani selama dia dirias hingga nikahan. Jadi, besok siang pun, aku dan si kembar tetap stay di sini. Mas Rush pulang kerja datang lagi saja ke sini. Kita pulang habis nikahan Keke," terang Velingga. Khawatir jika ternyata Errushqi mengajaknya pulang ke rumah.


"Kerjaku numpuk, Ling. Kita pulang saja sekarang. Tapi baiknya kamu makan dulu." Errushqi berkata tegas sambil memangku Erlika. Gadis kecil itu merasa tenang dengan adanya sang ibu dan kini mulai mengantuk.


"Aku tidak ingin makan," sahut Velingga ketus dan nampak sangat kecewa. Apa yang dikhawatirkan terbukti.


"Makanlah barang sedikit. Jika tidak, besok tidak perlu datang lagi ke sini," ucap Rushqi kembali tegas bicara.


"Aku dan anak-anak akan naik taksi," sahut Velingga kesal.


Namun, dengan cepat tangannya terulur meraih piring dan mengisinya dengan cukup nasi dan lauk. Bukan lantas hanya sedikit yang diambilnya. Errushqi menghela nafas dengan panjang. Menahan diri yang sebenarnya jadi ingin tersenyum. Tapi perasaan cemburu lebih menguasai kepalanya.


Meskipun berat, Cut Ha terpaksa melepas Velingga pulang dibawa suami bersama dua kembar. Hanya janji Velingga akan hadirnya lagi esok, membuat calon pengantin jelita itu bersemangat. Mengambil sumpah Velingga agar tidak sampai memberinya janji palsu.


"Masalah begitu saja marah, biar cepat tua,,," sindir Velingga dengan kesal. Merasa tidak suka dengan Errushqi yang banyak diam dengan wajah kakunya.


Yang disindir tidak peduli dan terus fokus dengan kemudi. Erick mulai mengantuk, mungkin sebentar lagi akan menyusul adik kembar yang sudah pulas tidur dan tenggelam dalam mimpi. Erick duduk di samping Velingga dengan dipeluk sebelah tangan. Sedang Erlika dipangku sang ibu. Mereka di bangku depan menemani Errushqi mengemudi.


Mbok Yanti, asisten di rumah Errushqi, segera menyambut saat mereka tiba di rumah pukul sepuluh malam. Mengambil Erick yang digendong Errushqi dan segera menyusul Velingga yang sudah menuju ke kamar anak di lantai dua. Kamar Erick dan Erlika tepat di sebelah kamar kedua orang tuanya.


Velingga menutup kamar tanpa mengunci. Memang seperti itu tiap harinya. Sebab, jika Erick atau Erlika terbangun dan susah tidur lagi, mereka akan pergi ke kamar sebelah dan minta ditemani tidur lagi. Jadi, kamar dua kembar pun tidak pernah dikuncinya.


"Mas, aku tidak tahan didiamkan. Aku kan sudah mohon maaf. Lagipula kan juga tidak tiap hari, tidak tiap minggu, tidak tiap bulan, bahkan tidak juga tiap tahun. Hanya moment sejarah begini saja aku ngumpul lama sama Cut Ha." Velingga mulai membahas sikap Errushqi yang baginya sedang tidak menyenangkan.


"Tiba- tiba sikap kamu nggak ngertian banget?!" protes Velingga bersungut menyambung.


"Sini!" kata Rushqi sambil menarik sang istri duduk di sofa. Rushqi menaikkan sebelah kaki dan duduk menghadap Velingga. Velingga berusaha tenang, tingkah Errushqi memang sering mengejutkan.


"Apa sih? Ya udah, aku janji. Nanya apa?" Velingga terheran penasaran. Tidak biasanya Errushqi bersikap aneh begitu.


"Aku tahu mantan kamu belum menikah hingga kini, apa diam-diam kamu masih berkomunikasi? Kalian masih ada hubungan?" tanya Errushqi mendesak. Velingga berkerut merut, antara kesal dan bingung.


"Maksudmu?" tanya Velingga.


"Aku berjumpa Putra di acara tunang Cut Ha. Sedang kamu menghilang lama sekali. Cut Ha sudah kembali pun, kamu lama tidak kembali. Kamu berjumpa Putra?" tanya Errushqi ingin menjebak Velingga. Merasa praduganya benar sekali.


"Apa, mas?! Kamu ketemu sama Putra?!" Velingga bahkan sampai berdiri dari duduk dan kembali duduk dengan menghadap Errushqi.


"Putra adalah pemilik tempat penginapan. Kamu tidak tahu?" tanya Errushqi sinis menyelidik. Merasa keterkejutan Velingga hanya pura-pura belaka.


"Benarkah, mas?! Lalu di mana Putra sekarang berada??" tanya Velingga terkejut dan sangat antusias.


"Jangan pura-pura, Ling," ucap Errushqi yang masih mode kesal dan cemburu.


"Mas, jadi kamu cemburu denganku?" tanya sedikit tersenyum. Sudah memahami sebab kediaman Errushqi.


"Apa benar kamu diam-diam ketemu Putra di sana?" tanya Errushqi dengan wajah yang resah.


"Enggak benar. Kamu tega sekali menyangka aku begitu. Kamu masih ragu dengan kebaikanku? Jahat!" Velingga memukuli pelan dada Errushqi. Hanya agak kesal saja pada sang suami. Sebab, pikirannya terus teringat akan curahan hati Cut Ha padanya saat di kamar penginapan.


"Benarkah, Ling?" Errushqi menangkap tangan Velingga dan menarik sang istri ke dadanya dan memeluk di belakang.


"Tentu saja benar. Terus curiga?" tanya Velingga. Pelukan Errushqi terasa hambar.


"Lalu, ke mana saja kamu pergi?" tanya Errushqi mendesak. Benar yang dipikir Velingga, Errushqi masih menyimpan rasa tak percaya.


"Ya di kamar Cut Ha saja, nggak ke mana-mana." Velingga menegaskan.


"Mas, aku ingin cerita hal besar mengenai kesedihan Keke yang ternyata aku tidak tahu dan tidak kusangka sama sekali. Aku sangat,,sangat terkejut, mas," keluh Velingga pada Errushqi.


"Kesedihan Keke? Apakah, Ling?" tanya Errushqi. Kali ini dieratkan pelukannya pada Velingga.


"Jika kuceritakan, kamu pasti terkejut, mas. Dengar baik-baik, ya. Tapi habis cerita, minta maaflah padaku. Kamu telah sempat berburuk sangka padaku," ucap Velingga dengan menoleh ke belakang.


"Iya, aku minta maaaf sekarang. Nanti kuulang lagi minta maafnya. Sekarang ceritakan padaku,, apa saja yang kamu lakukan di kamar Keke?" bujuk Errushqi bersetuju. Mencium rambut dan kepala Velingga dengan kuat sekali.


Velingga menyandar punggung dan meletak kepala dengan nyaman di dada Errushqi. Kemudian mulai bercerita. Apapun yang diluahkan Cut Ha padanya, semua dia katakan pada Errushqi. Merasa itu tidak masalah. Sebab sang suami pun juga tahu, bagaimana kelamnya masa lalu Keke yang dulu.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ