
Kamar luas di lantai satu adalah kamar baru yang diberikan Khaisan untuk Cut Ha. Tidak lagi kamar di lantai dua di samping kamar Khaisan sebagaimana yang Theo atur. Namun, Khaisan telah memindahkan jauh dari nomor dan lokasi kamar yang lama.
Kamar mewah dengan fasilitas yang lengkap segalanya, Khaisan merasa jika Cut Ha akan aman di sana. Tidak ingin keberadaan Cut Ha akan terancam, membuat Khaisan memindahkan posisinya. Kamar yang tidak terdaftar dan berstatus tidak di dalam peggunaan.
"Apa ini bangunan baru?" tanya Cut Ha dengan wajah yang basah. Wanita itu baru membasuhnya di wastafel.
"Bukan, Cut. Sudah hampir dua tahun, tetapi terbaru juga daripada bangunan lain di lantai satu," jelas Khaisan. Memahami keheranan Cut Ha akan model dan bentuk kamar yang tidak sama dengan kamar yang lain. Bahkan terpisah sendiri dan seperti terasing.
"Kamar sebagus ini, kenapa kosong? Kenapa tidak dipilih pengunjung?" tanya Cut Ha heran.
"Ini adalah kamar termahal di penginapanku, Cut," sahut Khaisan yang duduk di sofa sambil menonton televisi.
"Termahal?" Cut Ha kembali mengedar pandangan ke segala sudut kamar.
"Apa tidak ada yang lebih bagus lagi dari kamar ini?" tanya Cut Ha lagi sambil duduk di seberang Khaisan.
"Kuinginkan tidak ada. Kamu lupa dengan kamar ini?" tanya Khaisan tersenyum. Cut Ha menggedikkan bahunya ke atas.
"Kuharap kamu tidak bersedih, Cut," ucap Khaisan. Kini berdiri dan berjalan memutar, duduk di sebelah Cut Ha agak rapat.
"Ini adalah rumah kecil yang kutinggali bersama Felix, dulu. Bangunan itu kuhancurkan. Sekarang jadi seperti ini, jauh lebih kecil. Apa kamu sama sekali tidak ingat?" tanya Khaisan, memandang Cut Ha yang tampak serius menyimak.
"Apa ada dapur di sekitar sini?" tanya Cut Ha dengan mata berbinar. Khaisan merasa lega, maknanya Cut Ha tidak lagi merasa sedih dengan peristiwa menyakitkannya sebab Felix.
"Iya. Tepat di belakang adalah dapur penginapan. Tapi seperti yang kupesan padamu, jangan pernah keluar sebelum aku mengizinkan kamu keluar dari sini. Saat aku tidak di penginapan, Theo akan mengurusi keperluanmu dan makanmu," jelas Khaisan.
"Apa Theo sama dengan Felix? Managermu?" tanya Cut Ha.
"Kuanggap tidak sama. Theo adalah kaki tanganku, asistenku di penginapan. Aku tidak berminat memiliki rekan kerja dengan sebutan manager lagi, Cut," terang Khaisan. Tangan besarnya telah terulur di kepala Cut Ha dan mengelusi rambutnya yang lebat dan lembut.
"Mana ponselmu, akan aku simpankan nomor ponsel koki dan pegawai dapur di kontakmu. Akan kubilang pada mereka untuk memprioritaskan panggilan dan request darimu. Kamu bisa menghubungi mereka kapan pun andai Theo sedang sangat sibuk, Cut," pesan Khaisan serius sambil mengetik nomor dan menyimpannya dengan cepat.
"Kamu bicara seperti itu, seperti kamu akan pergi lama. Aku tidak suka, jangan bicara apapun lagi. Aku sudah sangat lama kamu tinggal, jangan hilang lama-lama lagi, Khaisan," ucap Cut Ha dengan resah. Perasaannya tidak enak mendengar pesan dan ucapan Khaisan.
"Lama itu seberapa lama bagimu? Aku sehari saja, sudah seperti sangat lama meninggalkanmu," ucap Khaisan tersenyum. Sambil menarik bahu Cut Ha untuk lebih merapat. Kini Khaisan memeluknya.
"Selama di Jepang, apa saja yang kamu lakukan?" tanya Cut Ha dalam pelukan Khaisan.
"Mencari kesibukan. Namun, sesibuk apapun aku, kamu tidak pernah bisa kulupakan, Cut," ucap Khaisan. Nafas bicaranya berhembus hangat di kepala Cut Ha.
"Penipu, kamu bahkan tidak pernah mencari tahu bagaimana pernikahanku selama ini," sungut Cut Ha. Ditepukinya dada Khaisan dengan gemas.
"Aku juga sangat menyesal, maafkanlah, Cut. Sebenarnya kupikir kamu bahagia, Andres terlihat sempurna sebagai lelaki dan juga kaya," ucap Khaisan menyesali. Tangan Cut Ha telah ditangkap dan digenggam jemarinya di dada.
"Kamu istri orang, Cut,," jawab Khaisan. Wajahnya meringis saat jemari lembut itu mencakar dadanya.
"Lalu, kesibukan apa saja yang kamu lakukan di Jepang?" tanya Cut Ha tersenyum.
"Banyak sekali. Aku juga berkunjung pada para saudara ayahku." Khaisan membenarkan duduknya.
"Apa semua saudara ayahmu tinggal di Jepang? Tidak ada satupun yang tercecer di Indonesia seperti kamu?" tanya Cut Ha mendongak. Mereka berdua saling memandangi.
"Iya, Cut. Kecuali satu orang sepupuku yang hilang. Bukan hilang, tetapi menghilangkan diri dari keluarga," jelas Khaisan.
"Apa masih muda? Apa sudah tua?" tanya Cut Ha.
"Dia sepupu tertuaku. Anak lelaki tertua dari saudara ayah yang tertua.
"Kenapa bisa hilang?" tanya Cut Ha ingin tahu.
"Awalnya salah pergaulan. Paman dan bibiku menasihati hingga lelah. Setelahnya, tidak pernah kembali ke rumah. Polisi pun tidak tahu jejaknya, bahkan sudah angkat tangan dan menyerah," Khaisan berbicara sambil mengangkat kedua kaki ke meja. Cut Ha telah merebah dan meletak kepala di pahanya agak lama.
"Jangan-jangan sudah meninggal," ucap Cut Ha berasumsi.
"Bisa jadi," sahut Khaisan sambil menurunkan kaki kembali.
"Mau apa??" Cut Ha mendongak. Khaisan menariknya dan berdiri. Diangkat dengan cepat dan dipindah ke ranjang.
"Tidurlah dengan tenang. Tinggallah di sini sementara." Khaisan membentangkan selimut lebar-lebar untuk menutupi tubuh Cut Ha. Mesin pendingin ruangan telah bekerja sangat sempurna.
"Kamu tidak tidur?" tanya Cut Ha memandang redup dan sayu pada Khaisan. Sungguh ini adalah godaan sangat berat bagi sang mantan bodyguard.
"Besok akan kuselesaikan masalah ini, Cut. Akan kutemui Andres. Aku ingin cepat menikahimu. Kita harus segera menikah," ucap Khaisan sembari merebah bimbang di samping wanita yang disayang.
"Andres tidak akan menemukanku di sini?" tanya Cut Ha.
"Tidak, dia hanya akan menjumpai kamar kosong di atas sana. Kupastikan Andres tidak akan bisa lagi membawamu. Saat dia mengantarmu ke sini, bermakna dia telah melepaskanmu. Jangan pernah kembali lagi ke rumahnya. Dia lelaki tidak waras, Cut," sahut Khaisan dengan suara yang memberat.
Rasanya terlalu berat menahan diri. Khaisan membuka selimut dan menyelip ke dalamnya. Menyelimuti dirinya dan Cut Ha hingga tenggelam seluruh badan. Ruangan istimewa itu sudah sangat dingin menggigit rasanya.
Bukan tidur bersama dengan tenang. Selimut yang membentang lebar itu bergerak. Terus bergerak dengan lamban, lalu berubah jadi cepat dan kian lama pun tidak lagi beraturan gerakannya.
πΈπΈπππΈπΈ