
Tidak disangka, hanya dalam hitungan hari saja, surat cerai yang sudah dijanjikan Andres dan begitu ditunggu pun terbit juga. Cut Ha sangat bahagia menerima salinan surat cerai itu di emailnya. Kini sedang berdiri menjumpai Khaisan di pintu kamarnya.
"Jadi kamu sudah janda?" tanya Khaisan dengan berusaha serius dan tidak tersenyum.
"Iya, aku sudah janda..." Cut Ha menjawab sambil termangu memandang Khaisan.
Wajah Khaisan tidak terlihat gembira sedikit pun. Perasaan Cut Ha yang semula serasa berbunga, mendadak menguncup dan layu. Prasangka jika Khaisan pun akan terkejut dan senang, ternyata tidak seperti itu ekspresinya. Merasa kecewa, sedih dan kesal yang sangat.
"Untuk apa datang kemari?" tanya Khaisan yang hampir tidak mampu menahan senyuman. Menambah kesal hati Cut Ha.
"Kamu, kamu tidak terkejut? Kamu tidak suka?" tanya Cut Ha dengan nada gemetar akan menangis. Wajah cantik itu sangat sedih dan nelangsa. Merasa jika Khaisan bersikap sangat jahat padanya.
"Mana bukti kejandaanmu?" tanya Khaisan lagi. Sedang mengeraskan hati yang sebenarnya sangat iba pada Cut Ha.
"Ini," ucap Cut Ha sambil mengulur email di ponsel. Berharap Khaisan membaca surat cerai itu di emailnya. Wajah cantik itu sedikit berbinar.
"Itu hanya kabar dalam tulisan. Apa tidak ada bukti cetaknya?" tanya Khaisan yang kini sudah tersenyum, tidak sanggup lagi bersandiwara.
"Maksudmu?" Cut Ha bertanya kebingungan.
"Ayo kita ambil surat ceraimu di Pengadilan Agama, Cut. Biar kusimpan surat ceraimu. Aku khawatir jika nanti kamu selingkuh," ucap Khaisan sambil merangkul Cut Ha dengan capat sambil dibawanya berjalan. Senyumnya sudah sangat lebar tanpa sedikit pun ditahan.
"Kamu ini ... Jahat sekali!" seru Cut Ha dengan kesal. Namun, tangannya melingkar di pinggang Khaisan dengan lekat. Mereka berjalan berangkulan dengan senyum-senyum yang gembira.
Akan tetapi, mereka berdua sama-sama merenggang dan menjauh seketika saat seorang pegawai perempuan berjalan maju dari arah berlawanan. Keduanya terus melangkah berjauhan tanpa berani lagi saling dekat. Tentu saja sambil tersenyum-senyum berterusan, wajah tampan dan jelita itu tampak sekali bahagia.
Prosedur pengambilan surat cerai telah dilakukan dengan lancar. Lembar dokumwn penting itu telah diturunkan. Kini sedang diamankan sendiri oleh Khaisan.
"Sini, biar kusimpan sendiri ituku," ucap Cut Ha sambil menunjuk tas kerja Khaisan. Lembar surat cerai telah dimasukkan di sana.
"Jangan, ini sangat penting untuk syarat kita menikah nanti, Cut. Kamu ini pelupa, nanti terselip dan hilang. Apalagi kamu kan tidak ada tempat tinggal," ucap Khaisan bermaksud menggoda.
"Kamu menghinaku?" tanya Cut Ha dengan wajah masam dan merengut. Khaisan menoleh, tampak bingung dengan respon Cut Ha yang jadi sensitif belakangan ini.
"Apa semua janda tidak bisa diajak bercanda?" tanya Khaisan, Cut Ha kian tampak tidak suka.
"Tidak ada lagi gadis yang mau denganku. Aku terlalu tua," timpal Khaisan tersenyum.
"Jadi, sebenarnya kamu ingin mencari gadis?" Cut Ha kian kesal.
"Betul sekali, Cut. Bahkan kita sedang menuju pada gadis itu sekarang," sahut Khaisan dengan terus tersenyum. Merasa suka dengan wajah Cut Ha yang terus tampak jutek padanya.
"Maksudmu, kamu sudah memiliki kekasih lain? Dia seorang gadis?" tanya Cut Ha dengan wajah berubah sedih.
"Dia memang seorang gadis, Cut. Tetapi dia bukanlah kekasihku," ucap Khaisan dengan tenang.
"Siapa?" tanya Cut Ha ingin tahu yang sangat.
Khaisan tidak menjawab, hanya diam memandang di jalanan. Cut Ha terus memandang Khaisan sangat kesal.
"Siapa?!" tanya Cut Ha dengan sedikit menggertak.
Tin! Tin!
Khaisan justru dengan tenang menghentak klakson kemudi hingga dua kali. Cut Ha berpaling dari wajah Khaisan. Membuang pandangannya ke depan. Sangat terkejut hatinya, seorang perempuan bertubuh kecil, yang Cut Ha pun yakin jika dia adalah seorang gadis ting-ting, sedang berdiri di depan pintu rumahnya menyambut.
Cut Ha merasa sangat haru dan trenyuh. Seperti merasa menelantarkan gadis itu. Rasanya tidak sabar untuk segera turun dari mobil. Merasa sangat rindu, ingin sekali memeluk gadis itu.
"Terima kasih, Abang Khaisan. I love you forever," ucap Cut Ha dengan mesra dan manja. Khaisan hanya memandangnya tersenyum. Ternyata, Khaisan telah membawanya pada seorang gadis yang setia berada di rumahnya, Mariah-lah nama gadis itu!
πΈπΈπππΈπΈ
Beloved reader... InsyaAllah, besok End yaa,,,
Terimaksih selalu dukunganmu ya kakak2..
Aku benar-benar padamu..
Yang belum/ lupa ngasih 5 bintang.. Pencet yaa,,, 5 bintang..πππππππ