The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
65. Khilaf



Cut Ha berdiri menahan tangan untuk tidak dulu membuka pintu. Menunggu apa maksud Khaisan yang baru saja menyebut namanya. Meskipun sakit dan marah serta sangat kecewa, masih ada harap andai Khaisan mengubah sikapnya yang menyakitkan itu menjadi lebih manis.


"Cut," ulang Khaisan memanggil.


"Maafkan aku, Cut," ucap Khaisan lirih.


Bodyguard yang membuat Cut Ha merasa kecewa berat itu telah berdiri dekat menyusul di depannya. Berdiri menyandar pintu dan mungkin bermaksud menghadang. Tidak ingin Cut Ha membuka pintu dan pergi.


"Menepi, aku ingin pergi," ucap Cut Ha yang kembali merasa kesal. Yang sebenarnya hanyalah gertak sambal. Tidak mungkin meninggalkan kamar disaat Khaisan mulai bersikap manis padanya.


Khaisan berdiri tegak dengan hanya diam memandang dalam wajah cantiknya. Menatap redup yang seperti akan menelan Cut Ha seluruhnya.


"Jangan pergi," ucap Khaisan dengan pandang sayu dan dalam.


"Aku benci denganmu," sahut Cut Ha memberikan nada yang tajam. Meluahkan lagi rasa kecewa dan marahnya. Meskipun tatapan itu masah sama, memuja damba sang bodyguard.


"Jangan membenci," pinta Khaisan terdengar semakin lirih.


"Kenapa aku tidak boleh membencimu? Bukankah itu yang kamu mau?" tanya Cut Ha dengan menunjuk perasaan yang kesal.


"Bukan seperti itu yang kumau. Tapi sebenarnya kamulah yang sangat kumaukan, Cut," ucap Khaisan. Tangannya bergerak mengulur dan menyentuh bahu Cut Ha. Lalu ditepuk-tepuk bahu yang sebagian tertutup kerudung handuk itu dengan lembut.


"Jika jijik, jangan memaksa diri menyentuhku," ucap Cut Ha terdengar ketus. Menutup perasaan yang kembali kencang berdebar.


"Ini apa, Cut? Kenapa kamu memakai handuk untuk kerudung?" Khaisan memegangi handuk di kepala Cut Ha dengan heran.


"Velingga yang bikin. Aku nggak ada kerudung," sahut Cut Ha masih ketus.


"Kamu masih terus pura-pura di depannya?" tanya Khaisan lembut. Ada senyum di wajah tampannya. Menduga jika gunung kemarahan Cut Ha sudah mulai meleleh.


"Aku memang tidak sebaik mantan kekasihmu," sahut Cut Ha bersungut.


"Hanya masalah kerudung, mana bisa dibandingkan. Tetapi kenapa tidak mencoba memakai kerudung tiap hari saja, Cut? Kamu sangat cantik seperti ini." Khaisan memuji serius, tangannya menyentuh dagu Cut Ha dan mengelus dengan jari jarinya.


Cut Ha menunduk, bukan tampak tersipu, tetapi wajah cantik nya terlihat sangat sedih. Bingung dengan sikap Khaisan yang sebentar abai, sebentar juga bersikap manis dan menyanjung. Merasa jika sebenarnya Khaisan adalah seorang perayu ulung.


"Kamu tidak perlu memujiku, jangan bersikap baik padaku. Kamu bahkan tidak menyambutku dengan baik barusan. Padahal aku ingin mendapat kesempatan, juga memberimu kesempatan untuk kenangan paling baik yang terakhir kalinya. Tapi kamu jahat sekali, kamu tidak mengerti perasaan sedihku, Khaisan," keluh Cut Ha. Yang air matanya kembali keluar dan mengalir begitu saja. Khaisan menangkap pipi berair itu dengan kedua telapak lebar tangannya.


"Aku sangat ingin menyambutmu, Cut. Tapi aku takut jika punya keinginan untuk terus mencarimu saat kamu sudah menjadi istri orang. Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tanggamu. Aku tidak ingin membuatmu berselingkuh. Kamu yang akan merugi, Cut," kata Khaisan menjelaskan. Cut Ha menatapnya dan menggeleng.


"Aku tidak suka perselingkuhan, aku bukan wanita seperti itu. Hanya malam ini, Khaisan. Sambutlah kedatangankuku dengan baik kali ini. Sebab setelah malam ini, aku tidak akan mencarimu. Kecuali, kamu membawaku pergi jauh dan kita menikah," ucap Cut Ha terasa menyesakkan.


"Cut, maafkaan aku," ucap Khaisan lirih.


Ditariknya kedua bahu Cut Ha ke arah dada dan dipeluknya. Rasanya sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk terus abai dan tidak menyentuh Cut Ha sama sekali. Merasa sebagai lelaki munafik dan sok suci jika terus acuh pada kedatangan Cut Ha, wanita yang sangat diinginkan. Juga wanita yang sangat didambakan sepenuh jiwa sepenuh raga. Khaisan sangat ingin menyentuhnya.


"Khaisan,,," sebut Cut Ha.


"Cut,, Cut Hanah,," sambut Khaisan dengan mmemeluk tubuh wangi itu dengan rapat. Cut Ha juga melingakarkan tangan di badan besar Khaisan kian erat. Serasa ingin melebur saja ke dalam raga besar sang bodyguard.


"Peluk, peluk erat aku, Khaisan,," ucap Cut Ha melenguh terbata. Meski Khaisan sudah rapat memeluk, rasanya tidak puas, selalu kurang dan seperti terus dahaga raga terasa.


"Aku sudah habis memelukmu, Cut. Bagaimana lagi?" bisik Khaisan dengan nafas hangat yang mulai terasa memburu dan cepat.


Cut Ha tidak menjawab, hanya pelukan eratnya yang terasa menguat. Telah karam bersama rasa lega dan bahagia yang sangat. Khaisan telah menyambutnya kelewat hangat.


Cut Ha sedang mengumpul keberanian untuk mengutarakan hal besar yang sudah diniatinya sejak beberapa hari lalu saat Khaisan menghilang. Rasa rindu dan cintanya pada sang bodyguard ternyata telah menggunung dan menjurang. Sangatlah tinggi dan mendalam. Tidak sanggup jika harus berpisah dan ditinggal begitu saja.


"Pengawal Kha," bisik Cut Ha di dada Khaisan.


"Cut," sambut desah Khaisan. Sang bodyguard sedang kesusahan mengendalikan keinginan dirinya. Tidak munafik jika Cut Ha seperti sedang menggoda dan sangat menguji patuhnya.


"Ciumlah aku, Khaisan,," bisik Cut Ha merengek. Mata Khaisan tampat terkejut, permintaan itu kian membangunkan hasratnya.


"Cut,," sebut Khaisan dengan sangat bimbang dan resah. Sudah hampir melayang setengah warasnya.


Namun, Cut Ha lebih tidak memberi kesempatan utuh waras lagi padanya. Wanita jelita yang masih berkerudung handuk itu telah berjinjit dan menyandarkan rapat bibirnya pada Khaisan. Keraguan sang bodyguard pun terhempas. Menepi jauh oleh rasa cinta dan hasrat terpendam yang tak kuasa lagi ditahan.


"Cut," desah Khaisan terengah setelah melepas ciuman panjang bersama Cut Ha di bibir.


Cut Ha mencengkeram lengan kemeja Khaisan dengan memandang sayu padanya. Bibir itu basah dan masih terbuka. Kian membuat Khaisan lupa sejenak akan tugas dan misinya.


"Kulepas handukmu,," ujar Khaisan dengan samar.


Tangannya telah mengambil pin jarum yang mengunci lipatan handuk dengan rapi. Yang jadi terburai begitu Khaisan mencabut pin pengunci. Mengambil handuk di kepala Cut Ha dan menyampirkan di sofa dengan setengah melemparnya.


Cut Ha dan Khaisan saling pandang dengan tatap berkabut gairah. Kedua insan dengan hasrat sehaluan itu kembali karam dalam ciuman dalam dan panjang. Menimbulkan decap dan lenguhan bersahutan memenuhi ruang kamar.


Cut Ha telah mengalung tangan di leher Khaisan dengan posisi yang terasa lebih aman. Beberapa kali bibir keduanya saling melepas dan renggang. Berpandang sesaat yang berlanjut lagi dengan ciuman yang kian panjang dan panas.


"Bawalah aku ke ranjangmu, Khaisan," pinta Cut Ha saat ciuman mereka terlepas untuk ke sekian kali banyaknya. Khaisan memandang calon pengantin orang itu dengan sorot mata penuh damba.


Tidak lagi bimbang, disambarnya Cut Ha dan dibawa ke ranjang besar dan panjang miliknya. Meletak Cut Ha di sana dengan pelan meski busa mewah di ranjangnya sedemikian empuk, lembut dan aman.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


...Kakak2 readers yang belum follow/ikuti akunku, pencet ikuti akunku yaa.....


...Ingin segala dukunganmu di setiap karya baruku.....


...Beloved kakak readers yang sudah rela dan begitu baik ikuti akunku, maski author kaleng2 ini terpaksa tidak follow back, mohon maaf,, terimakasih besar2 dan banyak2....


...Love You So Much !!!!...