The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
52. Seperti Cut Hanah



Khaisan sedang menautkan dua alis tebal hitamnya pelan setelah memandang Cut Ha dengan lekat. Nampak terkejut akan ucapan Cut Ha yang menginginkan tempat Khaisan untuk menyelenggarakan acara pertunangannya.


"Di tempatku?" tanya Khaisan nampak masih berkerut dahi dan alis. Merasa kurang begitu paham.


"Apa rumah inapmu di Home Stay Te Ka tidak menyediakan aula yang bisa di sewa sekaligus memfasilitasi sebuah acara?" tanya Cut Ha menjelaskan. Seketika Khaisan mengerti dengan pasti apa yang diinginkannya.


"Tentu ada, Cut. Bahkan antriannya pun bisa hingga dua bulan ke depan. Apa kamu nenar-benar ingin membuat acara tunangmu di sana? Jika iya, aku bisa mengaturkan waktu kapan pun yang kamu pilih, Cut," ucap Khaisan dengan tenang. Seolah menerima acara besar itu bukan masalah sama sekali baginya.


"Benarkah, pengawal Kha? Kamu bisa menyelakan jadwalku dalam hari-hari ini di rumah inapmu?" tanya Cut Ha mencari kepastian. Matanya kembali berbinar indah pada Khaisan. Rasanya kian susah untuk menjaga jarak dengan Cut Ha bagi sang pengawal.


"Benar, Cut. Akan kuatur khusus untuk acaramu. Anggap saja hadiah dariku untukmu," jawab Khaisan meyakinkan. Ingin mem berikan yang terbaik untuk Cut Ha. Benak Khaisan kembali timbul rasa gemas dalam diam pada wanita yang sering berubah manja di sampingnya.


Kepalanya berputar cepat pada simak percakapan Cut Ha dengan Andres di toko perhiasan. Bisa jadi waktu yang dikehendaki Cut Ha sesuai arahan sang calon suami, yaitu lusa malam.


"Apa kamu berminat membuat acaramu sedemikian hiruk pikuk ?" tanya Khaisan pada Cut Ha.


"Tidak, aku tidak suka terlalu meriah dan bising sebenarnya. Tapi juga terserah Andres, dia ingin mengundang siapa saja. Apa Home Stay Te Ka siap untuk menyiapkan segala hal dengan waktu mendadak, pengawal Kha?" Cut Ha kembali merasa ragu.


"Jangan khawati, Cut. Semua akan berjalan sangat lancar. Percayalah, home stayku sangatlah profesional dan tidak mungkin akan mempermalukanmu," sahut Khaisan kembali menenangkan. Niat hati ingin menjaga jarak, tetapi semakin tidak tenang melihat Cut Ha nampak runsing.


"Apa tidak masalah jika Andres kubilangi acaranya di rumah inapmu?" Cut Ha menoleh dengan sorot mata yang gusar.


"Sebaiknya tidak usah, Cut Aku lebih suka tidak ada yang tahu bahwa tempat pelaksanaan adalah milik bodyguard mu. Bisa jadi mereka akan menyepelekan di muka. Kamu pahamkah, Cut?" Khaisan menoleh sebentar pada Cut Ha.


"Iya, aku paham. Andres pun nampak tidak suka denganmu, pengawal Kha," keluh Cut Ha dengan lirih. Khaisan mendengarnya, tetapi kali ini tidak ingin menanggapi. Merasa jika hal semacam itu sangatlah tidak ada pentingnya.


"Aku bukan tidak mau menanggung jawab jika saja ada apa-apa selama acara berlangsung, Cut. Namun, biarlah mereka sendiri yang akan menimbang. Apakah home stayku layak atau tidak untuk mereka gunakan di kesempatan berikutnya. Bahkan beberapa instansi telah berlangganan di setiap acara kerja yang mereka adakan." Khaisan menjelaskan contoh kelayakan Home Stay Te Ka pada Cut Ha.


" Aku sangat percaya padamu, pengawal Kha. Tetapi, kelebihan apa yang Home Stay Te Ka berikan hingga pelangganmu bisa sesetia itu?" tanya Cut Ha ingin tahu.


"Rabat menginap, Cut. Biasanya acara akan dihadiri undangan dari jauh. Mereka kebanyakan akan lelah. Kami beri tawaran menginap, juga pelayanan lengkap untuk seluruh orang yang terlibat pada acara. Kami pasangkan rabat lima puluh persen dari total tarip inap, Cut," jelas Khaisan dengan fasih. Cut Ha menyimak dengan raut yang takjub.


"Pengawal Kha, kenapa kamu tidak mencoba jadi sombong sedikit saja. Jika kamu bisa sombong dan maju sendiri, pasti Home Stay Te Ka dalam sekelip mata akan berubah menjadi bintang enam. Bukan hintang lima saja, pengawal Kha," ucapnya memuji sambil lebar tersenyum.


Cut Ha kembali memandang takjub Khaisan dengan binar matanya yang jernih. Tidak meragu jika lelaki tampan berkharisma itu memanglah pemilik asli rumah inap Home Stay Te Ka.


"Aku juga sudah memikirkan hal itu, Cut. Jika waktunya tiba, aku pun akan maju dengan tangan dan kakiku sendiri. Saat ini aku masih ingin fokus dengan menebus dosa-dosaku di masa lalu. Aku akan mencari pengganti Felix dalam waktu dekat ini," Khaisan berbicara dengan wajah yang kembali lurus di jalan raya. Cut Ha tiba-tiba merasa sangat iba pada Khaisan.


"Usiamu sama denganku, pengawal Kha. Usiamu tidak muda lagi. Kenapa kamu tidak fokus untuk menikah dulu. Apa kamu tidak takut sendirian di masa tua? Tenagamu tidak selalu terus kuat, ada masanya kamu jadi lemah dan membutuhkan orang lain. Hanya anak dan istri yang akan kamu inginkan di masa tua, bukan lagi harta. Apalagi bersedekah dengan tenaga," pungkas Cut Ha dengan raut sedih memandang Khaisan.


"Cut, apa kamu menyukai Andres?" tanya Khaisan tiba-tiba. Cut Ha dengan cepat menggeleng.


"Tidak, aku belum menyukainya. Tetapi kuharap aku akan mencintanya suatu saat. Ketika kami sudah memiliki anak misalnya. Kuharap rasa suka akan tumbuh," ucap Cut Ha dengan pikuran rasionalnya.


"Itulah masalahku, Cut. Tidak mampu seperti kalian. Aku bukanlah manusia pemberani sepertimu dan Andres. Yang bisa menundukkan diriku sendiri agar menerima seseorang dengan cepat ke dalam pernikahan," ucap Khaisan meluahkan problem perasaan hidupnya.


"Kamu tidak pernah bisa move on dari Velingga,," gumam Cut Ha amat lirih.


Khaisan menoleh sebab mendengar gumaman Cut Ha yang lirih.


"Kurasa bukan sebab itu. Wanita yang sering kamu sebut barusan adalah istri orang, Cut. Aku sudah tidak ingin mengingatnya. Kumohon jangan hubungkan lagi aku dengan nama itu," sahut Khaisan dengan tegas.


"Eh, iya. Sorry, pengawal Kha." Cut Ha berkata dengan nada canggung. Merasa apa yang dikata Khaisan memang benar. Khaisan terlihat tidak suka. Mungkin Khaisan memang sudah tidak ingin membahas Velingga, atau bisa juga akan terasa sakit jika mendengar nama orang yang pernah jadi spesial baginya itu.


Mereka berdua saling diam. Suasana berubah jadi canggung. Keadaan seperti inilah yang sangat tidak disuka Cut Ha. Belakangan ini, hatinya akan bingung dan resah jika Khaisan nampak dingin dan marah. Cut Ha akan merasa kebingungan sendiri dan berusaha mencari perhatian.


"Apa setelah itu, emmh,, maksudku sekarang ini tidak ada pandangan wanita lain di kepalamu?" Cut Ha masih mencoba mengusik isi hati Khaisan. Rasanya demikian kasihan dan penasaran. Meski bisa saja Khaisan akan semakin tidak suka diusiknya.


"Tentu saja ada, aku adalah pria normal yang sebenarnya tidak ingin kesepian, Cut," sahut Khaisan dengan cepat. Sedang tangannya sambil membelokkan kemudi memasuki halaman rumah dan kemudian ke garasi. Mereka telah sampai di rumah Cut Ha di belakang toko besar elektroniknya kembali.


"Jika katamu ada. Apa aku boleh tahu, seperti apa wanita yang sedang ada dalam pandangan kamu itu, pengawal Kha?" kejar Cut Ha kembali bertanya.


Khaisan yang hendak membuka pintu jadi urung. Meluruskan punggung di sandaran kembali. Lalu menoleh dan memandang Cut Ha dengan tatapan tajam. Cut Ha menahan nafas sebab tatapan Khaisan yang dalam padanya. Gentar sekali rasanya.


"Sepertimu, Cut Hanah." Jawaban Khaisan yang tegas dengan pandangan tajamnya, serasa memalu godam Cut Ha di kursinya.


Nafas yang tadi tertahan, telah tersangkut dan mengganjal di dadanya. Cut Ha sangat terkejut dan tidak mampu berkata-kata. Ucapan Khaisan serasa longsoran gunung salju yang menhantam dada dan kepala. Cut Ha seperti mendadak beku jiwa dan raga.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ