The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
70. Pesan Terakhir



Keluarga kecil bahagia itu memasuki aula dengan tidak lagi saling bergandengan. Velingga bersama anak balita lelakinya, membuntuti Errushqi yang masih menggendong gadis kecilnya yang cantik.


Mereka memperlambat langkah sebab sampai di antrian yang panjang. Undangan datang cukup banyak dalam waktu bersamaan. Mereka datang saat pesta pernikahan. Kini bergiliran untuk menghampiri pasangan pengantin di pelaminan, menyalami dan memberikan ucapan selamat.


Sedang saat acara akad nikah, hanya saudara dekat sajalah yang diharap oleh Cut Ha agar datang. Yang spesial juga undangan untuk Errushqi dan Velingga. Namun, ternyata Errushqi mendadak berhalangan pulang awal. Terpaksa tidak menemani Cut Ha saat pengucapan ijab qabul. Kini, Cut Ha dan Andres sudah sah menjadi pasangan suami istri yang halal.


Cut Ha sudah melihat Velingga ada di antara baris antrian para undangan. Rasanya sangat senang meski sang sahabat pun tidak berdaya untuknya.


Andres terlihat cerah dan gembira, jauh beda dengan dirinya yang susah payah menahan tangis, serta menghempas gumpal sedih di dadanya. Namun, merasa sangat bersyukur masih mampu menerbitkan rekah senyuman di bibir.


Cut Ha tidak ingin digunjing andai wajahnya nampak muram dan mendung. Bukan hanya namanya yang akan dibicarakan orang di meja mereka, namun pasti juga menyeret nama orang tua dari kedua keluarga. Panggung dan pelaminan megah tempat dirinya dan Andres bersanding, ibarat sarana luas untuk bermain sandiwara.


"Cut," tegur suara lembut yang sangat dihapal di luar kepala. Tak disadari jika Velingga dan keluarga sudah berdiri menghampar di depannya.


"Ling,," sambut Cut Ha tanpa sanggup berkata-kata. Errushqi dan Erlika sudah berdiri tepat di depannya. Cut Ha terlihat luar biasa cantik dan jelita. Sayang sekali, menikahnya bukan dengan pria yang dicinta.


"Semangat, yaa.. Semoga kamu mendapat bahagia. Sabar, semoga acaramu ini berjalan lancar dan sukses, Cut," ucap Errushqi yang lebih dulu berjalan di depan Velingga.


"Terimakasih, Mas Rush," sambut Cut Ha dengan raut sedih yang tak ingin ditutupinya.


"Sst jangan sedih. Senyum lagi, Cut. Nanti kalo dah senggang, kita ngobrol lagi. Sorry, pas ijabmu kami nggak bisa datang, Mas Rush ada pelawat," bisik Velingga saat berpelukan cepat dengan Cut Ha.


"Iya, Ling," sahut Cut Ha tanpa semangat. Penampakan wajah dewinya sedikit terganggu.


Cut Ha sempat menowel pipi-pipi bakpau milik Erick dan Erlika. Lalu kembali memasang senyum lagi setelah Velingga dan Errushqi berlalu bersama dua kembar.


Cut Ha terus menyalami tamu yang seperti tidak pernah ada hentinya. Bahkan sang mama yang juga berdiri berjajar dengan ayah serta dua besan, tidak terlihat lagi di tempatnya. Yakin jika beliau suduh undur diri dan istirahat dalam kamar. Hanya ada ayah serta kedua mertua yang masih menemani menyambut tamu di panggung.


Mungkin sudah hampir pukul sembilan malam. Tamu yang datang sudah tidak ada, Andres dan Cut Ha sedang duduk santai di pelaminan.


"Kamu lapar dan haus, Cut?" tanya Andres dengan lembut di sampingnya.


"Sebenarnya iya," jawad Cut Ha yang memang terasa sangat haus, juga sedikit lapar. Seharian sama sekali tidak ada selera makan.


"Tunggu, akan kubilang pada mereka untuk membawakanmu makanan. Aku akan ke toilet sebentar, Cut," pamit Andres yang sudah berdiri dan bersiap turun dari pelaminan. Lelaki tampan dalam balutan baju pengantin itu terlihat gelisah sejak tadi. Kini sedang berjalan dengan buru-buru pergi dari kursi pelaminan.


Velingga datang menghampiri lagi di pelaminan. Tepat saat petugas konsumsi selesai meletak hidangan dan minuman untuk Cut Ha.


"Ling, duduklah sini, aku ingin bicara," ucap Cut Ha sambil menyambar tangan Velingga.


"Iya, aku datang untuk mendengar keluhanmu. Bicara saja apapun masalah kamu yang sekarang, Cut," sambut Velingga. Telah duduk di bangku kecil tepat di samping kursi pelaminan Cut Ha yang indah.


"Apa itu, Cut?" Velingga tampak menunggu penasaran. Disimaknya wajah jelita yang muram itu di depannya.


"Ling, sebenarnya aku sudah tidak peduli. Hatiku sakit, aku akan melupakannya. Aku juga tidak ingin mengingatnya. Tapi ini untuk terakhir kali aku memikirkannya," ucap Cut Ha dengan sangat lirih. Tidak ingin dua mertua serta sang ayah mendengar bicaranya dengan Velingga.


"Apa yang kamu maksud dia itu adalah Khaisan, Cut?" tanya Velingga setengah berdesis.


"Benar, Cut. Aku ingin kamu menjumpainya. Sampaikan pintaku, aku ingin dia tidak lagi menjadi bodyguard. Aku sedih, Ling," ucap Cut Ha terlihat hampir menangis.


"Kamu jangan sampai menangis, Cut. Aku akan dikira membuat kamu sedih dan menangis. Jangan nangis kamu,," ucap Velingga mengingatkan.


"Tidak, aku tidak akan menangis," jawab Cut Ha sambil berusaha tersenyum.


"Ya sudah, akan kuminta mas Rushqi menjumpainya. Sekarang kamu makan, nanti kamu masuk angin." Velingga menunjuk makanan yang tadi diantar khusus untuk Cut Ha.


"Terimakasih ya, Ling," ucap Cut Ha sambil mengambil minumnya.


"Iya, Cut. Apa ada pesan lain. Aku akan pergi ke mejaku sekarang. Akan kubilangi mas Rushqi." Velingga berdiri. Tapi Cut Ha kembali menarik tangannya. Velingga pun sedikit membungkuk.


"Ada satu lagi, Ling. Aku berharap dia cepat saja menikah, sama sepertiku," ucap Cut Ha dengan lirih.


"Iya, Cut. Ada lagi?" tanya Velingga dengan nada sangat sedih. Merasa iba juga pada mereka berdua.


"Tidak ada, Ling. Sudah, itu saja. Maaf merepotkanmu ya, Ling," ucap Cut Ha dengan sendu.


"Aku sama sekali tidak merasa repot, Cut. Sudah senyumlah lagi, itu suami kamu datang. Aku akan pergi," pamit Velingga.


Velingga berbalik cepat meninggalkan Cut Ha di kursi pelaminan. Rasanya sangat sedih dan haru pada sahabatnya. Tidak bisa terluah dengan kata lagi rasa trenyuhnya. Jelas sekali jika mereka berdua tidak akan bahagia dalam waktu yang lama.


Cut Ha tampak tersiksa dengan pernikahannya meski pada mulanya adalah pilahan sendiri. Sebagai sahabat rapat, Velingga sangat iba dan merasa tidak tega.


Sedang Khaisan, meski pernah sangat menyakitkan bagi Velingga. Setidaknya Velingga mengakui jika Khaisan pernah jadi lelaki terbaik baginya.


Merasa sangat miris dengan nasib tak baik yang ternyata sempat menimpa lelaki itu. Andai saja Cut Ha dan Khaisan berjodoh, rasanya itu sangat impas dan bagus sekali. Sayang sekali, garis jodoh mereka berkata lain...


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


Vote, pleaseeeee.....😘