
Cut Ha memandang Felix dengan perasaan hampa dan isi kepala yang terlalu berserabut. Felix menatap tajam wajahnya sambil melempar tabung bius mini itu ke atas meja di samping tempat tidur.
"Kembalikan!" Cut Ha mencoba menjerit dengan lemah.
"Diam!! Atau kamu ingin kuspray?!!" bentak Felix dengan kasar. Didorongnya badan Cut Ha ke atas tempat tidur dengan kuat. Cut Ha hingga terjengkang dan ambruk terlentang di ranjang.
Felix kembali mendekati, mengarahkan belati itu lagi ke leher Cut Ha. Lalu diturunkan pelan ke area dadanya.
Cut Ha serasa tak sanggup nafas saat Felix kembali mengoyak atasan blouse hingga rusak tanpa bentuk dengan belati miliknya. Cut Ha merasa sangat ngeri hingga seperti kaku mematung tanpa bisa bergerak. Begitu takut jika belati tajam itu akan mengenai kulit tubuhnya. Itu pasti terasa amat pedih rasanya.
Felix tidak hanya membuat tubuh atas Cut Ha jadi terlihat jelas segalanya. Namun, belati makan tuan itu berlanjut mengoyak-ngoyak celana jeans Cut Ha dengan cepat. Felix melakukannya dengan aman dan mudah.
Belati yang Cut Ha beli, memang dipilihnya amat tajam dan mahal. Namun, sayang sekali Cut Ha menggunakannya dengan tidak maksimal. Sebab takut dan cemas, tenaga yang dikerahkan saat menikam tidaklah kuat dan lemah. Sehingga hanya menancap dangkal di punggung Felix yang keras.
Celana jeans dan hot pants itu sudah tak terbentuk dengan tidak menempel sempurna di kakinya. Jika Cut Ha berdiri. Celana itu akan jatuh berhamburan dan tanggal sendirinya. Cut Ha benar-benar tidak berani bergerak. Merasa segala aib sedang menunggu menderanya.
"Ja,,jangan!" pekik Cut Ha, tetapi sangat lemah.
Felix telah menyambar dan sedang membuka botol spray. Mengarahkan lubang spray tepat di wajah Cut Ha.
"Cepatlah jawab. Kamu ingin melayaniku dengan menggunakan spray atau tanpa spray? Katakan, Keke!!" bentak Felix menakutkan.
"Ja,, jangan," ucap Cut Ha nampak gemetar sangat takut.
"Pilihan yang bagus sayang.. Kamu harus terus sadar dan memandangku. Kamu harus melihat dan menikmati cumbuanku." Felix berbisik lembut tapi dingin di belakang telinga Cut Ha sangat lirih. Botol spray dilempar Felix lagi ke meja.
Cut Ha tidak lagi ingat pada rasa takutnya. Merasa dirinyanya mulai berputar, tatap matanya pada Felix menjadi samar-samar dan memudar.
Cut Ha berusaha kembali fokus. Merasa harus bertahan dalam rebah dan sadarnya. Tidak ingin Felix melakukan hal tanpa batas pada tubuhnya, sedang Cut Ha tidak tahu sebejat apa Felix menjarah harga dirinya. Apapun yang terjadi, Cut Ha ingin tetap sadar diri.
Brakk!!!
Bunyi keras yang mengejutkan adalah pintu yang dibuka dan dibanting menutup lagi dengan keras. Cut Ha melihat seperti ada Khaisan sedang di pintu dan berjalan tergesa mendekat. Meski pandang matanya samar, Cut Ha yakin jika sosok itu adalah Khaisan yang bahkan sudah putus asa tidak diharap datangnya.
"Felix??!!"
Bentakan Khaisan seperti akan memecah dinding kamar. Bersama tarikan tangannya di pundak Felix dan dilayangkan satu kali tinju ke dada Felix yang telanjang. Felix terjengkang ke belakang di ranjang. Kepalanya hampir mengenai perut Cut Ha yang terbuka.
Khaisan tidak membiarkan Felix merasakan rebahnya. Segera ditariknya dengan kuat kedua kaki Felix yang menjuntai. Felix terbanting keras di lantai.
"Felix!! Kenapa kau diam, hah?! Lawan aku!!" tanya Khaisan berteriak. "Pengkhianat!" sambungnya keras dengan tatapan menyala pada Felix.
"Jika kau lelaki, lawan aku!! Bangunlah!!" Khaisan kembali berkata dengan amarah.
Khaisan sedang bergeser mendekati Cut Ha yang sedang membentang selimut agak susah. Direbutnya selimut yang masih terlipat itu dari Cut Ha. Sangat cepat selimut super lebar itu terbentang dan ditutupnya tubuh mulus semi polos itu rapat-rapat. Mata indah itu sedang menangis menatapnya dalam rebah.
Khaisan segera berpaling wajah, tidak ingin lagi memandang. Kembali didekatinya Felix dengan tatapan amarah.
"Katakan sesuatu sebelum polisi menjemput. Atau lawanlah aku sebelum polisi memborgol tanganmu!" hardik Khaisan dengan keras.
Felix masih belum bersuara. Hanya memandang Khaisan dengan bungkam dan datar. Kemudian mulutnya nampak bergerak dan akan berbicara.
"Aku tidak ingin melawanmu. Bukankah dengan kubawa Keke tanpa kau tahu, berarti aku sudah menentangmu? Aku sudah melawanmu," sahut Felix dengan datar.
"Apa sebenarnya tujuanmu?!" hardik Khaisan.
"Aku ingin memilikinya. Aku mencintainya sudah lama. Aku ingin dia mengandung anakku. Biarkan aku membawanya pergi, bos Kha," ucap Felix tegas sambil memandang Cut Ha di ranjang. Khaisan terlihat tegang dengan wajah mengeras. Berusaha tetap aman bertindak.
"Kamu sudah menyakiti istrimu, sekarang menyiksanya seperti itu, Felix. Aku tidak percaya lagi denganmu." Khaisan berkata dingin, juga memandang Cut Ha yang telah bergerak meringkuk di ranjang.
"Bukankah kamu bilang hidupmu telah berantakan sebab dia? Bukankah kamu juga bilang akan mengacaukan masa depannya? Aku sudah tahu, jika wanita yang kau maksud itu adalah dia, Bos Kha," tandas Felix dengan nada yang sinis. Khaisan nampak terkejut sejenak.
" Jangan jadikan itu sebagai alasan serakahmu, Felix. Aku sudah mengerti alasan utama kau lakukan ini. Sudah lama kau menyukainya? Kasihan sekali hatimu, tapi tidak dengan begini, Felix?!" ucap Khaisan dengan keras.
"Sebelum berbicara padaku, seharusnya kau ingat, kapan aku bicara itu. Bukankah itu sudah lima tahun yang lalu, saat kau rajin menjengukku di penjara, Felix? Terimakasih, kau baik sekali waktu itu. Tapi kali ini aku sangat kecewa denganmu," ucap Khaisan datar dengan memandang redup pada sang manager.
Kemudian berjalan menghampiri pintu kamar dan membukanya. Nampak tiga orang polisi dan seorang wanita sedang menangis.
"Silahkan!" ujar Khaisan kepada mereka di pintu. Lalu menepi dengan membuka pintu lebar-lebar. Kemudian masuk lagi dan menghampiri Felix lebih dekat.
"Aku akan berbicara lagi dengnmu nanti, Felix. Aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu kali ini," ucap Khaisan. Kembali mundur menjauhi Felix.
"Silahkan bawa dia, pak. Dialah yang menculik atasan saya," ujar Khaisan pada salah satu polisi yang paling dekat dengannya.
"Apakah ada pelecehan?" tanya polisi itu pada Khaisan yang kemudian mengangguk.
"Izinkan kami membawa barang bukti, pak Khaisan," ujar polisi dengan serius.
"Dias, tolong melepas celana dan baju yang dipakai Cut Ha!" Khaisan berbicara pada wanita yang tadi menangis. Sedang berdiri tegang termangu memandang Felix yang hanya bercelana boxer di depannya.
Wanita itu ternyata adalah Dias. Nampak terpukul dengan kejadian menyakitkan yang dilihat. Air matanya tidak berhenti keluar dan mengalir menganak sungai di kedua pipinya.
Khaisan mengerti bagaimana sakit perasaan wanita itu saat ini. Namun, Dias juga harus tahu dengan apapun yang dilakukan sang suami tercinta kepada Cut Ha, sahabatnya.
πΈπΈπππΈπΈ