The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
40. Berdua



Khaisan yang pergi ke kamarnya, telah kembali dengan smartphone canggih dan duduk kembali di meja makan. Bersiap menelusur segala akun Cut Ha di masa lalu yang terlupa email berikut huruf sandinya.


"Apa kamu sudah menulis nama-nama akunmu yang ingin kuhapuskan, Cut?" tanya Khaisan sambil menyalakan smartphone miliknya.


"Sudah," sahut Cut Ha. Mengulurkan ponselnya pada Khaisan. Cut Ha telah menulis beberapa nama akun media sosial beserta letaknya di aplikasi miliknya. Tanpa adanya email dan sandi.


"Sandinya lupa semua?" tanya Khaisan sambil mengambil ponsel Cut Ha.


"Iya, lupa semua. Emailnya pun tidak ingat," sahut Cut Ha mengeluh.


"Mungkin ini agak lama, Cut. Tidak ada email dan sandi, membuatku agak sulit menembusi." Khaisan berbicara sambil menunduk pada smartphone canggihnya.


"Maaf, pengawal Kha, aku membuatmu repot," ucap Cut Ha terdengar lirih.


"Tidak, ini juga tugasku." Khaisan memandang Cut Ha sekilas.


"Apakah bisa langsung menghapus akun? Jadi tidak perlu melihat isi foto di dalamnya," tanya Cut Ha terdengar ragu.


"Kenapa tidak perlu melihat foto-fotomu? Jika aku ingin melihat, bagaimana?" tanya Khaisan tersenyum. Iseng ingin menggoda Cut Ha agar nampak tersenyum atau pun berekspresi yang lain.


"Kumohon jangan, pengawal Kha. Aku sungguh malu!" seru Cut Ha. Khaisan merasa jika itu sebagian luahan ekspresinya.


"Mungkin orang lain bahkan sudah mencuri foto-fotomu. Tetapi aku hanya ingin melihat, kenapa tidak boleh, Cut?" pancing Khaisan.


"Mereka aku tidak tahu siapa saja yang melihatku. Sedang kamu,, jangan dilihat!" seru Cut Ha dengan ekspresi cemasnya. Pucat di wajahnya telah memudar. Kembali ke wajah cerahnya. Namun, masih miskin ekspresi itulah yang terasa mengganggu pandangan.


"Felix bahkan sudah melihat foto-fotomu, kan? Satu akun saja kulihat. Akun apa ini,, Cut is cute love? Ini juga akunmu? Kapan ini?" Khaisan nampak menajamkan mata sambil menahan senyum di ponselnya.


Cut Ha merasa resah luar biasa. Segera berdiri dan keluar dari kursi. Berjalan memutar setengah berlari mendekati Khaisan. Menyeret kursi di sampingnya dan kini duduk mengintip smartphone yang dipegang Khaisan. Tapi belum terlihat, ponsel sudah ditarik Khaisan sangat dekat ke wajahnya. Cut Ha tidak bisa mengintip apa yang sedang dilihat Khaisan.


"Bahkan ini kamu masih kelas tiga SMA, Cut. Ini kamu berapa tahun? Kamu masih delapan belas tahun, tapi kamu nampak gemuk sekali,,,," gumam Khaisan tanpa memundurkan jarak ponsel dan wajahnya.


"Itu aku bukan gemuk, pengawal Kha! Teman temanku bilang, aku sangat seksi, bukan gemuk!" sela Cut Ha berseru. Meralat sebutan gemuk oleh Khaisan padanya saat di bangku SMU.


"Seksi? Benarkah ini seksi, bukan gemuk??" Khaisan menjauhkan ponsel dari wajah dan bergeser pandangan pada Cut Ha. Tanpa segan dipandangnya Cut Ha dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan dahi berkerut. Seolah Khaisan sedang menilai penampilannya.


"Jangan seperti itu padaku, pengawal Kha. Aku bisa mengadukan kamu pada kepala agensimu!" seru Cut Ha dengan berubah posisi menjadi duduk memunggungi Khaisan.


"Baiklah tidak akan kulihat lagi." Khaisan kembali fokus pada ponsel dengan masih tersenyum. Jari-jarinya bergerak cepat untuk menghapus akun Cut Ha yang sudah berhasil dibobolnya.


"Yang ini akun kapan lagi? Saat kamu kuliah? Apa di sini kamu lebih gemuk, Cut?" Khaisan nampak fokus memandang layar ponsel.


"Khaisan! Sudah jangan buka lagi!" Cut Ha rupanya sangat malu pada Khaisan. Kini bahkan sudah berdiri dan mendekati Khaisan.


"Sudah, jangan dilihat lagi, pengawal Kha! Aku sangat malu!" seru Cut Ha melarang. Didekatinya Khaisan dan berusaha merebut ponsel untuk dilihatnya.


"Kamu gemuk sekali, Cut. Rambutmu juga sangat gondrong. Lalu kapan kamu mulai berkerudung dulu itu?" Khaisan terus saja berusaha menggoda.


"Pengawal Kha!!" seru Cut Ha setengah berbisik. Ingat pada Mariah yang tidur di sofa.


Cut Ha yang merasa sangat kesal dan malu, kembali bergerak maju dan berusaha mengambil ponsel dari Khaisan. Ternyata Khaisan tidak mundur menjauh, tetapi diam di tempat dan hanya mengangkat ponselnya tinggi ke atas.


Cut Ha yang menyangka jika Khaisan akan kembali mundur menjauh, hilang keseimbangan dan tersandung kakinya. Dicengkeramnya kemeja Khaisan sebagai pegangan. Sebab Cut Ha merasa dirinya akan jatuh terjengkang.


Namun, Khaisan telah menahan punggung Cut Ha dengan kedua tangan kekarnya sangat cepat. Menyeimbangkan Cut Ha dengan mendorong ke arah dadanya. Lebih ke fakta, Khaisan sudah memeluk erat Cut Ha di dada lebarnya.


Mereka berdua sama-sama nampak tegang dan terkejut. Sama-sama diam tidak bergerak. Wajah dan tatapan Cut Ha terpaku di dada bidang Khaisan. Kini bukan hanya muncul ekspresi, tetapi paras cantiknya sudah memerah serba salah. Yang Khaisan sendiri juga sedang membatu, nampak canggung dan tegang.


"Cut," ucap Khaisan sepatah. Cut Ha masih diam dipeluknya.


"Apa ada yang sakit? Kamu tidak apa-apa?" tanya Khaisan mulai was-was. Mungkin saja Cut Ha sedang pingsan berdiri.


"Cepatlah hapus saja seluruh akunku tanpa membuka apapun isinya. Tapi jangan lagi menilaiku gemuk. Aku sudah menjaga diriku agar jangan sampai gemuk. Aku tidak pernah gemuk, pengawal Kha," ucap Cut Ha.


Cut Ha perlahan menarik diri untuk merenggang dan menjauhi Khaisan. Tapi tangan Khaisan menahan untuk tidak melepas punggung Cut Ha.


"Iya. Sorry, Cut. Kamu memang bukan gemuk. Tapi benar katamu tadi, kamu hanya seksi," ucap Khaisan dengan lirih di atas kepalanya.


Meski hal itu memang sudah ditegaskannya, tetapi mendengar pengakuan Khaisan, Cut Ha merasa terkejut. Rasa kesal yang sempat mengganjal, berubah jadi malu dan canggung.


Khaisan melepas kunci tangannya dari punggung Cut Ha. Wanita itu terasa menolaknya dan ingin menjauh. Wajah itu kembali nampak jelita dengan rona merah dan pias di wajahnya. Rasanya sangat lega dengan ekspresi Cut Ha yang baginya memuaskan. Khaisan menahan perasaan gemasnya jauh di lubuk hati yang terdalam.


"Hapuslah akunku secepatnya, jangan melihat lagi isi akunku." Cut Ha berbicara dengan memandang canggung pada Khaisan.


"Iya, akan segera kukerjakan. Kamu pergi saja ke kamarmu, Cut," sahut Khaisan. Juga berubah canggung tiba-tiba. Merasa kaku dan susah untuk kembali bersikap santai di depan Cut Ha.


"Aku pergi ke kamar. Tapi berjanjilah tidak akan melihat apapun isinya. Itu adalah aibku. Kamu bersumpah, pengawal Kha?" tanya Cut Ha.


" Iya, Cut. Aku janji, demi Allah sumpahku," sahut Khaisan sungguh-sungguh. Ingin Cut Ha merasa tenang saat berada di kamarnya. "Terimakasih, pengawal Kha," ucap Cut Ha. Lalu berjalan pergi menuju kamarnya.


Wanita itu berjalan cepat meninggalkan Khaisan yang masih terus berdiri tegak di meja makan.


Khaisan menghela nafas panjangnya ke sekian kali. Lalu berjalan cepat menuju meja makan. Dituang air putih ke dalam gelas dan diteguknya hingga habis seketika. Rasanya begitu segar dan lega luar biasa.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ