
Happy to watch my beloved reders๐คฃ๐
๐ธ๐ธ๐๐๐ธ๐ธ
Khaisan masih dalam posisi duduk di mejanya meski Cut Ha sudah berdiri dari kursi dengan Andres. Segera dihabiskan kopi hitam yang baru saja diantar oleh pelayan untuknya.
Memperhatikan Cut Ha, membuat Khaisan lupa untuk membuat satu pesanan apapun jika tidak dihampiri seorang pelayan. Hanya segelas kopi hitamlah yang dirasa masih patut dipesannya.
Dua orang pelayan begitu sigap menghampiri kala para pengunjung menunjuk gelagat menyudahi acara makannya. Seorang pergi ke meja Andres dan seorang lagi pergi ke meja Khaisan.
Segelas kopi hitam yang rasanya cukup manis, legit dengan samar pahit, memang nikmat luar biasa. Khaisan tidak merasa rugi harus mengganti dengan empat lembar rupiah merah kepada pelayan lelaki yang tersenyum sangat hangat untuknya.
"Terimakasih, Tuan. Kami harap Anda sudi datang lagi lain kali," ucap pelayan itu sangat sopan dan segan. Bersama dengan bungkuk punggunnya pada Khaisan. Pelayan tidak segera pergi. Hanya menepi menjauh dengan terus menunduk di depan Khaisan.
Khaisan melihat jika pelayan satu lagi juga baru saja bersikap sama kepada Andres dan Cut Ha. Meski rumah makan ini tidak terlalu ramai, namun high class dan akan mendapat kompensasi dengan cepat hanya dengan kedatangan beberapa pengunjung saja. Selebihnya adalah keuntungan yang melimpah.
Cut Ha telah melewati Khaisan bersama Andres tanpa meliriknya. Menyisakan harum wangi yang dihafalnya adalah parfum Cut Ha. Khaisan bergegas menyusul membuntuti dengan membuang pandangan ke samping. Namun, sempat melihat saat Cut Ha menghindar dari tangan Andres yang berusaha menggenggam tangannya.
Deret locker barang itu sedang lengang. Tidak ada penjaga yang tadi di sana. Khaisan tidak melihat seorang pun pengganti menjaga. Sedang hujan begitu deras dengan kilat yang menyambar. Jauh lebih lebat dari saat kedatangan mereka di restoran.
"Apa kamu membawa payung, Cut?" tanya Andres pada Cut Ha saat mereka berhenti di locker. Yang ditanya pun mengangguk.
"Apa bang Andres tidak membawa?" tanya Cut Ha perhatian.
"Tidak. Aku lupa membawa. Lagipula hujan hanyalah rintik-rintik saat aku datang. Tidak sederas ini," keluh Andres sambil memandang hujan di luar.
"Aku pun tidak berpikir membawa payung. Pengawalku yang ternyata menyediakan payung untukku," jelas Cut Ha pada Andres.
Cut Ha melirik Khaisan yang berdiri agak jauh, di dekat pagar locker. Lelaki itu berdiri tegak menghadapnya dengan pandangan lurus, namun tidak menatapnya. Hanya melewati Cut Ha dengan tatapan jauh kedua matanya.
"Apa setelah menikah, dia akan tetap bekerja padamu?" tanya Andres pada Cut Ha. Sempat melirik sejenak pada Khaisan.
"Tidak, aku rasa tidak perlu lagi membawa pengawal. Orang tuakulah yang menginginkan aku memiliki penjaga. Sebenarnya aku tidak ingin," terang Cut Ha. Andres nampak mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya.
"Suiiiiiiiiiรฌiitt!!!!!" Cut Ha dan Andres saling pandang terkejut.
Suara suitan panjang dan melengking terdengar, memantul di locker dan ke seluruh penjuru rumah makan. Mengalahkan bunyi hujan deras yang turun di halaman.
Ternyata adalah Khaisan yang merasa tidak sabar menunggu dan tidak ingin lagi terjebak di ruang loker sempit itu bertiga. Rasanya sangatlah membosankan sekali. Meski keadaan begini terlalu sering dialami saat bertugas, namun, kali ini Khaisan merasa tidak tahan untuk berdiri lebih lama lagi ditempatnya.
Khaisan mengulurkan satu lembar sticker dan lembar rupiah sebagai uang tip. Penjaga lelaki itu menerimanya dengan raut wajah yang segan. Merasa lalai tapi lelaki yang bersuit itu ternyata cukup baik. Meski wajah lelaki tampan berbadan besar itu sedang nampak garang, masih juga menebar sedekahnya.
"Terimakasih, Tuan. Semoga hidup anda senantiasa bahagia dan gembira," ucap penjaga locker yang kemudian mengambil kunci dari laci. Khaisan hanya diam, mungkin sebenarnya mengaminkan juga dalam hati.
Dua payung sama ukuran tetapi beda warna telah diterima oleh Khaisan. Yang kemudian dibawa mendekat dan diserahkannya satu payung pada Cut Ha.
"Mari pulang sekarang, nona Cut Ha. Hujan akan lama dan terus seperti ini hingga malam."
Khaisan mengulur payung sambil berbicara. Sempat melirik pada Andres, tapi dengan tatapan datar tanpa sapa apapun pada Andres.
"Tapi, pengawal Kha. Bagaimana dengan bang Andres? Hujan lebat sekali, bang Andres tidak bawa payung," ucap Cut Ha dengan nada yang bimbang sambil menerima payungnya.
"Kamu kuantar ke mobilmu dengan payungmu, Cut. Lalu payungmu kubawa," ujar Andres dengan rasa bijaknya.
Cut Ha tidak mengangguk. Namun, menoleh Khaisan dan memandang. Bermaksud meminta pendapat dengan tatapan matanya yang indah.
Khaisan mengerti dan merasa suka bahwa Cut Ha masih menghargainya. Dipandangnya lelaki di samping Cut Ha yang mungkin sudah sah sebagai calon suami wanita itu.
"Saudara Andres, anda bisa membawa payung ini. Untuk sekarang, Cut Ha adalah tanggung jawabku. Silahkan," ucap Khaisan dengan tenang sambil mengulur payung dari tangannya. Andres menerima dengan wajah yang masam. Namun tidak terlontar bantahan sekecap pun dari mulutnya.
"Bang Andres, kamu duluan saja tidak mengapa. Aku ingin pergi dulu ke toilet," ucap Cut Ha pada sang calon suami.
"Tidak ingin kutunggu, Cut?" tanya Andres sambil mengetukkan ujung payungnya di lantai. Cut Ha menggeleng.
"Duluan saja. Aku tidak suka saat ke toilet ada seseorang yang menungguku," ucap Cut Ha tersenyum.
"Apakah bodyguard mu tidak akan menunggu?" tanya Andres melirik pada Khaisan. Cut Ha nampak bingung sesaat dengan pertanyaan Andres yang demikian.
"Oh,, dia terkecuali. Dia hanya bertugas dan aku telah membayarnya. Jadi tidak merasa segan. Apa aku juga harus membayarmu??" tanya Cut Ha sambil tersenyum lebar pada Andres.
"Oke, aku mengerti. Kurasa aku memang harus segera pergi darimu. Segera saja ke toilet. Aku duluan, Cut. Assalamu'alaikum!" pamit Andres yang kemudian membentang lebar payungnya. Lelaki itu berlalu dengan cepat demi menghindari hujan yang berpeluang menerobos dirinya.
"Aku akan ke toilet," pamit Cut Ha sambil mengulur payung pada Khaisan kembali.
Khaisan menyambar payung dan mengikuti Cut Ha menuju toilet. Namun, hanya menunggu saja di luar area tanpa diminta. Tidak ingin wanita itu merasa tidak nyaman dan kemudian kembali menolaknya.
๐ธ๐ธ๐๐๐ธ๐ธ