
Televisi berlayar jernih dengan bunyi stereo maksimal itu seperti patung bergerak tak bersuara. Pandangan Cut Ha tembus melewati televisi hingga tembok kondominium. Menerawang jauh bersama lamun pikiran yang terbang melayang tak berujung.
Bukan pertemuan bersama Andres sebentar lagi yang dia pikirkan. Namun, pertemuan Khaisan bersama orang tua Elvira yang sedang kritis itulah yang dia lamunkan. Bayangan Khaisan mendadak nikah dan mengucap ijab kabul untuk Elvira, ada rasa tak rela yang tiba-tiba Cut Ha rasakan.
Bukan tidak mungkin, tapi Elvira nampak anggun dan cantik. Sepertinya tidak akan ada lelaki bodoh yang menolak dijodohkan dengannya. Mungkin juga termasuk Khaisan.
Sepatutnya Cut Ha ikut merasa senang jika Khaisan mendapatkan pendamping cantik yang menyenangkan. Sebab lelaki itu pernah dibuatnya trauma dalam, walau pun secara tidak langsung. Tetapi nyatanya Cut Ha merasa resah yang sangat.
Meski tidak diungkap, Cut Ha merasa iba dan dihantui rasa sesal mendalam diam-diam pada Khaisan. Perasaan yang harusnya lega, justru serasa akan kehilangan bagi Cut Ha. Seperti tidak ingin jika Khaisan dimiliki wanita lain, termasuk juga Elvira. Cut Ha merasa jika dirinya mungkin adalah golongan wanita yang serakah.
Cut Ha telah kembali ke meja makan sepuluh menit lalu. Menghabiskan es jus anggur segar miliknya yang lupa tidak diminum hingga habis. Kini telah kosong dan licin isi dalam gelasnya.
Tiga puluh menit berlalu serasa seminggu. Rasanya begitu lama menanti Khaisan yang tidak kunjung kembali. Merasa waswas dan berdebar kala ingat jika Khaisan bersama Elvira. Yang bisa jadi sedang menentukan hari H sakral mereka bersama-sama orang tua.
Ruang makan luas beserta isi meja yang penuh, serasa gerah dan sesak. Cut Ha berdiri dan pergi ke luar di taman beranda. Kembali mendapat suguhan pandangan indah di kedua matanya yang bening di sana. Angin semilir sepoi berusaha menyapa kesuntukan hatinya.
Cut Ha hanya merendam kaki di pinggiran kolam renang. Keinginan merendam diri di dalam air terus aman terkendali meski rasanya bergejolak. Air dalam kolam serasa dingin di saat terik siang hari. Rasanya sangatlah asyik dan menyenangkan.
Namun, hanya berendam sendiri begitu, tentu cepat bosan sekali dirinya. Air kolam yang semula terasa dingin menyegarkan, kini sudah hambar tanpa rasa. Meski belum ada satu jam Khaisan pergi, terasa sudah seharian dan sangatlah membosankan.
Anggur rambat dengan buahnya yang bergelantungan dan berwarna hijau pupus cerah itu terasa menggoda tiba-tiba. Cut Ha sangat ingin memetik dan memakan langsung seperti yang dikata Khaisan padanya.
Namun tinggi sekali. Bahkan mommy Riana yang sepertinya lebih tinggi dari Cut Ha pun tidak sampai tangan menggapai, apalagi dirinya. Tapi jika terkendala seperti itu, justru penasaran dan seperti tertantang.
Tak sengaja dilihatnya sebuah tongkat besi pendek, yang seperti patahan jemuran. Cut Ha menggunakannya untuk mencoba memelintir, tetapi tidak berhasil. Mencoba juga menyodok dompol anggur agar rontok dan jatuh. Ternyata tetap saja susah sekali dan tidak segampang yang dibayangkan.
"Cut!"
Terkejut sekali Cut Ha. Begitu serius berusaha menggapai anggur, tiba-tiba terdengar suara memanggil dan tentu saja itu adalah Khaisan. Pengawal yang sangat diharap datangnya telah muncul di depannya.
" Pengawal Kha?! Sudah selesai?" sambut Cut Ha dengan berdiri memandang Khaisan. Wajahnya nampak gembira dan cerah berbinar.
"Selesai? Apanya?" tanya Khaisan tersenyum.
"Menemui orang tua calon istrimu," sahut Cut Ha dengan raut yang seketika nampak datar.
"Elvira? Hanya momiku yang menganggapnya calon mantu. Aku tentu saja harus memikirnya dulu. Tidak mudah saja langsung setuju dan menerima. Aku tidak tahu bagaimana pribadi Elvira. Aku tidak ingin sembarangan menikahi, Cut," Khaisan berbicara dengan tatapan dalamnya pada Cut Ha.
Khaisan yang terus memandangnya, kini sedikit tersenyum.
"Jika hanya tampilan luar yang kulihat, mungkin aku sudah menikah lama sekali. Bahkan jauh sebelum aku kenal Velingga. Ibuku itu giat sekali memberiku pandangan pada perempuan, sejak aku masih kuliah."
"Semua adalah perempuan cantik dengan banyak prestasi. Tapi perasaanku tidak tergerak untuk mengagumi dan tertarik, apalagi menyukai dan kemudian menikahi. Kamu paham, Cut Ha?" tanya Khaisan dengan serius.
"Tapi kamu pernah menyukai Velingga. Bagaimana kamu tertarik dengannya?" tanya Keke. Teringat akan sang sahabat yang pernah disuka setengah jiwa oleh Khaisan.
Wajah Khaisan nampak berubah sedikit tegang. Pasti tidak menyangka jika Cut Ha kembali mengungkitnya dengan Velingga, wanita yang memang pernah dicinta dan didamba.
"Apa kamu tertarik dengan ceritaku?" tanya Khaisan. Cut Ha pun mengangguk.
"Iya, aku ingin tahu. Ceritakan padaku, aku tertarik mendengar kisahmu dengan Velingga," sambut Cut Ha. Khaisan pun tersenyum dan kemudian mengangguk.
"Waktu itu, aku pegawai magang di instansi pajak pemerintah kota Blitar. Aku membuat kesalahan menghitung pajak milik ayahnya. Sebab ayahnya sibuk, Velingga yang mengurus. Tapi dia tidak memperpanjang masalah. Memafkanku begitu saja, asal uang kesalahan yang lebih itu dikembalikan," Khaisan tersenyum pada Cut Ha.
"Kalian sering berjumpa dan lalu jatuh cinta?" selidik Cut Ha dengan senyum meledek.
"Tapi ya tidak semudah itu, Cut. Waktu itu Velingga adalah gadis SMA yang disukai banyak lelaki ," ralat Khaisan menahan tawanya.
"Dan kamu menang di antara banyak pesaingmu?" tanya Cut Ha yang kini juga lebar tersenyum.
"Iya. Dan kemudian juga mengalami kekalahan dari suaminya sekarang," timpal Khaisan. Kali ini berpaling ke samping dan telah hilang senyumnya.
"Itu bukan salah Velingga. Salahmu sendiri, kamu masih mengharap Velingga?" tanya Cut Ha dengan senyum yang masam.
"Jika kamu bertanya begitu, lebih baik tidak kuceritakan." Khaisan berbicara dan pura-pura menunjuk wajah kesal pada Cut Ha. Ditolehkan lagi wajahnya ke samping menembus jauh kaca pagar di beranda.
"Maaf, pengawal Kha. Aku hanya bercanda. Rasanya aku suka menggodamu," Cut Ha tersenyum kecil, wajahnya nampak kikuk setelah berbicara sejujurnya.
Khaisan dengan cepat menoleh, memandang Cut Ha dengan raut yang seperti akan menerkam. Wanita cantik di depannya itu terlalu sering membuatnya menahan gemas dalam diam.
πΈπΈπππΈπΈ