
Cut Ha yang masih berdiri di pintu dengan tatapan bingung membuat Khaisan terheran. Wanitu itu nampak gelisah dan nampak bingung sedari tadi. Khaisan jadi menduga-duga dan merasa khawatir.
"Ada apa, Cut?" tanya Khaisan dengan berdiri di depan pintu. Cut Ha masih dengan posisi seperti tadi, berbalik dan memegangi gagang pintu.
"Kamu tidak perlu standby lagi, istirahatlah dengan tenang di kamarmu, pengawal Kha. Tetapi,," ucap Cut Ha yang berakhir menggantung.
"Tetapi apa, Cut?" tanya Khaisan dengan tatapan yang hangat. Ingin Cut Ha mengatakan apapun padanya.
"Jika malam ini aku tidak bisa tidur, boleh aku membangunkanmu?" tanya Cut Ha nampak segan. Membalas tatapan hangat Khaisan dengan senyuman yang canggung.
"Tentu saja. Tetapi aku tidak akan tidur malam ini, Cut. Aku akan ke ruang sofa setelah shalat isya." Khaisan menjelaskan dengan terus memandang Cut Ha.
"Lebih baik kamu tidur dan istirahat saja di kamarmu, pengawal Kha." Cut Ha memberi saran dengan menarik diri lebih ke dalam kamar lagi.
"Iya, Cut. Jangan khawatir. Kamu istirahatlah di dalam. Tutup pintunya," ucap Khaisan saat Cut Ha nampak bingung memandangnya.
Pintu yang diambil sekaligus direbut oleh Khaisan, telah ditutupnya. Menghilangkan Cut Ha di dalam kamar. Khaisan menghela nafas panjang sebelum bergeser ke kamarnya di seberang.
πΈ
Di dalam kamar..
Luar biasa galau yang sedang Cut Ha rasakan. Ucapan Khaisan akan namanya sebagai wanita idaman, telah membuat hati di dada terasa panas dingin penasaran. Sebab tanpa ada penjelasan selanjutnya dari Khaisan. Cut Ha merasa berhak untuk mengobati runsing hatinya dengan berbicara pada Khaisan lebih jauh.
Cut Ha memutuskan akan membincangkan hal ini dengan Khaisan malam ini. Tidak lagi peduli di mana akan berbicara. Bahkan jika perlu, akan disusul lelaki itu ke dalam kamarnya sekalipun malam ini. Cut Ha hanya perlu menunggu datangnya dua jam free time Khaisan malam ini.
Satu butir obat pereda nyeri dan satu butir obat penurun demam, baru saja Cut Ha telan dengan mudah. Hanya air putihlah satu-satunya pendorong obat masuk ke dalam perutnya dengan lancar. Cut Ha sangat ingin tidur tenang dari bantuan efek kantuk obat yang sudah ditelan.
Ingin menghempas rasa gundah dan berat kepalanya sejenak. Resah sebab ucapan Khaisan yang seperti sambil lalu namun telah mengguncang ketenangan jiwa dan raga.
Namun, juga merasa sedikit kesal dengan lelaki yang diam-diam telah menghanyutkan hatinya. Khaisan seperti hanya mengulur kail dan umpan tanpa berniat menariknya.
πΈ
Di kamar seberang...
Khaisan baru menyelesaikan shalat malam di awal waktu dua jam free timenya. Niat ingin rebah dan tidur sejenak tidak terkabul sebab matanya seperti mengganjal dan susah terpejam. Berjalan mondar-mandir berkeliling kamar, barangkali rasa ngantuk melanda sebab bosan.
Kamar yang belum ada dua bulan ditempati namun serasa berat ditinggalkan. Ya, pemilik kamar yang dijaga sebentar lagi menikah dan tidak butuh lagi kawalannya. Pemilik kamar, pemilik rumah, juga penyewa jasa kawalannya yang belakangan kerap kali mengganjal di pelupuk mata. Wanita mandiri yang terkadang bersikap manja dan membuat Khaisan berdesir gerah menahan rasa.
Tok! Tok! Tok!
Panjang umur sekali Cut Ha setelah sempat menyapa kepala Khaisan beberapa detik lalu. Kini wanita cantik itu kembali datang mencarinya. Perasaannya berdebar dan berharap agar itu benar Cut Ha yang datang. Khaisan bergegas menghampiri pintu dan akan membukanya. Namun diurungkan sejenak.
Tok! Tok! Tok! Tok!
Khaisan benar-benar sedang menarik gagang pintu setelah bunyi ketukan yang kedua kalinya itu terhenti.
"Cut?" sebut Khaisan. Cut Ha nampak lesu dan sedang berdiri di depan kamarnya. Namun, tetap terlihat cantik dengan pandangan yang sayu.
"Apa ini free time kamu, pengawal Kha?" Cut Ha bertanya sambil memperhatikan Khaisan yang mengenakan kaos santai dan celana pendek selutut. Terlihat lebih muda dan macho. Cut Ha menahan nafas memandangnya.
"Ada apa, Cut?" Khaisan bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang Cut Ha lemparkan.
"Aku terbangun. Jagalah aku,, badanku rasanya tidak enak." Cut Ha memandang Khaisan kian sayu dan berharap.
"Kamu sakit?" Khaisan bertanya sambil mengulur cepat tangannya dan menyentuh dahi Cut Ha. Terasa panas yang tidak seperti biasanya.
"Sudah minum obat, Cut?" Khaisan merasa cemas, Cut Ha hanya memandang sayu sambil mengangguk.
"Tapi kenapa masih sangat panas? Apa sudah waktunya minum obat lagi?" tanya Khaisan dengan cepat.
"Sudah, aku sudah minum yang kedua kali barusaja. Tapi rasanya masih tidak enak sekali," keluh Cut Ha. Khaisan sudah nenurunkan tangan dari dahi Cut Ha.
"Mau makan bubur? Akan kubangunkan Mariah," tanya Khaisan dengan cemas.
"Tidak, aku baru saja makan brownis dan minum susu sebelum minum obat," larang Cut Ha.
"Aku hanya ingin ditemani. Jagalah aku, pengawal Kha," ucap Cut Ha pelan dan lembut. Khaisan mengambil nafas dan menghembusnya dengan pelan.
"Baiklah, Cut. Ayo tidurlah di kamarmu," Khaisan keluar kamar dan berjalan menuju kamar Cut Ha di seberang. Cut Ha pun mengikutinya di belakang.
"Masuk dan tidurlah dengan tenang. Aku tidak akan pergi dari sini," ucap Khaisan lembut di depan pintu kamar Cut Ha.
"Tapi tidak jauh begini. Aku ingin ditemani. Dijaga dekat olehmu," ucap Cut Ha dengan pandangan sayunya. Tangan halus dan lembut yang terasa panas telah memegang bahu Khaisan yang terbuka sebagian.
"Baiklah, Cut. Aku akan menemanimu di dalam sana," ucap Khaisan lirih seperti bimbang.
Bodyguard gagah dan tampan itu berkata sambil memandang ke arah dalam kamar Cut Ha, sangat paham apa yang diinginkan sang tuan. Cut Ha pun segera berjalan ke dalam kamar sambil setengah menarik lengan Khaisan yang besar dan kekar. Kaos tshirt Khaisan berlengan pendek dari bahan kaos super premium yang lembut.
πΈπΈπππΈπΈ