
Cut Ha merasa pelukan Khaisan sangat hangat dan nyaman. Dibalasnya pelukan lembut itu sejenak. Lalu Cut Ha menengadah wajah memandang Khaisan.
"Apakah benar wanita sepertiku yang menjadi pandanganmu? Jawablah jujur, pengawal Kha," kata Cut Ha dengan menyandar kepala kembali di dada lebar Khaisan. Tangannya telah berpindah memegangi tangan Khaisan yang sebelah dan melintang di perutnya.
"Benar itu, Cut. Aku suka wanita sepertimu. Aku menginginkan satu wanita saja yang sepertimu. Kenapa? Kamu akan mencarikannya untukku?" tanya Khaisan yang mulai nampak santai dan mungkin sedang menggoda Cut Ha.
"Tapi kamu tidak menyukai aku?" tanya Cut Ha dengan gemuruh hebat di dadanya.
"Apa ada alasan yang membuatku tidak menyukaimu?" Khaisan mengembalikan pertanyaan.
"Banyak, pengawal Kha. Aku ini adalah perempuan yang buruk sekali," jawab Cut Ha terdengar lirih.
"Apa saja keburukanmu? Seberapa banyak?" tanya Khaisan mendesak.
"Aku sudah tidak virgin," terang Cut Ha dengan menahan rasa tegang.
"Aku sudah tahu. Ada lagi?" tantang Khaisan dengan nada yang tenang.
"Aku mantan perempuan kelam, aku pernah menyimpang dan menjijikkan," terang Cut Ha dengan sedih.
"Aku juga sudah tahu. Ada lagi yang membuatmu susah tidur?" tanya Khaisan mengabaikan.
"Benarkah kamu tidak merasa jijik padaku?" tanya Cut Ha kian sedih.
"Itu dulu, Cut. Kamu sudah kembali sebagai wanita yang baik dan cantik. Apa lagi yang pantas kujijikkan?" Khaisan berbicara jujur pada Cut Ha.
"Apa kamu tidak merasa malu andai memilih wanita sepertiku?" tanya Cut Ha lagi.
"Sama sekali," sahut Khaisan cepat tanpa beban.
"Andai memilliki wanita sepertiku, apa kamu merasa bangga dan tidak sia-sia?" tanya Cut Ha sekali lagi. Khaisan merespon cepat dengan menggeleng.
"Aku merasa bersyukur dan bangga sekali, Cut," tegas Khaisan dengan menyembunyikan sesak sedihnya. Bagaimanapun, Cut Ha sudah memeliki calon suami sekaligus calon istri orang.
"Pengawal Kha, kamu berbohong," ketus Cut Ha tiba-tiba. Menunjukkan wajah sedih dan kecewa. Khaisan merasa kebingungan.
"Aku sama sekali tidak berbohong, Cut. Ucapanku itu benar dan sejujurnya. Aku pun yakin jika calon suamimu, Andres, juga merasa bangga menikahimu," ucap Khaisan membujuk dengan nada dan ucapan yang ditegaskan. Khaisan tidak ingin Cut Ha mengendus gundah hatinya.
"Andai yang menikahiku adalah kamu, apa juga akan merasa bangga, pengawal Kha? Jawablah sejujurnya," tanya Cut Ha dengan wajah amat tegang dan memerah.
"Tentu saja kurasa bangga, Cut. Aku akan sangat bahagia dan bersyukur bisa mendepak Andres dari daftar calon suami kamu," jelas Khaisan dengan tegas dan mungkin Setengah bercanda.
"Benarkah??" tanya Cut Ha dengan mimik serius dan pandangan penuh makna.
"Tentu saja benar dan tidak manipulasi, Cut," tegas Khaisan sekali lagi.
Khaisan terkedu tanpa kata. Pelukannya pada Cut Ha seakan kosong dan seperti terlempar sangat jauh. Sungguh terkejut dan tidak menyangka. Permintaan Cut Ha sangat terdengar serius dan berat baginya.
Khaisan tahu jika Cut Ha tidaklah main-main. Wanita iti sedang menangis terisak di dadanya dengan erat memeluk. Khaisan masih terdiam, berpikir jernih sebelum melanjutkan perbincangan.
"Cut, kamu tidak bermaksud bercanda? Kamu serius? Benar kamu ingin kita menikah?" tanya Khaisan menguatkan diri harus berbicara menanggapi. Malam hampir habis.
"Benar, pengawal Kha. Ingin kita saja yang berjodoh dengan saling menikahi. Kamu sudah bilang tidak keberatan? Nikahilah aku," ucap Cut Ha tersendat dan lirih. Khaisan terus dipeluknya dengan kepala menyandar di dada.
"Cut, bagaimana ini. Kamu sudah akan menikah," gumam Khaisan dengan kepala yang sangat berat.
"Belum terlambat. Ini hanya pertunangan. Hari pass akad saja pun belum, pengawal Kha,," ucap Cut Ha mengiba.
Khaisan terdiam memandang Cut Ha yang tengadah menatap. Mata sembab dengan bulu mata lentik yang berair nampak mengharap dalam sayu. Mengungkap jujur perasaan yang selama ini dipendam. Menyeret niat Khaisan untuk terus melindunginya jiwa dan raga.
"Baiklah Cut, tetapi ini tidak mudah. Tapi aku juga tidak ingin menolakmu, aku juga sangat ingin menikahimu. Tapi saat ini, bukan kamu saja yang akan menikah. Namun, antara keluarga Andres dan keluargamulah yang akan menikah. Banyak orang dari keluargamu dan keluarga Andres yang akan saling menikahi. Dua keluarga pasti sudah menyiapkan segalanya dengan maksimal,"
"Aku pun tidak jauh beda. Posisiku juga sangat sulit. Aku datang sebagai bodyguard untuk mengawalmu dan dikirim oleh instansi keagamaan di Muka Kuning melalui kepala agensiku. Aku mengemban tugas dari mereka, sekaligus membawa nama baik mereka. Sedang ini adalah masa kerjaku yang belum habis waktu kontraknya. Kamu paham kan, Cut?" tanya Khaisan lirih dengan setengah berbisik.
"Aku sangat paham, kamu tidak ingin gegabah. Lalu bagaimana, pengawal Kha? Aku jauh lebih ikhlas menikah denganmu daripada dengan Andres. Pengawal Kha, please,,," ucap Cut Ha terus terang. Sudah disingkirkan jauh-jauh rasa malunya dari pandangan Khaisan. Cut Ha tidak peduli apapun asal Khaisan berusaha menikahinya dengan aman dan resmi.
"Dengar, Cut. Sebab acara tunanganmu adalah lusa malam dan itu sangatlah dekat, jadi besok pagi-pagi akan kujumpai orang tuamu. Akan kubicarakan sesungguhnya dan kuminta dirimu baik-baik pada beliau berdua. Jika orang tuamu memberi lampu hijau, orang tua Andres pun akan kuhadapi sendiri."
"Namun, jika orang tuamu menolakku, entah dengan alasan apapun, kita harus siap menerima, Cut. Harus berjiwa besar dengan lapang dada pada apapun keinginan orang tuamu. Anggap saja kita tidak berjodoh. Kita tidak akan melawan takdir itu. Kamu mengerti, Cut?" tanya Khaisan dengan pelan dan lembut. Tangannya telah berpindah di kepala Cut Ha dan mengusapnya dengan sayang.
"Kenapa pasrah seperti itu? Kenapa kamu tidak mencoba membawaku berlari dan menikah di tempat yang jauh misalnya,,?" protes Cut Ha menengadah memandang Khaisan yang kembali memeluknya.
"Cut dalam agama kita, anak perempuan adalah milik ayahnya. Apa kamu tega, hanya demi untuk menikah denganku, kamu mencoret keberadaan ayahmu dari dunia ini sebelum saatnya? Jika ayahmu ada, dan kamu akan menikah, kamu harus diwalikan ayahmu, Cut. Kecuali kamu mengatakan jika ayahmu sudah meninggal dunia. Atau dengan kasus rumit yang langka," terang Khaisan pada Cut Ha di atas kepalanya.
"Baikllah, pengawal Kha. Terserah denganmu saja. Aku percaya kamu tidak mepermainkanku. Tapi aku benar-benar ingin menikah denganmu saja," Cut Ha mengangguk setuju. Namun, juga berat untuk ikhlas dengan penjelasan Khaisan.
"Akan kuusahakan sepenuh dayaku, Cut. Akupun tidak tahu, wanita mana lagi yang kuinginkan jika ternyata orang tuamu tidak merelakanmu padaku. Rasanya tidak akan ada. Jika pun ada, entah kapan, kurasa akan sangat lama lagi kutemukan."
Khaisan mengeluhkan jalan perasaannya. Rasanya akan jauh lebih sedih andai Cut Ha terus menikah dengan Andres. Sebab antara dirinya dan Cut Ha sudah saling tahu dengan perasaan dan keinginan yang sama. Perpisahan seperti ini pasti akan terasa lebih menyakitkan. Tapi mereka bukan lagi insan egois. Keduanya sudah dewasa, harus bijak memilih mana yang patut diprioritasian demi menjaga nama baik banyak pihak yang terkait.
πΈπΈπππΈπΈ
VOTE, Please...
VOTE, Please...
VOTE, Please... ππ