The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
46. Asisten Wanita



Mommy dan Daddy saling berpandangan sesaat. Kemudian memandang Khaisan yang terkesan jadi bimbang. Namun, tetap paham apa hak Cut Ha sebagai penyewa atas misi kerja Khaisan, bodyguardnya.


"Bossnya Khaisan, momi tahu, ini waktu Khaisan untuk bekerja padamu. Mohon maaf ya. Sebenarnya orang tua Elvira sedang di rumah sakit. Kami ingin menjenguk sebentar. Sekaligus mengenalkan Khaisan pada calon besan kami. Jadi, Khaisan juga harus ikut masuk menemui orang tua Elvira." Mommy menjelaskan dengan segan pada Cut Ha.


"Oh, apa orang tuanya sakit??" tanya Cut Ha pada mommy sambil memandang Elvira.


"Betul, ayahnya sakit kritis. Ingin segera menikahkan anak gadisnya," jelas mommy sambil melirik Elvira di sampingnya.


Cut Ha pun kembali memandang, perempuan itu nampak bermain sendok garpu di piring. Seperti sedang merasa gundah gulana hatinya. Tapi Cut Ha juga beberapa kali memergoki saat Elvira mencuri pandang Khaisan di depannya.


"Iyalah, nyonya. Silahkan Anda membawa bodyguard Kha pada calon besan Anda,," ucap Cut Ha pada mommy. Lalu dipandangnya Khaisan.


"Pengawal Kha. Kutunggu kamu di sini saja . Kamu pergilah berjumpa camermu." Cut Ha memandang Khaisan yang masih diam menyimak.


"Kamu benar-benar tidak keberatan?" tanya Khaisan memastikan.


"Tidak, tidak masalah. Pergilah," jawab Cut Ha dengan yakin.


"Terimakasih, Cut," sahut Khaisan.


"Oh, bossnya Khaisan, kamu sangat pengertian sekali. Pasti orang tuamu pun sangat baik." Mommy Riana berbicara dengan pandangan takjup pada Cut Ha.


"Maaf, apa kak Cut Ha sudah menikah?" sela Elvira bertanya tiba-tiba.


"Aku? Aku sebentar lagi juga akan menikah. Aku sudah memiliki calon suami," Cut Ha tersenyum dengan menjawab pertanyaan Elvira. Meski bibir dan wajahnya sama-sama terasa kaku untuk dilebarkan tiba-tiba, Cut Ha memaksa diri tersenyum.


"Oh, maaf. Terimakasih jawabanmu, kak Cut Ha," sahut Elvara sambil melempar senyum tipis pada Cut Ha.


"Sama-sama, Elvira. Aku pun sebentar lagi juga tidak memakai jasa pengawal Khaisan. Sebab, suamiku sudah menyiapkan seorang asisten pribadi untukku setelah menikah." Cut Ha menambahkan lagi keterangan pada Elvira tanpa diminta. Sangat paham bagaimana perasaan perempuan itu terhadapnya.


"Benarkah seperti itu, Cut?" tanya Khaisan tiba-tiba.


"Iya, pengawal Kha," jawab Cut Ha sambil mengangguk. Wajahnya berekspresi sungguh-sungguh.


"Apa Andres memberimu asisten lelaki?" tanya Khaisan.


"Bukan. Andres memberiku pesan jika asistenku nanti adalah perempuan, bukan lelaki," jelas Cut Ha dengan hanya memandang Khaisan sesekali. Tidak ingin memanasi perasaan Elvira. Sepertinya perempuan itu langsung menyukai sang bodyguard.


"Wah, bagus itu, bosnya Khaisan. Sepertinya calonmu sangat menyukaimu. Takut jika memberi aspri pria, akan jadi bumerang bagi kalian. Dia lelaki yang tanggap dan tegas," puji sang mommy tidak ada henti.


"Aku tidak keberatan, pengawal Kha. Jangan risau, aku akan baik-baik saja meski dengan seorang asisten wanita," ucap Cut Ha perlahan. Ingin meyakinkan keraguan Khaisan akan keadaan dirinya.


"Memangnya kenapa, abang Kha nampak sangat khawatir. Bukankah aspri wanita lebih baik daripada lelaki?" Elvira nampak heran dengan kedua orang antara Cut Ha dan Khaisan yang dimatanya cukup janggal bersikap.


"Iya, Elvira. Betul, aku lupa tantang itu," sahut Khaisan. Nampak abai dengan pandangan Elvira sekaligus tatapan bingung mommy dan daddynya.


"Nyonya, bisakah Anda mempercepat kunjungan ke hospital? Sebab lepas dzuhur nanti, saya ada janji temu dengan seseorang," tanya Cut Ha pada mommy Riana. Beberapa detik lalu ada bunyi pesan masuk ke ponselnya.


"Benarkah? Baiklah, ayolah Elvira, kita berangkat menemui orang tuamu di hospital," ujar Mommy Riana.


"Iya, tante," sahut Elvira. Memandang Khaisan dengan tatap ajakan.


Mommy, daddy, Elvira dan Khaisan hampir bersamaan berdiri. Mereka berjalan menuju ruang tamu kecuali Khaisan.


"Siapa yang akan kamu temui, Cut?" tanya Khaisan terdengar lirih.


"Andres. Dia ingin mengambil pass ukuran jariku," jawab Cut Ha.


"Cincin tunang?" tanya Khaisan. Cut Ha mengangguk.


"Iya," sahut Cut Ha yang masih duduk tenang di kursinya.


"Tunggu sampai aku kembali, Cut. Jika Andres ingin mengambilmu ke sini, jangan mau." Khaisan berpesan dengan tegas.


"Jika satu jam kamu belum kembali, aku pergi," ucap Cut Ha main-main. Hanya ingin menggoda Khaisan.


"Aku akan kembali dengan cepat. Ini kunci pintunya. Kami akan menguncinya dengan sandi dari luar." Khaisan mengulurkan sebiji kunci pada Cut Ha di meja.


"Assalamu'alaikum!" pamit Khaisan bersama lalu perginya.


"Wa'alaikumsalam!" sambut Cut Ha.


Punggung Khaisan telah hilang di balik dinding ruang tamu. Menyisakan Cut Ha seorang diri di ruang makan. Tangannya menyambar sebiji kunci rumah dari Khaisan di meja dan meremasnya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ