The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
60. Khaisan Dan Errushqi



Acara inti tukar cincin sebentar lagi dimulai. Cut Ha tampak resah dengan beberapa kali melihat ke arah pintu masuk. Seseorang yang diundang dan sangat diharap hadir nya belum juga tampak datang. Orang yang disayangi dan sudah lama tidak dijumpai, Cut Ha berdebar dada menunggu.


Senyum tipis palsu yang senantiasa merekah di bibir, seketika terganti dengan senyum lebar yang indah. Begitu girang saat orang yang ditunggu muncul di pintu masuk bagi para undangan. Tidak sabar menunggu hingga orang itu datang menghampiri.


"Cut, selamat. Aku tidak menyangka, tiba-tiba kamu dapat calon suami. Meski aku kecewa, kamu enggak mau ngenalin calon kamu sama aku dulu, tetapi aku sangat bahagia. Selamat, Cut. Semoga acara nikahanmu nanti juga lancar jaya, ya," ucap sang sahabat sambil erat memeluk.


Velingga, wanita cantik itulah yang sedang sangat dirindukan oleh Cut Ha. Tanpa berkata-kata, sang sahabat dipeluk erat dengan menahan tumpah tangis. Ingin sekali bercerita segala yang sedang ditanggung pada Velingga.


"Ling, aku ingin bicara," ucap Cut Ha di pundak Velingga.


"Bicara? Kapan? Bicara apa, Cut? Lihat itu, MCnya nyamperin kita. Waktu tukar cincinmu sekarang tuh. MCnya bawa kotak cincin," balas Velingga di telinga Cut Ha.


"Sorry, aku lambat datang. Mas Rush rapatnya lama. Nanti habis tukar cincin, kita ngobrol panjang. Aku, mas Rush dan anak-anak akan ngambil fasilitasmu, nginep di sini. Sorry lagi, dua mertuaku nggak bisa datang, batuk," ucap Velingga menyambung bicara dan berbisik.


"Iya, Ling," Cut Ha mengangguk tak berdaya.


Pelukan mereka terlepas. MC sudah berkoar-koar di samping Cut Ha untuk datang menjemput. Cut Ha sempat menyalami Errushqi dengan bisu dan tipis tersenyum. Juga menyalam si kembar Erick dan Erlika tanpa memberikan ciuman. Velingga menganggap jika Cut Ha sedang merasa tegang dan juga buru-buru. Biasanya, Cut Ha hingga menggigiti tangan lembut dua kembarnya sebab gemas.


"Mas, jaga bocil-bocil sebentar, ya. Aku ingin mendampingi Cut Ha tukar cincin. Dulu aku pas nikah banyak yang nemenin. Lihat, dia nggak ada," pamit Velingga pada sang suami.


"Tapi aku juga jadi sendirian, Ling," ucap Errushqi merajuk.


"Tega," protes Velingga. Errushqi tersenyum.


"Iyalah, boleh. Tetapi malam ini kasih upah full satu malam," sahut Errushqi lirih dengan tatapan penuh arti.


"Kamu,,, kalo ngasih apa-apa, ujungnya mesum pun ikut dikasih," balas Velingga lirih. Mencium sekilas dua kembar, lalu berjalan cepat meninggalkan Errushqi.


Hot daddy yang tampan itu membawa dua kembar anaknya berjalan mencari meja yang kosong. Tamu yang diundang sangat banyak dan hampir semua meja sudah penuh. Tidak sengaja Errushqi hampir bertabrakan dengan seorang lelaki yang berjalan tergesa.


"Maaf, bang. Saya buru-buru," ucap lelaki itu pada Errushqi.


Nampak akan berjalan lagi. Namun, tertegun sesaat memandang Errushqi. Begitu juga dengan Errushqi, memperhatikan lelaki itu dengan setengah terheran.


"Permisi," pamit lelaki itu dengan berpaling dan berjalan cepat meninggalkan Errushqi. Menyelip ke sebuah pintu yang hampir tidak terlihat. Terletak di balik rumpunan pohon palem.


Errushqi sigap menyambar dua kembar dan menggendongnya. Membawa berjalan cepat untuk menyusul lelaki itu. Melewati pintu dan menyusur lorong lengang yang sama sekali bukan jalan umum. Merasa kenal dengan lelaki itu dan tiba-tiba sangat ingin bersembang.


"Putra!" panggilnya berseru. Yakin jika pria itu adalah Putra, lelaki yang lima tahun lalu pernah dikenalnya. Putra lebih muda dua tahun dari usia Errushqi.


Lelaki itu berbalik, berjalan mendekati Errushqi dan dua anak kembarnya yang digendong. Mereka berdiri dengan saling berhadapan.


"Anda,, Mas Rushqi?" sapa lelaki yang tak lain adalah Khaisan dan disapa Putra oleh Errushqi.


"Betul. Anda apa kabar, mas Putra?" sahut Errushqi nampak canggung menyebut Khaisan.


"Maaf, apa Anda sudah menikah, mas Putra?" tanya Errushqi. Keinginan tahunya pada Khaisan tidak bisa lagi ditutupi.


"Rupanya Anda sangat ingin tahu dengan kehidupanku yang tidak seberuntung Anda, yaaa,,?" Khaisan menjawab masam namun tersenyum cukup lebar. Errushqi pun tersenyum lebar-lebar.


"Kenapa Anda tidak menjumpaiku dan meminta dukunganku agar cepat diberi keberuntungan, Mas Putra, haaa?" Errushqi menyahut dengan senyum masih lebar.


"Sekarang aku sudah berada di hadapanmu. Bagaimana Anda akan mendukungku agar seberuntungmu, haaaah??" balas Khaisan. Nampak tersenyum dengan ekspresi yang muram.


"Ya,,,ya,,ya.. Kudoakan Anda segera bertemu jodohnya!" sahut Errushqi sungguh-sungguh.


"Tetapi seperti itu tidak perlu diburu, mas. Jika sudah masanya, jodoh akan datang sendiri menghampiri," ralat Errushqi sendiri.


"Anda bicara begitu sebab Anda sudah aman. Belum tentu jika Anda di posisi saya," Khaisan balik meralat.


"Begul juga,, haahh!" Errushqi membenarkan sambil tertawa. Khaisan juga tak bisa lagi tak tertawa. Berjumpa dengan Errushqi cukup membuat hatinya terhibur. Sangat tidak disangkanya.


"Ngomong-ngomong, Mas Putra juga berteman dengan Cut Ha?" tanya Errushqi. Merasa heran sebab Putra berada di lokasi para undangan dan memegang kamera yang canggih.


"Betul, masih berteman." Khaisan mengangguk.


"Menginap di sini?" tanya Errushqi.


"Iya, mas. Kebetulan rumah inap ini adalah barang dagangan saya," jelas Khaisan kembali lebar tersenyum. Merasa tidak perlu nenutupi dari Errushqi. Lelaki itu cukup baik dan tidak mengerti apapun tentang Khaisan. Itu membuatnya merasa nyaman berbincang.


"Jadi, Anda pemilik penginapan ini??" tanya Errushqi terkejut. Hot daddy itu bersikap apa adanya, tidak ingin menutupi perasaan takjubnya.


"Benar, mas Errushqi. Apa malam ini anda juga bermalam?" tanya Khaisan dengan ramah.


"Iya, rencana seperti itu. Velingga ingin bernostalgia dengan Cut Ha malam ini. Tapi pekerjaanku di kantor yang kubawa pulang tengah melambai di rumah," sahut Errushqi. Rupanya masih bekerja sebagai manager di perusahaan besar mie instant di kota industri Muka Kuning.


"Kenapa tidak meneruskan usaha orang tuamu saja di kota Nagoya, Mas? Pasti Cut Ha pun akan suka dekat dengan sahabatnya," tanya Khaisan dengan wajah muram tiba-tiba. Errushqi merasa itu cukup janggal.


"Belum saatnya, mas. Saya masih suka berpetualang di lahan orang," jawab Errushqi dengan hangat. Mengabaikan rasa herannya.


"Apa sehari-hari anda tinggal di sini?" tanya Errushqi.


"Aku berpindah-pindah, Mas. Sama sepertimu, belum minat kembali ke ladang milik sendiri," jawab Khaisan tersenyum dengan tipis.


"Jadi malam ini pulang kandang?" tanya Errushqi kembali. Iba dengan Khaisan yang masih sendiri. Lelaki itu belum pernah merasakan betapa nikmat memiliki keluarga dan istri.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ