The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
77. Luluh



Pandangan tajam yang menelisik itu tiba-tiba menunduk. Tidak lagi mendongak, kini justru kembali terisak-isak di dekat Khaisan. Tidak tahan melihatnya, Khaisan pun semakin mendekat dan akan meraih memeluknya. Namun, Cut Ha kembali menolak dan mendorong mundur dada Khaisan yang lebar.


"Jangan pernah mengambil kesempatan," hardik Cut Ha sambil terisak.


"Cut, aku tulus merasa sedih, sangat menyesal, juga merasa sangat rindu. Sebenarnya, aku belum ingin kembali ke sini. Tapi mengetahui namamu ada di acara seperti ini, segera kuputuskan kembali. Aku sangat ingin tahu dan sekarang sangat ingin memelukmu. Percayalah, beri kesempatan padaku untuk membahagiakanmu. Ayolah, Cut."


Khaisan kembali bergerak merapat dan akan memeluk Cut Ha. Namun, lagi-lagi mendapat penolakan keras dan kuat oleh Cut Ha. Pandangannya tajam penuh hardikan pada Khaisan.


"Apa yang kamu lakukan, Khaisan?!" hardik Cut Ha agak panik. Lelaki gagah dan sangat tampan itu tiba-tiba berjongkok di depannya. Lalu dengan cepat membungkuk badan dan bersimpuh di kedua kaki Cut Ha.


"Pergi, lepaskan kakiku!" Seru Cut Ha berusaha menarik kakinya. Namun, lelaki yang sedang bersimpuh itu sudah melingkarkan tangan di kakinya dengan erat.


"Aku akan mengambilmu dari Andres, Cut. Percayalah padaku, berilah dukungan padaku. Kamu harus bahagia dengan pernikahan yang indah. Pernikahanmu ini sudah sangat tidak sehat. Tidak kusangka akan seperti ini akhirnya. Maafkan aku."


"Apa kamu tidak ingin memiliki keturunan dari suamimu sendiri dan bukan dari orang lain? Aku akan menikahimu, Cuy. Kita akan memiliki banyak anak. Percayalah padaku," ucap Khaisan dengan tegas.


Cut Ha menangis kian keras dan tersedu-sedu saat Khaisan menenggelamkan wajah di kakinya. Khaisan sedang mencium kedua kakinya.


"Ini yang kamu ingin kan dulu padaku. Kamu pernah menyumpahiku untuk bersujud di kakimu seperti ini. Sekarang, apa lagi yang kurang, aku harus bagaimana lagi untuk menebus kecewa hatimu padaku, Cut?" tanya Khaisan dengan wajah yang masih tenggelam di kaki Cut Ha yang bersih dan indah.


Cut Ha kian menangis, merasa tersentuh dan tidak tahan lagi untuk terus menunjuk sikap angkuh. Rasanya juga sangat sedih melihat Khaisan sedemikian merendahkan diri dan hatinya seperti itu.


"Sudah, cukup Khaisan. Jangan seperti ini, bangunlah." Cut Ha menarik narik kakinya menjauh.


Khaisan pun mendongak dan perlahan berdiri. Duduk kembali di samping Cut Ha dengan dekat.


"Berpisahlah dengan Andres. Aku selalu di sampingmu," ucap Khaisan.


Kembali mencoba mendekati Cut Ha dan meraih bahunya. Tidak lagi mendapat tolak dan dorongan, Khaisan segera membawa Cut Ha ke dada dan dipeluk eratnya. Kini lelaki itu seperti sedang bermimpi saja rasanya.


Bukan tidak pernah berhayal dan juga berangan. Namun, kenyataan menyentuh lagi wanita yang dicinta yang sekarang kembali nyata dalam pelukannya, serasa mimpi dan seperti hal yang tak mungkin. Kebahagian yang tak terkata-kata lah yang kini sedang Khaisan rasakan.


"Cut, aku rindu. Maafkan aku, Cut." Khaisan memeluk erat Cut Ha dengan perasaan yang bercampur baur.


Tidak disangka, lelaki yang membuatnya bernano rasa antara marah, kecewa, sakit sekaligus selalu rindu, tiba-tiba hadir di depan mata malam ini. Namun, Cut Ha tidak lupa pada jurang pernikahan yang telah membatasi dirinya sangat dalam dengan Khaisan.


"Andres tidak mungkin menceraikanku," keluh Cut Ha dalam dekapan Khaisan.


"Bukan Andres yang menceraikan, tetapi kamu menggugat cerai Andres," bisik Khaisan tegas di puncak kepala Cut Ha.


"Dengan alasan apa aku harus menggugat. Aku sangat malu jika memakai alasan itu. Aku malu berhadapan dengan para petugas di pengadilan. Mereka akan melihat wajahku sambil memikirkan alasan gugatan ceraiku. Mereka tertawa dalam hati, menertawakanku. Aku tidak sanggup. Malu sekali, Khaisan.."


Cut Ha berbicara yang tiba-tiba tangannya membalas pelukan Khaisan dengan erat. Khaisan merasa seperti mengawang saja seketika. Semangat agar Cut Ha cepat berpisah dengan Andres semakin menggebu.


"Bukankah dia sudah mengantarmu ke sini? Itu sama dengan suami yang gila, sedang suamimu tidak mau melepasmu. Dia adalah suami yang tidak waras. Jangan takut, aku selalu di sampingmu, Cut." Khaisan berkata dengan lembut.


"Tapii,, aku tidak ingin menyentuh agenda gelap ini. Pasti acara ini akan ikut terseret jika kupakai sebagai alasan pemberat gugat ceraiku pada Andres," ucap Cut Ha mengeluh.


Cut Ha menenggelamkan wajah di dada Khaisan yang lebar dan hangat. Aromanya khas dan wangi, masih sama dengan aroma Khaisan dua tahun yang lalu. Yang jelas, Cut Ha sedang menghirup nafas dalam di dada Khaisan berulang kali tanpa merasa puas sekarang.


"Iya, Cut. Baiklah, aku mengerti apa yang menjadi penghalang alasan berceraimu. Sementara ini jangan berpikir hal berat itu. Aku hanya ingin kamu merasa senang dan aman dengan kedatanganku kembali ke sini. Kamu tidak sendirian lagi, ada aku sekarang yang sangat mengerti rumah tanggamu. Juga mencari cara bagaimana agar kamu cepat berpisah dengan suamimu," bujuk Khaisan.


Mendadak Cut Ha mencengkeram punggung Khaisan dengan erat. Juga mendongakkan wajah menyelidiknya pada Khaisan.


"Apa kamu berniat menemui Andres?" tanya Cut Ha tampak cemas.


"Tentu saja, aku ingin berbincang dengan Andres," sahut Khaisan tegas.


"Jangan! Jangan sengaja menemuinya. Dia sangat tidak menyukaimu. Aku risau jika dia akan cemburu denganmu. Dia,, dia pasti akan meniduriku dengan caranya sendiri. Aku sangat tersiksa, aku sangat tersiksa, aku tidak ingin lagi, Khaisan,," terang Cut Ha seperti merengek. Wanita itu sudah mulai bertingkah manja lagi pada bekas bodyguardnya dua tahun yang lalu. Luluh sudah rasa amarah, benci atau rasa kecewanya pada Khaisan.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


Vote ya,,,, please. Terimakasih..