The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
23. Pendapat Menggantung



Perjalanan pulang terasa lengang tanpa sepatah kata pun obrolan. Khaisan sangat fokus dengan lajur jalan pilihannya meski nampak santai menyandar dengan hanya sebelah tangan di kemudi.


Cut Ha sesekali melirik sang pengawal yang nampak beku meski memang seperti itu gaya yang disukanya. Namun terus diam juga sangat terasa membosankan. Cut Ha sangat tidak menyukai situasi seperti ini.


"Pengawal, Kha. Apa kamu mendengar perbincangan kami tadi?" tanya Cut Ha untuk mengusir hening yang terasa sangat membosankan.


Khaisan menoleh dan melirik wajah cantik itu sekilas. Kemudian kepalanya mengangguk satu kali.


"Kenapa?" tanya Khaisan merespon dengan tanyanya.


"Apa menurut kamu Andres adalah lelaki baik?" tanya Cut Ha dengan menoleh dan memandang Khaisan seksama. Seolah komentar dan pendapat Khaisan sangatlah penting baginya.


"Kamu ingin penilaianku?" tanya Khaisan dengan mata tetap memandang ke jalanan.


"Iya, pengawal Kha. Apa pendapatmu tentang pria tadi?" tanya Cut Ha mendesak.


"Sepertinya dia lelaki yang menghormati orang tua. Tapi sepertinya juga sedikit tidak jujur," sahut Khaisan memberikan pendapatnya tanpa rasa segan. Cut Ha memandang Khaisan dengan mata kian lebar.


"Apa contoh yang bagimu tidak jujur darinya?" tnya Cut Ha kian tertarik. Tapi tidak ada kesal pada ucapannya. Justru ingin mendengar pendapat Khaisan lebih jauh lagi.


"Aku tidak bisa menjelaskan, Cut. Hanya perasaan sesama lelaki," sahut Khaisan dengan sedikit tersenyum.


"Huh,,, lain kali lebih baik tidak usah berpendapat. Komentarmu tidak valid," ujar Cut Ha merasa kesal sendiri. Kecewa dengan pendapat Khaisan yang cukup mengejutkan, namun menggantung.


"Jangan peduli dengan komentarku, Cut. Anggap saja angin topan yang baru berlalu." Khaisan merasa bingung dengan Cut Ha yang terlihat kecewa.


"Mana bisa seperti itu," ucap Cut Ha bersungut.


"Baiklah, tadi kamu bilang akan mengatakan tantang keadaanmu pada Andres? Jika pria itu menerimamu apa adanya, anggaplah dia pria terbaik bagimu. Lupakan saja pendapatku," ucap Khaisan berusaha membujuk.


"Ah, sudahlah. Aku ingin bertanya yang lain denganmu," ucap Cut Ha tanpa memandang Khaisan.


"Tentang apa itu, Cut?" Khaisan pun bertanya cepat tanpa menoleh. Sedang ada truk besar yang tiba-tiba menyelipnya di kanan.


"Apa kamu sebagai pria, memilih wanita yang bersih tanpa noda untuk diperistri?" tanya Cut Ha dengan membuang pandangan ke depan.


Khaisah menolehnya sejenak. Mencengkeram roda kemudi dengan kedua tangannya.


"Maksudmu?" tanya Cut Ha merasa kurang paham. Baginya jawaban Khaisan terlalu berbelit.


Cut Ha memandang menunggu. Tapi Khaisan enggan bersuara lagi. Lelaki itu bungkam dengan mengacuhkan pertanyaan Cut Ha yang tadi. Tidak berniat lagi memperjelas maksud apa yang tadi dikatakannya pada Cut Ha.


Cut Ha mendengus, kembali merasa jengah. Khaisan tidak hanya sekali mengatakan sesuatu dengan menggantung. Tidak memperjelas lagi atau sedikit lebih mencerahkan. Rasanya kesal, tapi juga tidak bisa dipaksa, apalagi disalahkan.


"Cut, kamu mengaku sudah ternoda,, lalu siapa yang sudah menodai kamu? Kamu pernah bersama lelaki?" tanya Khaisan tiba-tiba.


"Bukan urusanmu," sahut Cut Ha cepat. Seperti membalas rasa kesal hatinya.


Cut Ha terdiam menunduk dengan tidak bersuara, wanita itu tidak ingin menerangkan. Itu adalah aib dan urusan pribadinya. Apalagi sikap Khaisan masih mengesalkan perasaannya.


πŸ•Έ


Wanita cantik itu baru keluar dari kamar dan hampir bersamaan dengan Khaisan yang juga baru menutup pintu kamarnya dari luar. Cut Ha memandang sambil berlalu pergi menuju ruang sofa.


"Cut," panggil Khaisan saat Cut Ha baru saja meletak pantat indahnya di sofa.


Cut Ha menoleh setelah merasa duduk dengan sangat baik di sofa. Memandang Khaisan dengan maksud bertanya tanpa berkata-kata. Perasaan Cut Ha masih belum kembali baik semula.


"Manager home stay, Felix, temanku, siang nanti akan datang berkunjung ke tokomu. Kuharap kamu sudi nenyambut dia saat datang." Khaisan menjelaskan maksudnya dengan berdiri di samping Cut Ha. Wanita itu baru menyalakan televisi pagi ini. Sedang menonton program siaran berita pagi seputar Indonesia pilihannya.


"Kupikir tidak jadi. Lama sekali, ini hampir satu bulan.." Cut Ha sambil melihat tanggal di layar ponsel smartnya. Ada raut tidak suka di wajahnya.


"Atas nama home stay Te Ka, aku minta maaf. Hampir setiap hari hujan, pembangunan agak terhambat. Jadi, bukan maksud mereka pe ha pe kamu, Cut," ucap Khaisan dengan nada yang canggung. Mengira jika ekspresi mendung di wajah Cut Ha sebab kesal akan pesanan barang yang ditunda cukup lama.


"Eh, sebetulnya tidak masalah. Ini hal biasa dalam jual beli. Lagipula yang beli di tempatku juga tanpa putus. Tidak apa-apa, pengawal Kha," ucap Cut Ha buru-buru meralat. Rasanya juga jadi segan pada Khaisan.


"Terimakasih, Cut Ha. Layanilah orang dari home stay te ka dengan baik," ujar Khaisan pada Cut Ha.


"Tentu saja," sahut Cut Ha menyambar ucapan Khaisan dengan cepat. Namun wajah itu nampak tegang dengan raut yang berat.


Mereka berbicara dengan tidak saling berhadapan. Wajah mereka sama-sama tidak bisa terlihat. Cut Ha masih duduk tegak di sofa tanpa menyandar, sedang Khaisan juga terus berdiri saja di sampingnya. Mereka berbicara dengan menunduk dan mendongak.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ