
Khaisan terdiam sejenak. Errushqi barusan bertanya, apakah dirinya malam ini menginap di home stay ataukah tidak. Khaisan merasa tidak ada manfaatnya berbohong.
"Iya, mas. Mungkin setelah Cut Ha selesai menyewa tempat ini, aku akan merantau ke Jepang," jelas Khaisan dengan wajah yang kembali nampak muram.
"Apa Cut Ha jadi menikah besok?" tanya Errushqi. Mengamati raut Khaisan yang tampan, tetapi nampak mendung dan resah.
"Benar. Acara mereka hingga besok malam dan sebagian berlanjut menginap hingga lusa pagi," jelas Khaisan dengan membuang tatapan ke samping. Membuang pandangan dari Errushqi. Tiba-tiba kembali memandang Errushqi.
"Mas Rushqi, sepertinya aku harus segera pamit. Maaf aku harus menyudahi percakapan kita. Salam buat istri Anda. Silahkan bawa anak-anak Anda ke meja jamuan, barangkali mereka merasa lapar," ucap Khaisan dengan sopan.
"Di mana Anda menginap, mas Putra?" tanya Errushqi sebelum berbalik.
"Di ujung lorong, mas," sahut Khaisan yang masih berdiri di tempatnya.
"Baiklah, senang berjumpa dengan Anda. Jika bertemu harap sapalah saya, Mas putra. Assalamu'alaikum!" Errushqi memberi pesan sebelum benar-benar berbalik dan berjalan sambil menggendong.
"Sama-sama, Mas! Wa'alaikumsalam!" sahut Khaisan dan ikut berbalik. Berjalan cepat menuju ujung lorong.
Keduanya berjalan maju dan tidak lagi saling menoleh. Sama-sama ingin menuju pintu yang terletak di tempat berlawanan.
Acara pertunangan telah usai beberapa menit yang lalu. Para undangan hampir semua sedang menikmati makanan di meja jamuan masing-masing.
Errushqi mendapat lambaian tangan dari pak Latif saat mengedar pandangan. Segera diturunkan dua kembar dan diarahkan agar mendekati meja lelaki tua yang melambai mereka. Ada juga nyonya Latif yang duduk di meja yang sama.
Mantan calon menantu dan mantan calon mertua itu saling bersapa kabar. Errushqi juga menyampaikan pada pasangan Latif permintaan maaf dari orang tuanya yang terpaksa tidak memenuhi undangan sebab sedang sakit. Orang tua Errushqi adalah rekan baik pak Latif. Yang kedua pihak orang tua itu pernah terlibat dalam perjodohan Cut Ha dan Errushqi.
Dua kembar mulai merengek dan merajuk mencari sang ibu. Errushqi mengedar pandangan mencari di mana Velingga yang sama sekali tidak terlihat. Bersamaan dengan calon pengantin yang juga tidak standby di tempat. Errushqi bahkan belum menyalami calon suami dari Cut Ha.
"Apa kamu mencari istrimu, Rush?" tanya pak Latif.
"Eh, betul, pak Latif. Apa anda melihatnya?" tanya Errushqi sambil mengambilkan puding yang diinginkan dua kembarnya.
"Cut Ha meminta diantar ke toilet di kamarnya. Sudah cukup lama, pasti sebentar lagi kembali," jelas pak Latif menenangkan.
"Iya, pak. Saya juga sudah mengirimi istri saya pesan." Errushqi mengiyakan. Kembali mengisi puding di piring milik Erick yang sudah kosong sangat cepat. Anak lelaki ternyata sangat lapar. Sedang gadis kecilnya, Erlika, nampak tidak fokus dan memandang sekeliling. Mencari sang ibu yang tak kunjung datang ke meja.
"Maaf, Om. Apa Cut Ha belum kembali?" sapa lelaki yang datang di samping Errushqi. Dia adalah Andres.
"Apa kamu jemput di kamar? Cut Ha sedang bersama Velingga ke kamar mandi," terang pak Latif pada Andres.
Moment itu di manfaatkan Errushqi untuk menyalam dan mengucap selamat. Abai dengan sikap Andres yang sombong padanya. Meskipun tidak kenal, seharusnya setiap orang yang datang adalah tamunya yang wajib disapa.
Andres telah pergi untuk menjemput Cut Ha di kamar. Ingin dibawa dan dikenalkan pada beberapa rekan di meja yang belum sampat saling bersapa. Rasanya tidak pantas jika tidak dengan Cut Ha bersamanya.
πΈ
Di kamar calon pengantin wanita..
Velingga sibuk menambal dan merias wajah Cut Ha yang sedikit berantakan sebab puas menangis. Namun, Cut Ha merasa lega setelah menceritakan sebagian derita hatinya pada Velingga.
"Sudah, sabar dulu ya, Cut. Kita sudah sangat lama di kamar. Ini tidak pantas, seharusnya calon wanita harus selalu nampak di antara para undangan. Mendampingi calon suamimu." Velingga sambil berbicara saat tangannya berusaha mengembalikan kesempurnaan riasan. Cut Ha menolak saat Velingga ingin memanggil tim riasnya di luar.
"Bodyguard kamu itu sudah rela melepaskan kamu. Dihubungi aja nggak bisa, nomor nggak pernah aktif. Dia nggak sekalipun muncul di depanmu. Itu artinya, dia nggak ingin lagi ketemu. Ingin kamu fokus saja sama nikahanmu," kata Velingga lagi.
"Tapi aku sangaaaat ingin bertemu. Satu kali saja. Aku akan berdoa sepanjang malam ini agar ada keajaiban." Cut Ha menyahut perkataan Velingga.
"Ya, semoga bodyguardmu yang luar biasa itu datang ke mimpimu malam ini," ucap Velingga menimpali.
"Cut, kamu sudah bercerita segalanya tentang kisahmu dengan bodyguardmu. Tapi aku tidak tahu namanya, kamu tidak sekalipun menyebut. Siapa namanya, Cut?" tanya Velingga sambil mengoles lipstik di bibir Cut Ha yang sensual.
"Ayo bilang, siapa namanya, Cut. Aku ingin tahu," bujuk Velingga. Lipstik itu direnggangkan, memberi peluang agar Cut Ha menyebutkan nama sang bodyguard. Tetapi Cut Ha terus merapat bibir dan memejam rekat matanya.
Tok! Tok! Tok! Tok!
Cut Ha membuka mata seketika. Mata sembabnya sedikit melebar. Saling berpandang tegang dengan Velingga.
"Cut Ha!" panggil seseorang di luar sangat sayup terdengar.
"Andres??"
"Andres??"
Cut Ha dan Velingga bersamaan menyebutkan nama yang sama.
"Siapa nama bodyguard mu, Cut??" Velingga memandang Cut Ha dengan penuh desakan. Abai sebentar dengan Andres di luar.
"Ratakan lipstickku, Ling," pinta Cut Ha dengan gelisah.
"Tidak, sebut dulu nama orang yang sudah kamu cinta setengah dunia dan setengah lautan itu, Cut," pinta Velingga membujuk dengan lirih
Tok! Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu kembali meresahkan.
"Rapikan lipstick di bibirku, Ling," ulang Cut Ha meminta.
"Sebut nama lelaki istimewa itu, Cut," ulang Velingga mendesak.
"Rapikan dulu," ucap Cut Ha.
"Tidak," sahut Velingga menolak.
"Jika kukatakan sekarang, kamu pasti tidak akan sempurna merapikan olesan lipstick di bibirku. Rapikan dulu. Habis itu kubilang namanya," ucap Cut Ha sungguh-sungguh.
"Buka sedikit bibirmu," ucap Velingga akur mengarahkan. Yakin jika Cut Ha tidak akan berkhianat. Bibir cantik itu telah terbuka sedikit.
Velingga lekas mengoles dan merapikan lipstick di bibir Cut Ha dengan sabar hingga terbentuk sempurna dan indah.
"Perfect, Cut. Katakan sekarang," ucap Velingga menagih janji.
Tok! Tok! Tok! Tok!
"Cut," tegur Velingga saat Cut Ha masih diam dan menoleh ke pintu.
"Terrraputra Khaisan."
Cut Ha menyebut nama sang bodyguard sambil memandang Velingga sekilas. Merasa tidak sanggup melihat reaksi Velingga. Gegas melangkah menuju pintu dan membuka kunci pintu kamar.
πΈπΈπππΈπΈ
Yang belum ngasih vote, VOTE dooong...ππ