
Khaisan menunggu Cut Ha keluar dari kamar mandi dengan wajah gelisah. Duduk menyandar sofa dan menaikkan kaki panjangnya di meja.
Segera berdiri saat Cut Ha akan mendekat menghampiri. Wajah cantik itu berlapis air sebab baru membasuh muka. Mereka bertatapan sejenak dan kemudian tersenyum.
"Maaf, Cut. Sebelum kita benar-benar khilaf, aku harus segera kembali ke kamarku," ucap Khaisan tetapi tersenyum.
"Apa aku murahan?" tanya Cut Ha memandang Khaisan.
" Tentu saja tidak, kamu sangat mahal tidak terkira, Cut. Aku tidak akan berani benar- benar menyentuhmu sebelum aku menikahimu," sahut Khaisa dengan jelas. Cut Ha pun tampak lega dengan jawabannya.
"Aku akan keluar sekarang, Cut. Doakan urusan ini segera beres, dan kita bisa mempercepat pernikahan," ucap Khaisan dengan senyum.
"Tapi setelah aku cerai, kita pun juga harus menunggu sebulan lebih untuk menikah, lamaaa.." Cut Ha mengeluh dengan manja.
"Itu sudah peraturan, yakinlah itu berlalu tidak lama," ucap Khaisan menenangkan dan tersenyum. Ditepuk-tepuknya pelan pundak Cut Ha.
"Baiklah, pergi saja. Kuharap tidak terjadi hal buruk denganmu. Semoga semua berjalan dengan lancar." Cut Ha menangkap tangan Khaisan dan diturunkan. Rela agar Khaisan berlalu segera. Berharap lelaki itu juga segera kembali.
Meski rasanya tak ingin berpisah sedetik saja, tetapi sadar jika mereka belum ada ikatan. Khaisan berlalu pergi dan keluar kamar dengan cepat.
πΈ
Pagi sekali Khaisan sudah menyusuri jalanan Batam Raya. Menuju hotel bintang lima Big Star di pusat kota besar Nagoya. Ingin menemui dengan terus terang pasangan sesat Andres dan Phillips secepatnya.
Khaisan telah memesan kamar dengan fasilitas khusus yang sudah disiapkan untuknya. Yakni alat monitoring tangkapan kamera CCTV. Pemantau kondisi luar kamar yang sedang digunakan mereka berdua menginap. Khaisan akan terus menunggu hingga dua orang itu tampak keluar dari kamar.
Setelah bersantai tetapi tegang, dua orang yang sedang diawasi keluar juga dari kamar. Khaisan siaga memantau bersama CCTV dengan lokasi yang berbeda. Risau jika mereka akan chek out dengan cepat dan dirinya kehilangan.
Kesiagaannya melonggar saat dipastikan jika dua sejoli sesat itu sedang menuju restoran hotel yang berada di lantai satu. Khaisan segera menyiapkan diri untuk menjumpai mereka di sana.
Restoran dua lantai itu cukup menyulitkan Khaisan untuk menemui tempat duduk Andres dan Philips dengan cepat. Namun, pantauan CCTV yang juga terhubung di ponsel pintarnya, sekali lagi benar-benar membantu. Khaisan merasa bersyukur telah berkawan baik dengan pemilik hotel ini.
"Selamat siang, Andres," sapa Khaisan. Posisi dua sejoli itu telah benar-benar dihadapinya.
Andres dan Philips bersamaan menoleh Khaisan. Mereka memandang heran pada pria yang menyapa, tetapi merasa tidak kenal.
"Siapa, kamu?" tanya Andres. Memperhatikan Khaisan dengan raut terheran.
"Aku Khaisan, kuharap kau tidak lupa padaku Andres," sahut Khaisan dengan suara yang tegas dan berat. Andres tertegun sejenak, kemudian tampak terkejut.
"Kau, Khaisan?" tanya Andres. Bahkan punggung itu hingga maju ke depan memperhatikan penampilan Khaisan seksama. Memang benar, pria sangat tampan itu memang Khaisan. Lelaki yang diam-diam sempat dipujanya.
"Iya, aku Khaisan. Bekas pengawal Cut Hanah," kata Khaisan tanpa ekspresi.
"Ada apa kau muncul di depanku?" tanya Andres dengan sorot mata dingin.
"Aku ingin membicarakan masalah penting denganmu," sahut Khaisan.
"Tentang apa?" tanya Andres dengan cepat, sangat tampak tidak suka.
"Apa kursi di sebelahmu itu tidak kosong?" tanya Khaisan menunjuk kursi kosong dengan pandangan.
"Duduklah," sahut Andres datar. Kursi itu segera terisi oleh bodi besar Khaisan.
"Masalah serius yang ingin kubincangkan denganmu adalah mengenai Cut Hanah," ujar Khaisan dengan tenang. Wajah Andres tampak tegang mendengarnya.
"Masalah Cut Ha? Apa hakmu membicarakan istri orang? Aku suaminya," ucap Andres tajam.
"Aku berhak. Sebab aku merelakannya untuk menikah denganmu. Namun, kau tidak pernah mampu membuatnya bahagia," ucap Khaisan dengan lebih tajam. Matanya memandang antara Andres dan Philips bergantian. Philips hanya terus menyimak dengan menatap dingin Khaisan.
"Kenapa tidak? Aku melakukannya demi wanita yang selalu kucintai. Aku tidak bisa membiarkannya terus menangis di samping pria tidak waras sepertimu," ucap Khaisan dengan tajam.
"Keterlaluan kau, Khaisan. Apa maksudmu??" tanya Andres dengan muka merah padamnya.
"Aku sudah tahu jika kau ini pria gay, Andres. Dia adalah pasanganmu, benar?" Khaisan memandang Philips dengan picingan matanya.
Andres terdiam, tidak lagi menyambar dengan sahutan geramnya. Tidak mengingkari jika Philips adalah pasangan yang memang selalu dipujanya.
"Lalu, apa tujuanmu??" tanya Andres.
"Bercerailah dengan Cut Hanah. Kalian bercerailah, bebaskan Cut Ha dari pernikahan gilamu. Aku akan segera menikah dengannya," ucap Khaisan tajam.
"Kau pikir siapa dirimu? Sehebat apa kau ini hingga berani menyuruhku bercerai?!" tanya Andres menahan emosi.
"Aku memang tidak hebat. Namun, kau telah mengantar Cut Ha padaku. Kau lelaki gila yang sudah mengantar istrimu ke tempat prostitusi. Kau tahu, aku telah meminjam identitas Theo Jayakarta untuk bisa menghabiskan malam dengan Cut Ha. Sekarang, Cut Ha sedang berada di tanganku. Kau telah memasrahkan Cut Ha padaku agar bisa mengandung seorang anak," ucap Khaisan dengan tajam.
"Kauu?? Bangsat!" maki Andres tidak tahan.
"Andria, jaga sikapmu!" hardik Philips menegur Andres.
"Akan kuambil istriku sekarang juga!" seru Andres. Tampak mengeluarkan ponsel dari saku kemeja dan menghubungi seseorang.
"Jemput istriku dari penginapan Te Ka. Secepatnya!"
Andres tampak emosi pada panggilannya di telepon. Ponsel itu dia letak di meja dengan sangat kasar.
"Andres, Cut Ha sudah terlalu lama tidak bahagia bersamamu. Lepaskan Cut Ha, bercerailah. Jika tidak,," ucap Khaisan. Sengaja menggantung ucapannya.
"Lanjutlah bicaramu!" seru Andres geram pada Khaisan.
"Kumiliki rekaman percakapanmu yang menjijikkan dengan Theo di rumah makan penginapan Te Ka. Kurasa akan sangat malu rasanya jika rekaman itu sampai di telinga mertuamu atau orang tuamu sendiri," ucap Khaisan. Memandang tajam pada Andres yang tampak merah padam mukanya.
"Aku juga merekam saat kau akui bahwa kau tidak suka jika aku dan Cut Ha bersama. Sebab kenapa,,, kurasa kau akan malu jika kukatakan di depannya, Andres," ucap Khaisan lagi sambil memandang Philips yang masih duduk diam di kursinya.
"Kau lihat sendiri akibatnya, Khaisan," ucap Andres dengan kasar dan datar. Mungkin sedang merasa jika kartu ASnya sudah dalam genggaman Khaisan.
"Kutunggu paling lambat dua belas jam kabar cerai darimu, Andres. Aku sangat siap meluncur mengunjungi mertuamu dan orang tuamu bersama Cut Ha," ucap Khaisan mengintimisasi.
"Jika itu sampai kau lakukan, kau akan lenyap dari muka bumi, Khaisan!" seru Andres.
"Maka bercerailah." Khaisan yang sudah berdiri tidak peduli lagi. Bergeser menjauhi kursi dan berjalan cepat meninggalkan restoran. Sempat juga terlihat saat Philips menghembus nafas dengan rautnya yang kaku.
Setiba dalam kamar khusus, Khaisan kembali memeriksa siaran CCTV dengan latar restoran yang barusan. Mereka berdua, Andres dan Philips sedang makan sajian di meja dengan sangat cepat. Seperti ada sesuatu yang mereka coba akan kejar.
Setelah mengembalikan kamar spesial itu pada pemilik hotel secara panggilan, Khaisan meninggalkannya dan check out sebagai formalitas. Khaisan tidak membayar satu dollar pun di resepsionis. Namun, membagikan uang tip pada dua petugas wanita penyambut tamu itu dan seorang lagi security.
Langkah Khaisan yang panjang, berayun cepat menuju latar parkir hotel yang cukup jauh dari lobi. Matahari di langit Batam sangat terik siang ini. Meski jalan menuju latar parkir sudah beratap, tetapi panasnya sangat terasa menyengat.
Rasanya sungguh lega saat Khaisan sudah mencapai mobil miliknya. Segera diambilnya kunci mobil dari saku celana. Dibukanya pintu dengan buru-bura.
Detak laju di jantung serasa putus mendadak, belum sempat menghempas pantat di busa jok, tengkuknya tiba-tiba dipukul sangat keras. Kepalanya amat berat dan kesadarannya melayang dengan cepat.
Namun, sempat merasa saat sebuah tangan mendorong kasar untuk duduk di kursi kemudinya. Khaisan tidak menduga akan mendapat serangan dari belakang mendadak. Serangan seperti itu adalah penyerang pengecut dan sangat tidak terpuji.
πΈπΈπππΈπΈ