
Sayup langkah mendekat yang bersepatu menghentak kesadaran Khaisan. Langkah itu kian dekat dan kini berhenti sama sekali. Saat Khaisan bersusah payah membuka mata, wajahnya serasa ditampar dan dingin. Seseorang telah menyiram wajah Khaisan dengan kasar. Namun, dengan cepat mata itu telah dibukanya sempurna.
"Bangun." Seseorang yang berdiri menjulang di sampingnya berbicara. Khaisan paham jika dirinya sedang rebah terlentang di lantai. Bahkan lantai di sekitar kepalanya telah basah. Namun, sebelah tangannya tidak bisa bergerak leluasa. Rupanya, sebuah rantai besi membelenggu di tangan kanannya.
Khaisan telah berdiri tegak dengan susah, kesadarannya belum pulih seluruhnya. Kepalanya terasa nyeri dengan efek sedikit berputar.
"Buka mulutmu," Suara lelaki dengan dingin. Khaisan tidak menggubris, tidak mengerti apa maksud ucapan lelaki itu.
"Buka mulutmu!!" hardiknya lebih keras.
Khaisan melihat lelaki bermasker dan berkacamata hitam itu membentang telapak tangan dan ada sebutir pil di sana. Yang segera dikenalinya sebagai mefenamic acid alias zat pereda nyeri aktif.
"Telan!" ucap lelaki bermasker. Telah melempar butir pil itu saat Khaisan baru membuka sedikit mulutnya. Namun, pil itu telah bersarang tepat dengan mudah.
"Berikan aku air," pinta Khaisan. Lelaki itu mengulur tangan dan memegangi rahang Khaisan. Tangannya sangat halus dan hangat. Bahkan beraroma segar dan wangi.
Paham apa maksud lelaki itu, ingin agar Khaisan menelan butir pil tanpa setetespun dengan air. Malas bermasalah, Khaisan pun akur dan segera melakukannya, meski rasa mulutnya sangat kering dan serik. Lelaki itu melepas rahangnya, tetapi dengan sengaja telah menyentuh dan mengusap sekilas bibir merah Khaisan dengan ujung jempol tangannya.
"Siapa kau?" tanya Khaisan dengan memicing pada lelaki berkacamata. Begitu gelap kaca itu hingga tak mampu ditembusi matanya.
"Tidak usah bertanya. Kau hanya perlu bersyukur masih bernafas hingga detik ini. Berterimakasihlah padaku," ucap lelaki itu cukup panjang. Berbicara sangat dekat di wajah Khaisan.
"Kau Philips?" tanya Khaisan menebak. Rasanya sangat yakin jika lelaki dengan kulit tangan halus itu adalah Philips.
"Simpan prasangkamu, kau hanya perlu menuruti keinginanku," ucap lelaki itu berbisik dan dingin.
"Untuk apa kau bawa aku seperti ini ke tempatmu?" tanya Khaisan menjauhkan diri dan wajahnya ke belakang.
"Aku tidak berniat membawamu. Hanya kau bersyukurlah, sebab aku, kau masih berkesempatan membuka matamu," ucap lelak itu.
"Jelaskanlah padaku!" seru Khaisan. Sebab lelaki itu berjalan menjauh. Tidak menggubris ucapan Khaisan dan telah menutup pintu dengan membanting.
Khaisan tidak habis pikir dengan apa yang sedang terjadi padanya. Siapa dalang yang berniat mencelakainya? Andreskah..
Ternyata sebuah kursi mewah dan berbusa tebal yang empuk telah ada di belakangnya. Khaisan menghenyak di sana. Merasa jika kepalanya telah terasa ringan seketika. Yakin jika mefenamic acid yang diminumnya memiliki dosis sangat tinggi. Tubuh dan kepalanya terasa segar sempurna.
Ceklerk
Seorang pria tua masuk membawa trolley meja ke dalam dan berhenti tepat di samping Khaisan. Mengunci roda dan menurunkan ketinggian trolley sebatas perut Khaisan saat duduk. Lelaki itu membuka kembali kunci roda dan lebih didekatkannya pada Khaisan.
"Anda posisikan sebaik mungkin," ucap pria tua itu dengan sopan.
Khaisan yakin jika pria tua itu adalah bagian dari asistrn rumah yang bertugas melayaninya. Merasa jika dia tidak ada urusan, segera dilakukan apa yang pria itu katakan.
"Apakah Philips sendirian dalam rumah ini?" tanya Khaisan. Mencoba menebak akan kebenaran siapa lelaki bermasker dan berkacamata barusan.
"Di rumah ini Anda sendirian. Namun, ada banyak anak-anak di rumah utama di bangunan depan," ucap pria tua itu. Jawabannya tidak sesuai harapan Khaisan. Meski menyiratkan kebenaran bahwa memang Philips lelaki bermasker tadi.
Lelaki itu berbalik pergi setelah berpesan akan kembali mengemasi trolley makanannya tiga puluh menit kemudian. Kini tinggal Khaisan yang tengah memandangi makanan lezat itu dengan enggan.
Dihempaskannya ragu saat ingat jika dirinya perlu banyak tenaga sewaktu-waktu. Tidak ingin lemah hanya sebab kekurangan makanan yang masuk ke dalam perut. Sedang makanan pun tidak kurang-kurang diberikan kepadanya.
Pria tua benar-benar datang setengah jam kemudian. Tepat saat Khaisan selesai dengan teguk air dari gelasnya yang terakhir.
"Bagus sekali. Anda mau menghabiskannya," ucap pria tua itu sambil memandang Khaisan. Ada senyum terbit di wajah berkeriputnya.
"Anda mirip dengan tuan, bukan saja wajahnya, tetapi selera makanpun hampir sama. Tuan akan banyak makan dalam situasi buruk sekali pun. Terimakasih," ucap si pria tua. Telah mulai mendorong trolley unyuk berlalu dari Khaisan.
"Apa tuanmu, Philips sedang tidak di rumah ini?" tanya Khaisan mencoba mengorek.
Pria itu berhenti, panggung tuanya tampak bimbang berjalan. Kemudian menoleh pada Khaisan.
"Tuan sedang tidak di rumah ini. Hanya sayalah yang ada. Kuharap Anda tidak membuat masalah yang merepotkan. Juga membuat saya terpaksa bertindak hal yang tidak sepatutnya." Pria itu segera berbalik dan kembali mendorong trolley.
"Bagaimana aku akan pergi ke toilet?!" seru Khaisan bertanya. Pria tua yang hampir menutup pintu pun memandang.
"Anda operasikan saja sofa itu! Ada tombolnya di samping!" Pria itu manyahut berseru dari pintu. Kemudian melanjutkan menutupnya dengan rapat.
Benar saja, tombol di samping sandaran itu berfungsi. Tempat duduk itu membelah lebar dan terbuka saat Khaisan menekan tombol hijaunya.
Khaisan cukup terpukau sejenak. Merasa Philips memang sungguh kaya. Sofa elegant yang nyaman itu menyimpan perlengkapan urgent kamar mandi. Ada water closed sangat modern dan juga wastafel dengan aliran air yang higienis. Spray sanitasi anti bakteri, sikat gigi baru hingga tisu basah higienis anti bakteri pun tersedia dan tertanam di sana. Segera ditekannya tombol merah agar kembali menutup. Khaisan belum berniat menggunakannya.
Khaisan tidak pernah mandi, sebab memang tidak diberi kesempatan sekali pun. Hanya dari dalam sofa itulah kebutuhan airnya terpenuhi. Kecuali air minum, pria tua itu tidak lupa melayani.
Sudah melewati dua malam Khaisan dikurung disana. Diperlakukan sama dengan baik oleh si pria tua. Tidur nyaman di sofa yang empuk dan sangatlah nyaman. Khaisan merasa sebagai sandra yang dimanja.
Khaisan mencoba terus bersabar dan menahan diri untuk tidak melakukan apapun. Sebab sangat ingin tahu dengan tuntas, siapa lelaki itu dengan jelas dan untuk apa dirinya disekap.
Bahkan ponsel miliknya yang ternyata ada di atas ranjang, banyak kali berdering hingga benar-benar mati akhirnya. Pria tua itu menolak tegas mengambilkan untuk Khaisan. Hanya bersedia membacakan jika pemanggil adalah Cut Ha, Theo, Mommi, dan pak Yusuf, sahabat tuanya di masjid. Mereka menghubungi silih berganti.
Khaisan mengeraskan hati agar tidak merasa goyah dan sedih. Hanya terus berharap dan berdoa agar Cut Ha terus aman dan bertahan di penginapan. Yakin jika dirinya pun pasti selamat dengan jawaban terang dari rasa ingin tahunya.
πΈπΈπππΈπΈ