
Demi menuruti keinginan Cut Ha yang menginginkan dirinya berenang dengan bermacam gaya, Khaisan mulai melepasi baju yang melekat. Bukan di kamar atau pun di dalam kamar mandi. Namun, langsung di tepi kolam dan abai pada Cut Ha yang mungkin sedang melihatnya.
Khaisan yang selalu memakai kaos singlet putih dan celana pendek kecil itu tidak lagi bingung kostum. Setelah membuka celana panjang dan kemeja panjangnya, Khaisan menceburkan diri ke kolam tanpa ragu. Menenggelamkan badan bagusnya beberapa saat di dalam air.
Khaisan telah menyembul dan langsung mempraktikkan berenang gaya bebas. Gaya renang paling cepat dalam melewati jarak tempuh. Gaya renang dengan teknik melayang telungkup dan menggerakkan tangan bergantian searah jarum jam itu terlihat sangat bagus dilakukan Khaisan. Begitu cepat, hingga beberapa kali bolak balik di sepanjang kolam renang.
Gaya renang lanjutan Khaisan adalah gaya renang kupu-kupu. Juga dengan melayang telungkup dan meluruskan dua lengan tangan melewati kepala dan memutarnya bersamaan. Khaisan pun melakukan dengan cepat dan terlatih. Bolak balik beberapa kali di sepanjang kolam renang.
Gaya renang berikutnya adalah gaya punggung. Gerakan tangan sama dengan gaya bebas, tetapi dengan tubuh berbaring terlentang. Ini adalah gaya renang yang dianjurkan dokter demi mengatasi keluhan berbagai macam sakit punggung pada pasien.
Khaisan kembali mengubah gaya renangnya menjadi gaya dada atau juga gaya katak. Gerakan dengan melayang tengkurap dan wajah menghadap ke bawah di air. Ini adalah gaya renang yang sering diajarkan pada para perenang pemula.
Khaisan tahu jika Cut Ha tidak terlalu memperhatikan dirinya berenang sejak awal. Wanita cantik itu justru terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya. Khaisan menduga jika Cut Ha sedang asyik berbalas pesan dengan Andres.
Merasa sudah cukup lama berada dalam air, Khaisan menyudahi renangnya dan keluar dari kolam. Gerakannya cepat dan gesit seperti ringan tanpa beban. Kini berjalan mendekati Cut Ha dengan setengah diam-diam.
Tetapi Cut Ha nampak gugup dan menyimpan ponselnya dengan cepat. Wanita itu menyadari kedatangan Khaisan meski tanpa memandang. Yang kemudian telah berdiri dan menyambut Khaisan.
"Kenapa sudah? Itu masih empat gaya saja pengawal Kha. Melihatmu lihai berenang seperti itu, aku yakin kamu menguasai teknik renang setidaknya tujuh gaya." Cut Ha berbicara sangat yakin dan sungguh-sungguh. Seperti sangat paham dengan yang dilakukannya.
Khaisan tentu saja terheran. Sangat yakin jika Cut Ha hanya asyik dengan ponselnya sejak awal. Cut Ha tidak memperhatikannya di kolam renang. Hanya merasa bahwa itu juga kebutuhan jasmaninya, Khaisan terus melanjutkan renang cukup lama hingga banyak gaya. Meskipun Cut Ha nampak tidak memperhatikan renangnya.
"Pinjam ponselmu, Cut," kata Khaisan dengan tegas. Merasa curiga pada sesuatu yang kemungkinan Cut Ha memang melakukannya tanpa izin.
"Untuk apa? Tidak ada pesan ataupun panggilan asing yang masuk, kecuali dari Andres, pengawal Kha." Cut Ha berbicara buru-buru dan terkesan agak gugup. Khaisan merasa kian yakin dan curiga.
"Berikan padaku sebentar, Cut. Atau ingin aku merebut paksa darimu??" tanya Khaisan sungguh-sungguh.
"Tidak mau," tolak Cut Ha akan ucapan Khaisan.
"Akan kurebut paksa," ancam Khaisan sungguh-sungguh. Tidak biasanya Cut Ha kukuh menyimpan isi ponsel darinya.
"Jangan," ucap Cut Ha lirih memohon.
Khaisan dengan cepat telah mengunci pinggang Cut Ha dan memasukkan tangan ke saku dress gamisnya.
"Tunggu pengawal, Kha. Kuambilkan sendiri untukmu. Tanganmu ini, aku sangat geli!" pekik Cut Ha menegur Khaisan. Merasa tangan Khaisan terlalu dalam masuk ke dalam saku gamis.
Khaisan memang sudah menarik tangan dari dalam saku gamis. Namun, tetap mengunci Cut Ha dan tidak melepasnya. Sebab wanita yang dipeluk pun tidak meminta dilepaskan.
"Ini," kata Cut Ha sambil mengulur ponsel pada Khaisan di belakang.
Khaisan menyambar dan membuka layar ponsel dengan disaksikan juga oleh Cut Ha. Segera membuka menu video seperti kata hatinya. Benar yang diduga, Cut Ha telah membuat rekaman video selama dirinya berenang.
"Kamu merekamku? Apa langsung melihatku sekali saja tidak puas?" tanya Khaisan di kepala Cut Ha.
"Aku ini cepat lupa, pengawal Kha. Apa kamu keberatan videomu kusimpan? Hapus saja jika begitu," sahut Cut Ha dengan berusaha kembali santai. Merasa bahwa Khaisan akan terus menggoda jika dirinya nampak gugup.
"Aku tidak keberatan. Simpanlah, semoga videoku itu bermanfaat untuk kehidupanmu di masa depan. Kuharap kamu selalu sehat dan terus nampak cantik jika kita tak sengaja berjumpa, Cut." Ucap Khaisan dengan dalam.
"Terimakasih dengan pengertianmu, pengawal Kha. Sekarang, tolong lepaskan aku. Rasanya mulai dingin dan sesak," keluh Cut Ha pada Khaisan yang masih melingkarkan lengan pada pinggang rampingnya.
Khaisan pun segari menarik tangan dan menjauhkan diri dari Cut Ha. sadar jika dirinya masih berbaju basah kuyup. Tidak ingin gamis Cut Ha menjadi ikut basah yang lalu masuk angin.
Telepon masuk di ponsel Cut Ha kembali berdering. Membuat Khaisan tersadar sempurna akan tugas dan posisinya. Teringat dengan petuah pak Yusuf agar jangan lupa jaga diri. Khaisan merasa jika dirinya mulai khilaf kembali kali ini. Tidak memungkiri jika Cut Ha adalah medan magnit yang sangat kuat dan bisa dibilang menyesatkan baginya.
"Aku mandi dan tukar baju sebentar di kamar. Apa sekarang kamu sudah bisa mengangkat telpon Andres?" tanya Khaisan sebelum menjauh dan menuju kamarnya. Lelaki itu telah berdiri di depan Cut Ha.
"Iya, akan kuangkat telepon ini," jawab Cut Ha mengangguk nampak kikuk.
Cut Ha berusaha abai dengan tampilan Khaisan yang kelewat meresahkan. Mungkin lelaki itu tidak menyadari bagaimana keadaan dirinya. Meskipun lelaki, andai Khaisan sadar, mungkin dia itu akan malu dan menutupi bagian depan tubuhnya yang sedang menonjol dengan barang pelindung apapun.
πΈπΈπππΈπΈ